Nurhadi dan Oncil, Onthel yang Cinta Lingkungan

Berawal dari keprihatikan banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan, anggota Komunitas Sepeda Onthel Indonesia (Kosti) melengkapi sepedanya dengan keranjang sampah. Bahkan di bagian depan onthel ada papan bertuliskan Patroli Kebersihan.

Ide membawa keranjang sampah tersebut muncul dari Nurhadi, 52 tahun, yang juga menjabat sebagai Ketua Kosti Kota Malang.  “Awalnya saya diajak teman melihat kegiatan Onthel di Blitar. Saat itu saya prihatin, karena usai kegiatan, sampah berserakan dimana-mana,’’ kata Hadi mengawali cerita.
Rasa prihatin tersebut terkenang hingga dirinya pulang ke rumah. Ia lalu mencari cara dan ide tentang mengatasi sampah saat ada gelar kegiatan. Dua hari berfikir, Hadi pun menemukan ide cemerlang. Dimulai dengan membentuk komunitas Oncil. “Oncil itu singkatan dari Onthel Cinta Lingkungan,’’ jelasnya.
Hadi mengakui belum memiliki sepeda onthel saat membentuk Oncil. Tapi karena ingin memberikan edukasi tentang kesadaran membuang sampah, ayah dari Fitriya Vidya Nurinda inipun rela merogoh kocek untuk membeli sepeda onthel.
Begitu sepeda onthel masuk rumahnya,  Hadi mulai berkreasi.  Dia membeli dua tempat sampah ukuran sedang kemudian meletakkannya di sisi samping bagian belakang sepeda. Awalnya dua tempat sampah ini hanya diikat tanpa ditutup. Ya, itu cukup memudahkan orang untuk tahu keberadaan tempat sampah. Karena begitu sepeda diparkir, orang yang kebetulan lewat akan sadar dan membuang sampah di sana.
Namun saat dipraktekkan, terlihat kotor sekali. Maklum, tidak semua sampah yang dibuang warga adalah sampah kering. Banyak warga membuang sampah basah dan mencampurnya dengan sampah kering sehingga memberi kesan jorok.
“Saya kemudian kembali mencari ide, mendesain tempat sampah ini agar tidak terlihat kotor dan jorok,’’ tambah ayah dari Achmad Anasrullah ini. Dengan membuka-buka internet dan sedikit berkreasti, akhirnya terciptalah sebuah softcase tempat sampah yang pas untuk diletakkan di sepeda onthelnya.  Softcase tempat sampah terbuat dari kain dijahit dengan sangat kuat. Selain didesain sesuai bentuk tempat sampah, softcase ini juga diberi gambar sehingga terlihat lebih menarik.
“Kalau pas ditutup kan tidak ada yang mengira itu tempat sampah,’’ katanya. Softcase itu dibuka, jika parkir untuk memudahkan orang melihat bahwa properti di bagian samping belakang sepeda onthel adalah tempat sampah.
Desain itu cukup menarik anggota Oncil. Selanjutnya mereka pun membuat softcase yang sama dan meletakkan di sepedanya. Namanya softcase, benda tersebut portable dan bisa dilepas jika ingin. Tapi namanya saja pecinta lingkungan yang ingin terus menjaga kebersihan, anggota Oncil pun memilih untuk membuat softcase paten di sepedanya. “Dilepas kalau  sampahnya sudah penuh dan dibuang di tempat sampah,’’ urainya.
Hadi mengatakan, dengan adanya tempat sampah ini, setiap usai gelaran kegiatan, dia dan anggota Oncil tidak langsung pulang. Mereka membersihkan area tempat digelarnya kegiatan. Sampah-sampah dibuang di tempat sampah yang ada di sepeda kemudian mereka membuangnya di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang ditemui saat ngonthel.
Hadi dan kawan-kawannya tidak hanya melakukan aktivitas bersih-bersih di Kota Malang saja, tapi juga di kota lain. Bahkan karena keaktivannya itulah, Oncil Kota Malang dapat penghargaan dan menjadi icon Kosti Jawa Timur. “Ya harapan kita adalah memberikan edukasi dan menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kebersihan. Kalau lingkungannya bersih kan terlihat indah kan sedap dipandang mata,’’ katanya.
Pria yang kesehariannya menjabat sebagai Ketua RW07 Kelurahan Kauman ini pun mengaku bangga, karena ide melengkapi sepeda dengan tempat sampah tersebut banyak diapresiasi orang. Terlebih, wilayah–wilayah lain juga banyak yang mengikuti. “Kalau semuanya sadar dengan kebersihan dan mencintai lingkungan kan enak,’’ tambahnya.
Saat ini Hadi tidak hanya memiliki satu softcase untuk tempat sampah di sepedanya, tapi ada beberapa lagi lainnya. “Karena sifatnya portable bisa bongkar pasang jadi ya punya beberapa yang dipakai bergantian,’’ urai pria yang saat ini memiliki koleksi sembilan sepeda onthel tersebut.
Setiap hari, Hadi selalu menyempatkan ngothel. Kalaupun tidak dengan komunitasnya, dia tidak malu ngonthel sendirian. Nurhadi juga mengaku tidak segan berhenti, saat melihat ada sampah dan memungutnya. Selain tempat sampah, Nurhadi juga membawa sapu lidi dan serok untuk sampah. (ira ravika/han)