Arkeolog dan KJJM Beri Sinau Sejarah Gratis ke Siswa SD dan SMP

TANGGAL 14 Desember, telah diusulkan sebagai peringatan Hari Sejarah Nasional. Sebagai upaya mendesak pemerintah agar mengesahkan moment itu, sejumlah pemerhati sejarah melakukan aksi positif di seluruh Indonesia. Di Kabupaten Malang, Komunitas Jelajah Jejak Malang (KJJM), mengajak anak-anak untuk “Sinau Sejarah” di Candi Singosari dan Arca Dwarapa, Minggu (13/12/2015) kemarin.

Suasana Candi Singosari pagi kemarin, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan anak-anak memadati situs peninggalan Kerajaan Singhasai tersebut. Canda tawa dan riuh keceriaan terpancar dari anak-anak yang masih duduk di bangku SD dan SMP tersebut. Kedatangan mereka ke tempat itu, memang untuk belajar sejarah yang diadakan Jelajah Jejak Malang.
Meski saat itu panas menyengat, tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk mempelajari sejarah Candi Singosari. Namanya anak-anak, banyak tingkah laku yang ditunjukan saat itu. Ada yang bercanda dengan sesamanya, ada yang tertawa dan ada pula yang serius memperhatikan maupun mencatat materi “Sinau Sejarah” yang disampaikan.
Tekad dan kemauan anak-anak untuk belajar sejarah Candi Singosari yang patut diapresiasi. Di sisi lain, pemateri dari Komunitas Jelajah Jejak Malang, Devan, tengah asyik mendongengi anak-anak. Saat itu, dia menceritakan sejarah berdirinya Candi Singasari tersebut.
“Candi Singasari ini, identik dengan cerita antara Ken Arok dan Ken Dedes. Saat itu, untuk mendapatkan Ken Dedes, Ken Arok harus membunuh suaminya Tunggul Amentung,” terang Devan bercerita kepada anak-anak.
Karena cerita yang disampaikan menarik, anak-anak itupun semakin serius menyimak cerita yang disampaikan.
Tidak lama berselang, Arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), M. Dwi Cahyono datang ke lokasi. Kedatangannya, juga memberikan pengetahuan sejarah bagi anak-anak.  Mengenakan kemeja kotak-kotak dan topi, dia siap menyampaikan materi sejarah yang menarik.
Acaranya ini pun, idenya memang datang dari Dwi, sapaan akrabnya. Dwi bersemangat sekali, tangan kanannya, menenteng megaphone, sebagai tanda siap bercerita sejarah lewat pengeras suara. Sebelum memberikan ilmunya, dia menyempatkan diri mengambil foto aktivitas anak-anak yang berada di tempat tersebut. Apalagi pembelajaran sejarah anak-anak ini, merupakan momen yang layak diabadikan.
Saat itu, Dwi Cahyono lebih fokus mengulas kondisi arsitektur Candi Singosari yang juga memiliki cerita sejarah yang menarik. “Pembangunan Candi Singosari ini dengan cara menumpuk batu andesit hingga ketinggian tertentu. Kemudian diteruskan dengan dilakukan pengukiran dari atas baru turun kebawah,” ujarnya.
Cerita dari Dwi Cahyono ini, seperti menghipnotis anak-anak. Semulanya anak-anak ada yang ramai sendiri, lebih memperhatikan cerita dari Dwi Cahyono. Selanjutnya, dia menunjukkan peninggalan lainnya yang adai di sekitar candi.
Di halaman Candi Singosari juga terdapat beberapa arca yang sebagian besar dalam keadaan rusak atau belum selesai dibuat. Anak-anak juga dibekali, teori untuk mengenal relung (bilik) pada candi sekte Syiwa.
“Candi sekte Syiwa selalu memiliki empat relung utama, bilik di sisi utara biasanya untuk Arca Durga, di sisi timur untuk Ganesya, sisi selatan untuk Agastya,” urainya.
Khusus Candi Singosari, di relung utama atau garbhagriha diapit dua bilik kecil, untuk arca Mahakala dan Nandiswara. Sedangkan relung utama ditempati lingga yoni. “Sayangnya Arca Durga sekarang ada di Museum Leiden Belanda, sedangkan Arca Ganesya ada di museum nasional Thailand, dulu jadi cindera mata era kolonial,” terangnya.
Anak-anak pun manggut-manggut, sebagian ada yang berbisik “eman kok dibawa ke Belanda ya,”. Yang tersisa hanya arca Agastya, kondisinya tak utuh. Kata Dwi, andaikan utuh pasti dibawa juga ke Belanda.
Setelah mengajak anak-anak naik ke relung candi. Dwi juga mengajak mereka ke tempat Arca Dwarapala yang terletak tidak jauh dari Candi Singosari, dengan berjalan kaki.
Dua arca Dwarapala atau raksasa penjaga gerbang, dalam ukuran yang sangat besar. Konon berat masing-masing arca mencapai berat 40 ton, tingginya mencapai 3,7 m, sedangkan lingkar tubuh terbesar mencapai 3,8 m.
“Arca Dwarapala ini salah satu arca yang besar diantaranya arca lainnya yang ditemukan di Jawa Timur,” imbuhnya.
Menurutnya, arca ini juga mempunyai arti penting bagi Candi Singasari. “Arti arca Dwarapala ini merupakan penjaga pintu, Dari kata Dwara memiliki arti penjaga dan Pala memiliki arti pintu,” katanya merinci.
Dia pun menceritakan secara rinci keberadaan arca Dwarapala itu dan juga Candi Singasari. “Jadi, anak-anak harus cinta kepada sejarah. Karena di Kabupaten Malang ini, banyak peninggalan bersejarah,” tuturnya.
Menurutnya, yang dilakukan ini merupakan momentum tepat untuk mendesak pemerintah menggedok Hari Sejarah Nasional.
“Pemerhati dan pecinta sejarah di seluruh Indonesia telah sepakat untuk membuat aneka ragam kegiatan positif yang tujuan mendesak pemerintah segera mengesahkan Hari Sejarah Nasional,” tegasnya.
Dia menyebut seperti di Jakarta dan kota yang mengadakan kegiatan jelajah tempat sejarah. Sedangkan di Sidoarjo, ada Seminar Sejarah.
“Untuk di Jakarta, memang baru mengadakan kegiatan besok (hari ini) tepat dengan pencanangan Hari sejarah Nasional,” imbuhnya.
Melalui kegiatan semacam ini, dia mengharapkan supaya Hari sejarah Nasional segera digedok. Selain itu, semakin menumbuhkembangkan cinta sejarah sejak dini.
“Menumbuh kembangkan rasa cinta terhadap sejarah, harus sejak dini,” tegasnya. Sementara itu, koordinator Komunitas Jelajah Jejak Malang, Restu Respati mengatakan, semua kegiatan ini gratis. Lantaran tujuannya mulia dan bersifat sosial, yakni mengajak anak-anak untuk semakin cinta terhadap sejarah.
“Kegiatan ini, memang baru pertama kali diadakan. Ke depannya, kami akan mengadakannya secara rutin, tepat peringatan Hari Sejarah Nasional,” kata dia. Selanjutnya dia berharap, melalui kegiatan ini akan semakin menumbuhkembangkan kecintaan anak-anak terhadap sejarah, khususnya sejarah di Kabupaten Malang. (Binar Gumilang/ary)