Tiga Siswa MTs Negeri Batu Juara 1 Karya Ilmiah Tingkat Provinsi

Prestasi membanggakan ditorehkan oleh para siswa siswa MTs Negeri Batu, yakni Amanda Fharadita O. R, Dava Satria Buana, Rahadyan Azka, N. R.  Mereka meraih juara 1 dalam ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) jenjang MTs tingkat Provinsi Jawa Timur Tahun 2015 di Surabaya. Tema yang mereka angkat adalah tentang eksistansi bantengan di kalangan remaja Kota Batu.


Para siswa MTs Negeri Batu, berhasil menyingkirkan 38 peserta dari kabupaten/kota se-Jawa Timur. Sebelum berhasil meraih juara 1 LKTI Tingkat Propinsi Jawa Timur, mereka terlebih dahulu melakukan proses seleksi secara bertahap di tingkat sekolah. Dari LKTI tingkat sekolah, yakni Amanda Fharadita O. R, Dava Satria Buana, Rahadyan Azka, N. R mendapat nilai terbaik.
Lomba karya ilmiah tingkat kota mereka, berhasil menyingkirkan empat peserta dari madrasah yang ada di Kota Batu. Seleksi kota hanya diambil perwakilan juara 1 untuk diikutikan di Tingkat Provinsi Jawa Timur yang diadakan di Surabaya.
Mereka yang berprestasi ini, mengirimkan proposal karya ilmiah yang mengangkat tema Eksistensi Bantengan di Kalangan Remaja Kota Batu. Pada LKTI tingkat Provinsi Jawa Timur hanya diambil enam terbaik. Dalam pengumuman MTsN Batu lolos LKTI tingkat provinsi.
Alasan memilih tema kesenian bantengan, Amanda sapaaan akrabnya ini menjelaskan memang seni tradisional bantengan merupakan sebuah seni pertunjukan budaya tradisi Batu. Seni yang menggabungkan unsur seni tari, musik, dan syair, mantra yang sangat kental dengan nuansa magis atau mistis.
“Saya dan teman-teman tertarik ingin meneliti kesenian bantengan yang marak di kalangan remaja di Kota Batu, yang diambil dari segi keseniannya yang ditonjolkan bukan dari segi mistisnya,” terang dia pada Malang Post saat ditemui di sekolahnya.
Sehingga, masyarakat bisa tahu dan paham bahwa kesenian bantengan tidak bisa dihubungkan dengan hal-hal yang berbau mistis. Memang kemajuan zaman kesenian bantengan kini, telah mengalami perkembangan yang pesat.
Terlihat mulai anak kecil sampai orang dewasa sudah hafal menirukan gaya pada kesenian tersebut. Biasanya  bantengan diikut sertakan pada pawai perayaan hari kemerdekaan, hajatan, selamatan desa dan suroan.
“Akhirnya saya meneliti menggunakan angket dengan melibatkan padepokan Gunung Ukir Desa Torongrejo Kota Batu yang mempelajari kesenian bantengan tersebut,” akunya.
Berdasarkan diagram penelitian selama tiga bulan tercatat, bahwa sebanyak 50 persen, setiap sanggar masyarakat mengikuti kesenian bantengan, 40 persen masyarakat bisa jadi mengikuti bantengan, 10 persen tidak mengakui.
Selain itu, kesenian bantengan merupakan salah satu kesenian budaya lokal yang diminati oleh para remaja di Kota Batu. Untuk mendukung pelestarian kesenian bantengan dibutuhkan regenerasi secara berkesinambungan, kepada generasi yang lebih muda.
“Tujuan penelitian ingin mengetahui seberapa besar eksistensi kesenian bantengan di kalangan remaja di Kota Batu,” katanya.
Ketika LKTI yang diadakan di Surabaya, dari enam peserta ini, penelitian hasil karya ilmiah mereka sangat bagus sekali. Persyaratan lomba ini, peserta mempresentasikan hasil karyanya dan memperagakan menggunakan media.
Tim penilai LKTI dari Kemenag Propinsi Jawa Timur, mereka menilai dari cara memprestasikan, intonasi nada, materi, ini penulisan, dan media yang digunakan.
“Peserta diberi waktu selama 15 menit, pertama saya presentasi karya ilmiahnya, kemudian Dava Satria Buana, Rahadyan Azka memperagakan kesenian bantengan,” paparnya.
Setelah selesai presentasi dan peragakan kesenian bantengan, tim penilai malah kagum dengan aksi penampilannya. Sebab, menurut juri apa yang selama ia lihat di pertunjukan bantengan itu, orang kesurupan.
Bahkan juri mengatakan, ternyata kesenian bantengan kalau dinikmati, dan mengambil dai sisi keseniannya sangat indah sekali. Sebab kesenian ini, menyatukan antara kesenian tarian, dan musik khas Jawa.
“Selesai presentasi, juri mengumumkan bahwa Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) Bidang IPS, Tingkat Provinsi Jawa Timur 2015, jatuh pada MTs Negeri Batu. kelompok saya dan guru pendamping sangat senang setengah mati. Kali pertama ikut dan kali pertama juga mendapat juara,” ungkapnya.
Guru Pendamping MTs Negeri Batu, Diah Ambarumi menambahkan awalnya dari anak-anak ada tiga tema yakni pengaruh gadget di kalangan MTs se-Kota Batu, terkait pro dan kontra pesugihan di Gunung Kawi, dan eksistensi kesenian bantengan di kalangan remaja Kota Batu.
“Dari tiga tema yang dipilih juri, eksistensi kesenian bantengan di kalangan remaja Kota Batu. Padahal, kami lebih cenderung tentang tema pesugihan di Gunung Kawi. Ternyata, Alhamdulillah tema kesenian bantengan yang lebih baik dan menjadi juara,” pungkas Diah.
Ke depannya pihak sekolah akan terus meningkatkan dan mempertahankan prestasi juara ini, sebagai tolak ukur kemampuan siswa-siswi di MTs Negeri Batu.(Imam Syafii/ary)