Wulan Mustikasi SST. Tenaga Kesehatan Teladan Kota Malang

Pengalaman memperjuangkan keselamatan sang anak yang telah divonis berumur tidak panjang jadi pijakan karir bagi Wulan Mustikasari SST.  Tekadnya bulat dalam menjalani profesi dan mengabdi pada masyarakat sebagai tenaga kesehatan.

Hal itu juga menjadikannya sebagai satu-satunya peraih penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan di Puskesmas Tingkat Kota Malang untuk Kategori Tenaga Keperawatan. Penghargaan diapresiasi langsung oleh Wali Kota Malang pada 3 Desember 2015 di peringatan Hari Kesehatan Nasional.
“Pengalaman saya dalam memperjuangkan anak pertama saya yang divonis tidak akan berumur panjang karena gagal organ itu lah yang membuat saya berkomitmen untuk membantu masyarakat dan mengabdi sebagai tenaga kesehatan,” ujar wanita yang akrab disapa Wulan ini saat ditemui di kediamannya di Perumahan Gadang Mandiri Lowokdoro, Minggu (6/12).
Perasaan tidak karuan muncul ketika kali pertama putra pertamanya yang masih berumur satu tahun itu didiagnosa mengalami infeksi bakteri yang menyebabkan kegagalan sistem organ. Pada saat itu, ia melanjutkan, dokter sudah memvonis bahwa umur putranya yang bernama Muhammad Rafah Putra Wiranto tidak akan lama lagi.
Wanita asli Malang ini kemudian menuturkan, saat menerima kabar buruk tersebut ia tidak mau mempercayainya. Penolakan akan kenyataan yang diberikan padanya ditolaknya mentah-mentah, sehingga membuat ibu dua anak ini mencari jalan lain dalam menyembuhkan putranya, Rafah.
“Saya tidak percaya bahwa anak saya tidak bisa disembuhkan. Saya tidak akan pasrah dengan kenyatan tersebut, berbagai pengobatan alternatif dan berbagai macam terapi saya berikan pada anak saya. Apapun yang dapat menyembuhkan anak saya, saya jalani,” tutur wanita kelahiran 1984 ini.
Benar saja, setelah melakukan berbagai pengobatan alternatif dan terapi, Rafah dinyatakan sembuh dari diagnosa gagal organ. Wulan kemudian menerangkan, saat ini Rafah dapat melakukan aktivitas selayak anak seumurnya.
Menurut Wulan, hal tersebut dapat terjadi karena kasih seorang ibu yang tidak akan pernah menyerah untuk kesembuhan anaknya sendiri. Selain itu, percaya dan berdoa merupakan kunci kesembuhan putranya yang sekarang sudah berumur 6 tahun itu.
“Pemikiran saya ini lah yang harus saya tularkan kepada para ibu-ibu yang bernasib sama. Masih banyak di luar sana, para orang tua yang membutuhkan motivasi agar tidak menyerah untuk memperjuangkan anak mereka yang mengalami penyakit yang dirasa tidak dapat disembuhkan,” paparnya.
Wanita yang juga meraih penghargaan Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Paramedis Tingkat Provinsi pada tahun 2009 ini juga mengungkapkan situasi kesehatan anak saat ini semakin merisaukan.
Banyak angka kejadian anak dengan kelainan pertumbuhan seperti autis dan down syndrome masih mendapat perhatian minim. Hal ini bahkan datang dari lingkup keluarga sendiri yang merasa jika kelainan pada anak tidak dapat disembuhkan.
“Melihat hal itu dan dengan pengalaman saya dalam menyembuhkan anak saya tadi. Saya memutuskan untuk lebih mendalami profesi saya di bidang poli kesehatan ibu dan anak. Di mana, saya menemukan banyak orang tua yang bernasib sama seperti saya dulu dengan anak saya,” imbuh wanita yang hobi membaca ini.
Ia melanjutkan, kebetulan saya saat ini bertugas di Puskesmas Cisadea. Di puskesmas inilah, Wulan mulai aktif dalam mengikuti perkumpulan orang tua yang memiliki anak yang mengalami kelainan perkembangan.
Menurut Wulan, penghargaan yang ia dapatkan tersebut bukanlah semata-mata menunjukkan bahwa dirinya berhasil membuktikan diri sebagai tenaga kesehatan teladan. Melainkan, penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi besar bagi dirinya untuk lebih meningkatkan kinerjanya agar lebih inovatif sehingga dapat membantu lebih banyak orang lagi.
“Hal yang paling membuat saya sedih adalah ketika saya dan kawan-kawan medis tidak dapat menyelamatkan pasien yang kami tangani,” ucapnya sambil menundukkan muka.
Ia kemudian melanjutkan, saat ini angka kematian ibu dalam proses persalinan semakin meningkat di Malang, begitu pula dengan angka kematian bayi. Bahkan, ia berujar tingkat kematian bayi di Kota Malang adalah yang tertinggi di Jawa Timur.
Wanita beraksen halus ini juga menuturkan, data yang ia miliki mengenai angka kematian bayi se- Kota Malang telah tercatat sebanyak 13 ribu bayi. Menurutnya, hal tersebut anyak dikarenakan oleh ketidakpedulian masyarakat terhadap kesehatan.
Pola hidup dan kebersihan sangatlah menentukan kesehatan ibu hamil dan bayi yang mereka kandung, lanjutnya. Ia menegaskan, di sinilah tenaga kesehatan dituntut untuk lebih berusaha keras dalam menyadarkan masyarakat.
“Cara satu-satunya memang harus datang dari kesadaran masyarakat sendiri untuk merubah pola hidup yang tidak baik. Di sini yang masih susah,” ujarnya.
Wanita yang juga memiliki bisnis sandal unik ini pun berpesan kepada orang tua, terlebih seorang ibu, untuk selalu peka terhadap apa yang terjadi pada anaknya sendiri. Pasalnya, sebuah penyakit akan cepat teratasi jika penanggulangannya dilakukan sedini mungkin.
Sebagai tenaga kesehatan, ia meneruskan, dirinya akan selalu membantu permasalahan apapun yang dialami masyarakat, terlebih pada kesehatan ibu dan anak.“Karena anak adalah pemberian Tuhan. Titipan-NYA, maka sudah merupakan tanggung jawab besar bagi orang tua untuk menjaga anak mereka sampai sukses,” pungkas Wulan.(Sisca Angelica/ary)