Yudhita Dwirosa Dharmas Peraih Special Award Taiwan

Prestasi internasional yang berhasil diraih sang kakak., rupanya membuat sang adik juga tidak mau kalah. Meskipun baru duduk di kelas X, Yudhita Dwirosa Dharmas juga ingin membuat orang tuanya bangga. Terbukti, ia mampu berprestasi hingga ke luar negeri.
Kecil-kecil cabe rawit. Rasanya istilah tersebut pantas disandang oleh Yudhita Dwirosa Dharmas. Orang mungkin akan mengira apabila gadis imut berperawakan kurus dengan suara kecil itu, masih duduk di bangku SMP.
Faktanya, kini ia telah duduk di bangku SMA dan telah berhasil meraih Special Award dari ajang bergengsi skala internasional, yakni Internasional Exhibition For Young Inventors di Taiwan. Berkat daun pepaya yang ia olah menjadi lotion anti nyamuk.
Gadis cerdas yang rajin menulis tersebut awalnya terinspirasi oleh ucapan sang ayah, yang mengatakan jika tidak ingin digigit nyamuk harus makan yang pahit-pahit. “Terus kepikiran daun pepaya kan selama ini rasanya pahit, dan anak-anak muda jarang ada yang mau makan. Akhirnya tercetus ide kenapa nggak dibikin lotion saja.” kenangnya.
Berkat bantuan sang kakak, yang juga pernah membuat pasta gigi dari cangkang telur dan juga memenangkan lomba Internasional, Dhita, sapaan akrab, pun memulai proyeknya. Gadis yang kini tercatat sebagai siswi SMA Brawijaya Smart School itu mengaku apabila daun pepaya juga mengandung zat yang efektif untuk membunuh nyamuk, yaitu flavonoid dan papain.
Ia menjelaskan dalam kandungan papain tersusun dari protein, yang mampu memecah rangka luar nyamuk dan sanggup menyerang akses eksoskeleton dari nyamuk. Sedangkan kandungan flavonoid merupakan zat yang dapat menghambat sistem pernafasan pada nyamuk.
Gadis berkerudung itu juga menuturkan tahap awal pembuatan lotion daun pepaya yang ia beri nama Lappy Lotion, adalah dengan merobek daun pepaya hingga menjadi potongan kecil. Dari potongan tersebut kemudian Dhita menumbuk dan menambahkan sedikit air lalu kemudian disaring. Hasil saringan daun pepaya itu kemudian dicampur dengan bahan lain pembuatan lotion seperti propilem, glikol, gliserin, triethanolamin, dan asam stearate.
Kemudian masing-masing bahan dipanaskan hingga suhu 75 derajat celcius. “Ekstrak pepayanya dipanaskan sendiri, dan bahan campurannya dipanaskan sendiri, kemudian dicampur.” jelasnya. Setelah proses pencampuran kedua bahan tersebut, cairan akan didinginkan hingga mencapai suhu ruangan. Setelah suhu mulai stabil, kedua cairan tersebut akan semakin mengental dan siap untuk dikemas.
Saat Malang Post bertanya perihal bahan yang didapat untuk membuat lotion berbahan dasar alami itu, Dhita menjawab apabila selama ini ia mencari melalui jurnal internasional dan juga dari bantuan beberapa pihak, termasuk sang kakak yang selama ini selalu menginspirasinya.
Ia juga mengaku prestasi yang berhasil ia raih juga atas kekagumannya terhadap prestasi yang banyak diraih oleh kakaknya. “Aku ngelihat kakak kok enak gitu kayaknya, bisa jalan-jalan keluar negeri dari prestasi, karena itu aku kepingin seperti dia.” ungkapnya dengan polos.
Dalam pembuatannya, Dhita mengaku juga pernah mengalami kegagalan. Kekurangan asam stearat menjadi masalah utama saat uji cobanya yang pertama. “Awal-awal masih encer, kurang asam stearat, kemudian konsul dengan dosen MIPA UB, disuruh nambahkan asam stearat dua kali lipat supaya lebih kental.” jabarnya.
Ia menceritakan awal mula keikut-sertaannya dalam ajang Internasional yang berlangsung dari 16-18 November 2015 di Taiwan itu, adalah dari sang kakak yang berusaha keras mencarikan lomba untuk dapat diikuti oleh adiknya.
Ditambah dengan celetukan sang ayah perihal makanan pahit dapat mencegah nyamuk menggigit, Dhita segera membuat abstrak terkait ide lotion nyamuknya dan mengirimkan ide tersebut ke panitia lomba melalui email. Bahkan pada saat awal Dhita mendaftarkan abstrak yang ia buat, pihak sekolah mengaku tidak tahu menahu.
“Awalnya belum berani bilang ke sekolah, cuman pas tahu lolos akhirnya berani bilang ke sekolah, dan Alhamdulillah sekolah mau membantu dari segi pendanaan.” jelasnya.
Gadis yang bercita-cita untuk bisa kuliah di Teknik Pangan itu berharap produk buatannya dapat digarap dengan serius, mengingat masih banyak kekuarangan yang terdapat dalam kualitas lappy lotion. “Masih perlu uji lab lagi untuk tahu detail kandungannya, supaya semakin bagus lagi.” jelasnya.
Selain itu ia juga menginginkan adanya kerjasama dengan pihak petani untuk stock bahan utama lappy lotion. “Kalau mereka panen diambil buahnya, saya bisa ambil daunnya untuk memproduksi masal lappy lotion.” harapnya.
Sama halnya dengan sang kakak, perlombaan berkelas Internasional ini bukan kali pertama yang ia ikuti. Sebelumnya Dhita pernah mengikuti event Internasional serupa, dengan produk kebanggaannya yakni susu dari alga kristal. (Alfinia Permata Sari/ary)