Arsyad Azizi Iriansyah, Abdikan Diri Sebagai Pengajar

Pilihan anak muda bernama Arsyad Azizi Iriansyah ini patut kita banggakan. Berbeda dengan pemuda seusianya, ia lebih memilih menjadi pengajar, di berbagai belahan negeri. Pemuda berusia 22 tahun ini, memilih mendedikasikan diri terhadap negeri, mencerdaskan kehidupan anak bangsa.

 “Kepemimpinan itu tak bisa di dapatkan hanya dengan duduk manis di kelas mendengarkan setiap dosen mengajar, tapi kepemimpinan harus dilatih terus menerus. Lebih baik berlatih berenang di kolam yang terukur kedalamannya dibanding berenang  di laut karena tak dapat ukur arusnya. Di era seperti saat ini kita dituntut tampil beda, agar tidak tergilas dengan apa yang tidak kita ciptakan sendiri,” terangnya pada Malang Post.
Sebelum memutuskan menjadi pengajar muda dalam program Indonesia mengajar, ia telah aktif sebagai bagian dari komunitas Save Street Child Malang (SSCM). Ia dan kawan-kawannya termasuk sebagai perintis kegiatan yang bergerak dalam bidang kesejahteraan anak jalanan, khususnya Malang.  Perannya hingga saat ini adalah sebagai Chief of Public Relation.
Baginya tugas yang diembannya ini sangat berat. Ia dituntut memperkenalkan komunitas positif ini kepada masyarakat secara luas, terutama di Malang Raya. Berbagai cara ia lakukan ditengah aktivitasnya yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa. Kampanye dilakukan melalui berbagai media populer, termasuk Twitter dan Facebook.
Kampanye ini semata-mata untuk memperkenalkan sekaligus mengajak masyarakat, terutama anak muda untuk lebih peka dalam bertindak. Mengingat banyak pemuda yang bersifat apatis terhadap keadaan ini. Perjalanannya menghidupkan kegiatan positif ini tak ayal penuh dengan rintangan.
Berdebat dengan Satpol PP hingga harus berpanas-panasan menyisir jalan baginya adalah pengalaman berharga sekaligus guru tak terwujud. Pelan tapi pasti, ketulusan yang menular membuat gerakan yang digawanginya bersama rekan-rekannya ini telah menjangkau lingkup yang lebih luas. Menyekolahkan anak jalanan yang putus asa hingga kegiatan belajar bersama di beberapa titik seperti Sukun, Arjosari dan Muharto merupakan kegiatan rutin yang terus berjalan dan melibatkan banyak relawan.
Di saat yang bersamaan, ia juga berperan sebagai Wakil Menteri Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya, Ketua Laboratorium Politik dan Tata Pemerintahan FIA UB, pengurus Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, penggagas gerakan Kelas Inspirasi Malang, serta anggota paduan suara di FIA. Aktivitas padatnya ini tak sedikitpun menjadi alasan baginya untuk tidak berprestasi.
Terbukti, ia pernah mendapat beasiswa Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) yang kemudian mengirimnya ke Thailand melalui Pertukaran Pelajar di Chulalongkorn University. Selain itu, ia lulus dengan gelar Cumlaude dengan IPK 3,8.
“Jam bermain bersama teman-teman selalu saya manfaatkan untuk belajar bersama mereka. Istilahnya sih, belajar sambil bermain, kayak istilahnya anak kecil saja ya. Jadi kemana pun saya pergi, buku bacaan adalah barang wajib yang selalu bertengger di dalam tas. Membaca dan mengupdate isu-isu baru di jurnal juga menjadi agenda rutin sehari-hari, ’’ urainya.
Tak berhenti di situ, pemuda kelahiran Nabire-Papua ini melanjutkan misinya dengan berpetualang ke Pulau Rote Ndao dengan menjadi bagian dari Program Indonesia Mengajar. Baginya menjadi pengajar muda Indonesia adalah caranya untuk mencintai Indonesia. Di sana ia tinggal dengan keluarga sederhana. Tidak ada listrik, signal dan air bersihpun susah didapatkan. Keadaan ini membuatnya menemukan kebahagian baru.
Perhatiannya terhadap kelayakan pendidikan anak-anak kurang beruntung di Indonesia semakin membulatkan tekadnya untuk terus melebarkan sayapnya dalam dunia pendidikan. Dia yakin, bahwa kesempatan menuntut ilmu harus diberikan kepada setiap anak. Peran pemerintah sangatlah penting, sehingga besar harapannya akan dukungan dari pemerintah.
Mereka yang berpendidikan memiliki kewajiban untuk mendidik semua orang yang ada disekelilingnya. “Iuran tak hanya dalam bentuk materi, tapi iuran tenaga seperti mengajar juga merupakan bentuk ketulusan,“ jelas alumnus Administrasi Pemerintahan Universitas Brawijaya ini.
Ke depan, ia menargetkan kembali melanjutkan studinya di Australian National University dengan konsentrasi bidang kebijakan publik. Ketertarikannya dalam mengajar membuatnya tak ingin lepas sehingga ia pun bercita-cita menjadi dosen. (Pipit Anggraeni/ary)