Kisah Aremania Blitar, Satu Rombongan dengan Slamet Puji Wahono

Dua Aremania telah meninggal dengan tragis karena menjadi sasaran aksi penjarahan dan penyerangan dari kelompok suporter Surabaya yang diduga Bonek di Sragen. Dalam tragedi penyerangan itu, masih ada Aremania yang berhasil menyelamatkan diri. Sempat dekat dengan maut, enam anggota lain di rombongan Suzuki Carry yang dikemudikan oleh almarhum Slamet Puji Wahono, berhasil lolos dari maut.
Mereka lolos dengan cara yang beragam. Melompat ke dalam got, lari ke sawah, tak berpakaian selama berjam-jam dilakukan, hingga disangka maling terpaksa dilakukan demi bertahan hidup. Ketika mengunjungi kediaman almarhum Slamet di Desa Pohgajih RT 4 RW 2, Kecamatan Selorejo, Kabupaten Blitar, Malang Post bertemu dengan Agus Winarno dan Feri Kurniaga. Dengan beberapa bagian tubuh yang masih terluka dan lebam, keduanya menceritakan kejadian suram yang sempat dialami keduanya.
Peristiwa berawal Jumat (18/12/2015) siang. Dengan riang mereka bersiap ke Sleman. Sekitar pukul 15.00 WIB. Menjemput satu per satu anggota, mereka start sekitar pukul 17.00 WIB. Perjalanan masih berlangsung santai. Beberapa kali, mereka sejenak berhenti di beberapa titik.
Namun, petaka kemudian datang ketika dinihari. Berawal dari ban kempes dari mobil berplat nomor AG 1275 KA di Nglorog, Sragen. Sekitar pukul 04.00 WIB.  Rombongan yang berisi tujuh orang itu, mendorong mobil sembari dikemudikan oleh Slamet. Satu rekan Slamet, yakni Deni berjalan lebih dulu untuk mencari lokasi tambal ban dan membangunkan sang pemilik yang masih tidur.
“Belum Subuh ketika ban kempes. Kami mendorong mobil beberapa meter,” ujar Feri, mengawali cerita.
Sesaat kemudian, Deni menunggu di salah satu tempat tambal ban dan tiduran di kursi. Sementara, ketika rekan rombongan mendorong mobil yang ban kempes itu, munculah rombongan dari arah yang sama.
“Sekitar empat truk besar. Nggak tau jumlahnya, pasti sangat banyak,” beber dia.
Rombongan dengan kaos berwarna hitam yang diduga oknum Bonek ini, rupanya mengetahui Feri dan kawan-kawan, yang sialnya beberapa beratribut Arema.
“Ya kami tidak sadar. Ban kempes, spontan turun dan mendorong. Mereka melihat kami dan berteriak, Aremania, Aremania,” ujar Feri, yang kemarin berseragam jersey Persija itu.
Melihat itu, spontan anggota rombongan lari. Sempat bersinggungan badan, namun mereka berhasil kabur. Naas bagi Slamet, karena bertugas mengatur kemudi, ketika membuka pintu, sudah dihadang. “Ada enam orang sudah menghadang di depan. Tiga di samping kanan, tiga di kiri. Sam Slamet di dalam,” tambahnya.
Menurutnya, enam Aremania ini sudah diminta dompet dan handphonenya. Sementara untuk tas, masih di dalam mobil.
“Sudah, kami tidak peduli. Pokoknya lari, ya sambil teriak-teriak juga,” jelasnya, rinci yang disetujui oleh Agus Winarno.
Sesekali keduanya bergantian cerita. Dikejar dan dilempar batu, serta beberapa membawa ketapel, membuat pikiran mereka yang penting mencari tempat sembunyi. Kali ini Agus menceritakan tentang  masuk ke dalam got atau sungai kecil yang berada di pinggir jalan raya. Entah bau apa di badannya nanti, tidak peduli. Sembari lari tadi, dia melepas bajunya yang masih bertandakan Arema.
“Yang penting selamat. Saya cuma pakai celana saja, sembunyi, merangkak dan merayap,” ujar Agus, menimpali.
Ketika aman, mereka berlari kencang ke permukiman warga. Karena suasana masih gelap dan mendekati jam warga bangun untuk salat subuh, sempat dianggap maling. Agus pun menjelaskan, sembari terengah-engah.
 “Nggak, kami dikejar Bonek. Mereka membawa senjata tajam dan batu. Tolong kami pak,” ujar dia yang lari bertiga, dengan Feri dan salah satu temannya.
Menurutnya, bagaimana tidak dipikir maling, berlari, tanpa baju dan sembunyi-sembunyi. Setelah meyakinkan, mereka akhirnya diterima. “Ya sudah masuk dulu mas, biar aman. Begitu kata warga,” ujar Feri, yang masih terlihat memar di pipi kirinya.
Sekitar dua jam, mereka disembunyikan oleh warga Desa Nglorog, yang baru hari itu dikenalnya. Sembari sembunyi, mereka meminta tolong melihat keadaan di pinggir jalan raya.
“Katanya sih sudah aman, sudah banyak polisi yang berada di sekitar mobil kami,” ujar Feri.
Ketika sudah benar aman, akhirnya Feri dan Agus serta satu temannya, melihat ke depan. Kondisi Slamet, yang sekilas dilihat sembari melarikan diri, sudah berada di luar mobil. Ya, tadinya Slamet sudah diseret dan dipukul dengan batu.
“Nggak tega mas, banyak darah,” ungkapnya.
“Setelah ada polisi, kami dibawa ke Polsek . Di sana, kami masih belum menggunakan baju dan semua barang sudah hilang,” sambung Agus.
Menurutnya, mereka mendapat baju di Polsek Sragen. Sembari dimintai keterangan dan masih menunggu kabar dari beberapa teman yang lain. Satu persatu, akhirnya mereka terkumpul.
“Tinggal Sam Slamet yang belum ada. Kami malah diberi informasi dia sudah meninggal. Sebab, ketika di pinggir jalan dia sudah kehabisan banyak darah,” jelasnya.
Menunggu sampai sore, Feri dan Agus masih di Polsek Sragen, hingga akhirnya keluarga Slamet datang jelang sore hari. “Saya bareng keluarganya Sam Slamet. Ya sudah tidak punya apa-apa, cuma menunggu. Di rumah saja belum dapat kabar,” urai Agus.
Ketika mengunjungi Agus, mereka menceritakan tentang kejadian itu. Biadab. Bagaimana tidak, bukan hanya menjarah, suporter Surabaya yang diduga Bonek itu, jumlahnya ratusan, akhirnya membunuh salah satu kerabatnya.
“Sam Slamet itu baik. Kami kenal di Stadion Kanjuruhan. Dan kini dia harus meninggal,” tegas dia, yang mulai terlihat geram.
Dia mengakui beruntung, meskipun sempat dekat dengan maut. “Ya, mungkin telat beberapa detik untuk kabur, kami ikut jadi korban. Mereka itu kejam. Mau nonton bola kok bawa samurai dan batu,” ujar Agus.
“Ya siapa tau mereka dibalas, entah siapa,” pungkasnya. (Stenly Rehardson/ary)