Sopawatee Tohyahteh, Mahasiswa UMM Asal Thailand

Orang asing belajar bahasa Indonesia mungkin sudah bukan merupakan hal yang aneh. Tetapi orang asing yang belajar sekaligus bekerja sebagai seorang wartawan lokal di Indonesia, patut diapresiasi.


Sekilas tidak ada yang berbeda dari penampilan Sopawatee Tohyahteh, dari struktur dan segi wajah hampir sama dengan orang Indonesia lainnya. Belum lagi hijab syar’i yang sehari-hari ia kenakan semakin menyamarkan identitas bahwa dirinya adalah warga negara Thailand.
Bahkan, saat Malang Post berkenalan dengan Sopa, sapaan akrab, pun tak menyangka jika ia adalah warga negara Thailand dan baru beberapa tahun tinggal di Indonesia, untuk belajar Bahasa Indonesia di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Dengan bahasa Indonesia yang masih terbata-bata, Sopa mengenang kisah kedatangannya bersama dua rekan lainnya yang berasal dari negeri gajah putih, karena ketertarikannya untuk belajar bahasa Indonesia. “Dulu waktu sekolah di Thailand, belajar bahasa Melayu juga, dari situ saya suka belajar bahasa Melayu dan tertariknya lebih ke bahasa Indonesia.” ujar perempuan berkulit putih itu.
Berbekal beasiswa yang ia dapat dari pemerintah Indonesia dan Thailand, kemudian ia memutuskan untuk belajar bahasa Indonesia di jurusan Bahasa Indonesia, UMM. Alangkah terkejutnya ia saat menginjak semester tujuh, ketika sang dosen memberikan tugas kepada seluruh mahasiswa Bahasa Indonesia untuk membuat koran.
“Sebenarnya tantangan juga untuk saya, agar bisa lebih dalam lagi belajar bahasa Indonesia. Tetapi awalnya sedikit bingung, karena orang-orang Indonesia memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Tidak semua orang Indonesia menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari.” kenangnya.
Ketakutannya itu pun terjadi saat ia dipercaya sang pemimpin redaksi, Bungah Wijayanti, untuk memegang rubrik kuliner dan wisata. Ia harus melakukan sesi wawancara kepada pemilik warung makanan tradisional khas Malang, yakni Bledus, Ongol-ongol, dan juga es Tawon khas Malang. Sang penjual tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dan hanya menggunakan bahasa Jawa. Sehingga Sopa mengalami kendala dalam berbahasa saat melakukan proses interview.
“Ibunya yang jual menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi, sehingga saya mengajak teman saya untuk menerjemahkan apa yang ibu itu katakan ke dalam bahasa Indonesia.” kenangnya.
Sopa mengaku kendala yang ia alami hanyalah pada permasalahan itu saja, selebihnya ia dapat menguasai. Pengalamannya sebagai wartawan untuk koran Cakrawala Post, membuatnya belajar banyak hal. Tidak hanya mempelajari bahasa Indonesia saja tetapi juga keunikan dan ciri khas orang Indonesia terutama suku Jawa.
Ia juga merasakan suka dukanya menjadi seorang journalist, dari ditolak oleh narasumber hingga kesulitan dalam mengatur jadwal liputan, karena kesibukannya juga sebagai seorang mahasiswi.
“Tapi itu semua dapat dilewati, asal dari saya pribadi dapat mengatur waktu dengan baik.” jelasnya.
Pada saat pengerjaan berita ia juga mengaku mengalami kesulitan ketika harus membuat judul dan mengatur lead, agar orang tertarik dengan tulisannya dan mau membaca berita yang telah ia tulis. Berkat bimbingan teman-teman dan juga sang dosen, Sopaa pada akhirnya menemukan kalimat yang unik dan menarik untuk judul. Begitu pula dengan angle untuk disajikan di awal berita.
Kerja kerasnya pun tidak berakhir sia-sia, karena beritanya menjadi full cover di halaman pertama Cakrawala Post. Sang Pemred mengaku kinerja Sopaa memberikan kontribusi sangat banyak terhadap rubrik kuliner dan wisata di Cakrawala Post. Hanya saja susunan kata yang digunakan belum maksimal.
“Kalau dari grammar masih 10 persen, jadi saya perlu banyak mengedit tulisannya, tetapi kalau dari kosakata dia jauh lebih bagus.” urai perempuan berkerudung itu.
Menurut Bungah, Sopaa mampu menggunakan bahasa-bahasa populer untuk membuat tulisannya menjadi berwarna dan menarik untuk dibaca. “Ia pandai menggunakan bahasa populer yang sering digunakan dalam wacana, seperti penyebutan nama-nama tempat, kata kerja, dan lain lain,” urainya.
Bungah mengaku tidak mudah dalam mengkoordinir kawan-kawannya untuk liputan. Sebelum turun langsung ke lapangan, ia mengadakan briefing terlebih dahulu terutama untuk wartawan yang berasal dari Thailand.(Alfinia Permata Sari/ary)