Dari Kunjungan Pemkab Malang ke Bangladesh

KESEMPATAN berharga kembali didapatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Baru-baru ini, Kabupaten Malang berkesempatan belajar pengolahan sampah di Kota Dhaka, Bangladesh. Ini merupakan hadiah dari United Cities and Local Government (UCLG) lantaran Pemkab Malang dinilai sukses dalam mengolah sampah.

Sampah menjadi permasalahan setiap daerah yang berkembang dan memiliki penduduk yang padat. Begitu pula di Kota Dhaka Bangladesh, juga mengalami permasalahan itu. Bahkan tiga tahun yang lalu, masalah sampah di ibu kota negara Bangladesh ini sangat kronis. Yakni masyarakat kota itu menyumbang sampah 4 ribu hingga 5 ribu ton per hari.
Apalagi jumlah penduduknya yang luar biasa, lebih dari 13 juta jiwa dan memiliki luas wilayah 304 km persegi. Otomatis, sampah menumpuk. Di sisi lain, kota tersebut tidak mempunyai area yang luas untuk menampung dan mengolah sampah. Namun, belakangan ini kota tersebut bisa mengatasi permasalahan sampah yang kronis tersebut.
Untuk itulah, dua orang perwakilan Pemkab Malang difasilitasi UCLG belajar keberhasilan Kota Dhaka dalam mengolah dan mengelola sampah. Keduanya yakni, Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kabupaten Malang, Ir Romdhoni dan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Malang, Tridiyah Maistuti.
Selama lima hari, mereka belajar pengolahan dan pengelolaan sampah di kota yang memiliki julukan Ibu Kota Becak Dunia ini.
“Manajemen dan pengolahan sampah di kota Dhaka, selangkah lebih maju dan modern,” ujar Tridiyah Maistuti kepada Malang Post.
Meski memiliki pemukiman yang padat, sampah bisa termanajemen dengan baik. Bentuknya, sampah rumah tangga diolah menjadi energi listrik dan pupuk kompos. Sebenarnya, hal itu sudah dilakukan di Kabupaten Malang. Namun, di Kota Dhaka manajemen dan pengolahannya lebih modern. Mengunakan sistem teknologi yang lebih canggih, permasalahan sampah dapat teratasi dengan baik.
“Ada area untuk melokalisir sampah, sama halnya dengan TPA Talangagung di Kepanjen, Kabupaten Malang. Bedanya, sistem dan peralatannya lebih modern,” terang wanita berkacamata ini.
Sampah yang masuk di area itu, kemudian dipilah. Terdapat dua macam pemilahan, yakni menggunakan mesin dan manual dilakukan dengan tangan. Sampah organik, kemudian ditimbun di dalam tanah. Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah, bisa dibuat aneka kerajinan.
Namun, kondisi sampah plastik itu harus masih bagus. Sedangkan sampah yang tidak bisa diolah, kemudian dibakar. Pemerintah Kota Dhaka bekerjasama Japan International Cooperation Agency (JICA) dalam mengelola sampah.
Mereka menggunakan berbagai tahapan pengolahan, seperti dari pengumpulan sampah dari rumah ke rumah. Kemudian menggunakan cara daur ulang dengan cara 3R, pembuangan ke TPA Matauail dan Amin Bazar. Semua mekanisme itu, sebenarnya sudah dilakukan di Kabupaten Malang, sejak jauh hari sebelumnya.
“Sampah yang tidak bisa diolah, dibawa ke incenerator untuk dibakar. Pembakaran itu menghasilkan energi berupa panas yang kemudian bisa dipanen menjadi listrik. Sisa pembakaran berubah dijadikan material bangunan,” timpal Romdhoni.
Mekanisme pengolahan seperti itu, kata dia, bisa diterapkan di Kabupaten Malang. Terutama sisa pembakaran yang bisa diolah kembali menjadi batu bata maupun bahan baku pembuatan semen.
“Tentunya sisa pembakaran sampah itu, harus dicampuri dengan bahan-bahan lainnya pembuatan material bangunan,” terangnya.
Lanjut dia, ada beberapa spot yang sebagai destinasi pembelajaran di Kota Dhaka. Termasuk kesuksesan Kota Dhaka dalam mengembangkan pemukiman asri yang sesuai dengan kaidah lingkungan. Selain itu, saat ini Kota Dhaka juga tengah berupaya terus mengembangkan kawasan maupun ruang terbuka hijau (RTH).
Melalui mekanisme yang lebih modern dan canggih itu, maka sampah akan termanfaatkan dengan baik. Terlebih hasilnya berupa pupuk kompos di Dhaka, sudah diekspor ke berbagai negara. Diantaranya seperti Jepang, Korea, Singapura dan Filipina.
“Pupuk kompos berbahan baku sampah dari Dhaka ini, sangat terkenal dan banyak diburu oleh negara lain,” terangnya. Menurutnya, kesempatan belajar di Kota Dhaka itu sangat berharga. Apalagi Kabupaten Malang perlu terus berbenah diri. Terutama meningkatkan pengolahan sampah di Ibu Kota Kabupaten Malang di Kepanjen.
Mau tidak mau, masalah sampah di Kepanjen nantinya akan semakin pelik. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan juga pesatnya pembangunan. Sehingga, permasalahan sampah dan pelestarian lingkungan, harus diantisipasi sejak dini. Sisi lain, juga perlu peningkatan kualitas teknologi dan sumber daya manusia (SDM).
Terlebih sebentar lagi, Kabupaten Malang akan menghadapi pasar bebas ASEAN atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang diberlakukan 2016 mendatang. Bukan tidak mungkin, akan diserbu tenaga kerja dari negara ASEAN lainnya. Termasuk tenaga kebersihan dan pengolahan sampah yang akan membanjiri Kabupaten Malang.
“Kalau kita tergerus oleh serbuan dari luar negeri, maka akan dikuasai tenaga asing. Kabupaten Malang harus memperkuat diri di daerahnya sendiri terlebih dahulu, baru bisa memikirkan untuk bersaing di negara lain,” papar Romdhoni.
Pihaknya di bidang penataan kota dan pengolahan sampah pun juga bersiap menghadapi MEA.
“Melalui kesempatan belajar di kota Dhaka, Bangladesh ini, tentunya saya tularkan di Kabupaten Malang. Baik itu kepada staf saya, maupun yang lainnya,” terangnya. Diapun yakin, dapat mengembangkan teknologi pengolahan sampak dengan baik. Termasuk turut serta dalam persaingan global di negara-negara Asia Tenggara. (Binar Gumilang/ary)