Mengenali Yon Wahyouno Pelukis Abstrak Kota Malang

Pernahkah anda mengenali atau melihat salah satu karya lukisan pelukis ternama seperti Jackson Pollock, Willem de Koning, dan yang terkenal di Indonesia, Affandi? Semua pelukis tersebut seringkali menampilkan karya lukis bergaya abstrak. Kota Malang memiliki pelukis yang teguh di jalur abstrak, Yon Wahyouno namanya.


Idealisme dan spiritualitas perupa abstrak tak perlu dipertanyakan lagi, meski selama ini dibilang sepi peminat. Seni abstrak dan seniman abstrak membuktikan diri masih bertahan dan tetap eksis di dunia seni rupa.
Hal ini tidaklah pernah menggusarkan seorang Yon Wahyouno, pelukis asal Kota Malang yang sampai saat ini masih bersikukuh mempertahankan idealisme perupa dalam aliran abstrak.
Pria yang baru-baru ini hadir dalam pameran Abstrak Hari Ini di Dewan Kesenian Malang ini mengatakan, lukisan abstrak adalah melukis dengan tidak menggambarkan objek alam secara nyata atau riil karena banyak ditentukan ide pelukisnya.
“Wujud karyanya tidak menyerupai atau menyamai alam, tetapi menampilkan bentuk-bentuk atau fenomena yang artistik dan unik. Oleh karena itu, penghayatannya harus menguasai norma-norma seni rupa atau unsur dan prinsip seni rupa,” papar pria yang mengaku sangat menggemari karya Afandi ini.
Ia kemudian menambahkan saat ini masyarakat yang awam seni abstrak menganggap lukisan abstrak tak populer. Tak seperti aliran seni lain seperti figuratif, realis dan kontemporer. Namun sesungguhnya seni abstrak dan seniman abstrak masih tetap berkarya.
Seniman yang gemar menggunakan topi baret saat melukis ini mengaku, memang banyak orang yang masih berpandangan tentang seni abstrak yang tak mudah dimengerti. Pandangan itu, menurutnya, salah besar dan perlu diluruskan
 “Seni abstrak mungkin tidak diminati pasar. Tapi kami, para seniman abstrak tetap berkarya menghasilkan seni abstrak. Idealisme kami di seni abstrak tetap ada. Sebab kami berkarya bukan karena ada pesanan,” tegasnya.
Ia kemudian menjelaskan, jangan pernah mengira bahwa hanya dalam hitungan menit penikmat seni  langsung dapat memahami makna lukisan abstrak. Bagi yang baru kali pertama, mungkin dapat memakan waktu berjam-jam. Tapi sekali lagi, ia berkata, cukup nikmati saja.
Pria yang pernah mendalami seni lukis di Ubud Bali ini meneruskan, lukisan abstrak memang dapat menimbulkan banyak tafsir, namun bukan masalah apakah hal tersebut benar atau salah dengan tafsiran tersebut. Pasalnya, Yon mengatakan, memahaminya benar-benar tentang apa yang anda bayangkan saat melihatnya.
“Lukisan ataupun karya seni abstrak bukanlah sebuah teka-teki silang yang harus dipecahkan. Ketika anda melihat karya abstrak, ambil nafas dalam-dalam dan nikmati setiap warna atau pola yang ada. Cukup selami pikiranmu, saat melihatnya,” ucap pencipta lukisan “Before Sunset” ini.
Ia kemudian menunjukkan salah satu lukisan abstrak yan barus aja ia selesaikan. Lukisan yang ia sebut “ Di Atas Langit Masih ada Langit” ini didominasi oleh warna biru yang sedikit bercampur halus dengan nuansa warna pastel dan di tengah lukisannya terdapat garis berwarna putih seperti samar.
Yon menanyakan, apa yang anda rasakan ketika melihat lukisan tersebut. Ia kemudian menceritakan kembali, seringkali para penikmat karya seni abstrak begitu terhanyut menyelami seni tersebut, dan tidak jarang beberapa hingga menangis dan begitu emosional.
“Makna lukisan abstrak yang bercampur emosi itulah yang kami inginkan. Inilah cara termudah yang dapat dilakukan yaitu menyelami pikiran sendiri dan menemukan maknanya sesuai emosi sendiri,” ungkap Yon.
Lukisan yang ia tunjukkan tadi, sebenarnya adalah cara Yon menggambarkan konsep Tuhan. Seorang seniman, lanjutnya, memiliki hubungan yang unik dengan penciptanya sendiri. Melalui karya lukis, Yon selalu menggambarkan kebesaran Tuhan yang tidak ada pernah ada duanya.
Ia melanjutkan kembali, lukisan “Di atas Langit Masih Ada Langit” ini dibuat berdasarkan atas perasaan rindu yang mendalam atas kehadiran Tuhan. Goresan warna biru tersebut jelas menggambarkan kebesaran Tuhan.
Sedangkan, tambahnya, garis di tengah berwarna putih bercampur warna lain yang samar tersebut adalah posisinya sebagai manusia. Bahwa, kekuasaan dan hubungan manusia dengan Tuhan sebenarnya adalah hubungan yang sangat dekat secara transendental.
“Menarik bukan? Tuhan yang sering kita anggap meninggalkan kita nyatanya tidak pernah. Hal tersebut saya pahami ketika saya melukis. Karena, Tuhan atau sang pencipta merupakan sumber inspirasi terbesar untuk saya,” imbuh Yon.
Ia kemudian berkata, karya lukisan abstrak adalah seni yang lebih pada pengertian cara berpikir.  Lebih pada konsep sederhana dari fakta atau sesuatu ang realistik. Memahaminy pun, lanjutnya, merupakan tafsir dari pribadi orang masing-masing.
“Maka, setiap orang berhak menafsirkan lukisan abstrak sesuai dengan latar belakang pengalamannya. Karena lukisan adalah tanda visual multi interpretasi,” tandasnya.Beberapa karya Yon Wahyouno dapat dilihat di kediamannya di Jalan Menur no 8 Kota Malang atau di beberapa gelaran Dewan Kesenian Malang.(Sisca Angelina/ary)