Ipda Agnis Juwita Manurung SIK, Polwan Cantik Polres Malang

SEKILAS orang tidak akan percaya jika Agnis Juwita Manurung ini, adalah seorang polisi wanita (Polwan). Wajahnya yang cantik dan anggun, terlihat kalau dirinya seperti model. Apalagi ketika tidak memakai seragam dinas polisi.

Wanita Kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 6 Agustus 1992 ini, adalah seorang perwira polisi pertama di Polres Malang. Pangkatnya Inspektur Polisi Dua (Ipda). Ia bertugas sebagai Kanit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Satuan Lalu Lintas Polres Malang.
Agnis lulusan Akademi Polisi (Akpol) Budi Luhur Bhayangkara pada 2013 lalu. Sebelum menjadi seorang polisi, wanita yang lulus SMA 2010 lalu ini, sebetulnya bercita-cita sebagai seorang Pramugari. Impiannya tersebut muncul saat Agnis masih mengenyam pendidikan di bangku SMP.

"Saya berpikir saat itu Pramugari adalah pekerjaaan yang menarik. Karena bisa jalan-jalan kemana-mana dan setiap hari bisa naik pesawat," ujar Agnis Juwita Manurung, sembari tersenyum.
Namun setelah lulus SMA, cita-cita menjadi seorang Pramugari seakan luntur dengan sendirinya. Termotivasi kakak laki-lakinya yang menjadi seorang polisi, Agnis akhirnya tertarik untuk menggeluti pekerjaan mulia sebagai Polwan. Alasannya karena selain pekerjaan tetap, juga penuh dengan tantangan.
"Saat itu, saya tertarik untuk menjadi Polwan karena melihat Akademi Polisi, selain pendidikan polisi juga sekolah, karena lulus langsung sarjana. Apalagi 100 persen juga tidak dipungut biaya, sehingga mengurangi beban orangtua," tuturnya.
Dengan tekad bulat untuk menjadi seorang Polwan serta dukungan dari orangtua, Agnis akhirnya lulus Akpol angkatan 2013. "Saya hanya sekali daftar langsung lulus," katanya.
Saat menjadi Taruna Akpol, Agnis terpilih untuk pergi ke Jepang, mengikuti World Band Police Concert (show band-band polisi) dari lima negara. Ia terpilih karena memiliki keahlian khusus memainkan alat musik Marimba. "Alat musik Marimba itu cara mainkannya dipukul dengan kedua tangan," tuturnya.
Menjadi Kanit Dikyasa Satlantas Polres Malang, Agnes memiliki tugas dan tanggungjawab untuk memberikan imbauan dan penyuluhan kepada masyarakat. Termasuk ke semua lini organisasi, komunitas, anak sekolah hingga mahasiswa.
Setiap hari bersama dengan anggotanya, Agnis datang dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu sekolah ke sekolah lain, untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat supaya patuh dan tertib terhadap peraturan lalu lintas.
"Menjadi polisi itu penuh tantangan. Kita harus melakukan pekerjaan beban untuk menolong masyarakat. Meskipun Polwan, namun harus dituntut setara seperti laki-laki. Polwan tidak boleh kalah dengan laki-laki, karenanya harus bisa menjaga dan mengatur energi serta pikiran," paparnya tegas.
Selama menjadi Polwan, ada kisah menarik yang kerap kali dialaminya. Karena kecantikannya, Agnis sering sekali digoda oleh anak-anak muda. Sewaktu tugas melakukan pengamanan seperti PAM sepakbola atau pengamanan lainnya, selalu ada pemuda yang usil menggodanya dengan bersiul.
"Sebetulnya tidak hanya pemuda saja yang menggoda. Wartawan juga sering menggoda saya. Tetapi saya sadar diri, dan hanya membalasnya dengan senyuman saja. Ini sekaligus untuk mendekatkan saya dengan masyarakat," ungkap dara berdarah Batak ini.
Sekalipun sudah menjadi seorang perwira polisi pertama, namun Agnis tidak berhenti untuk menimba ilmu. Seperti pepatah, kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina. Beberapa waktu lalu, Agnis mengikuti pendidikan (sekolah) bahasa Polri di Cipinang Jakarta. Ia belajar Bahasa Inggris selama tiga bulan.(Agung Priyo/ary)