Awalnya Preman, Kini Dikenal Sebagai ‘Gudangnya’ Motor Lama

Siaman Sianto, Kolektor dan Perakit Motor-motor Lawas

MESKI setiap tahun, banyak sepeda motor keluaran baru dengan model nyentrik, ternyata tak semua orang tertarik. Siaman Sianto, tetap mengoleksi motor-motor lawas keluaran tahun 1970-1990. Bahkan berkat bisnis jual beli motor lama dan barang bekas itulah, nama Siaman menjadi terkenal.

‘’Semuanya ini berkat kerja keras, tekun, percaya diri, teliti dan jujur. Itulah yang menjadi kunci utama hingga menjadikan saya seperti ini. Tetapi tidak sampai lupa untuk selalu bersyukur,’’ ungkap Siaman Sianto, kepada Malang Post mengawali pembicaraan.
Sejak usahanya berkembang pesat, nama Siaman memang cukup dikenal di kalangan masyarakat. Cukup bertanya ‘Siaman rombeng’ orang sudah banyak yang tahu. Rumahnya berada di Jalan Utara Stasiun Pakisaji. Dari Stasiun Pakisaji, berjalan ke utara hanya sekitar 50 meter saja.
Sembari mengawasi motor Honda Astra S-90 miliknya yang menjadi legenda hidupnya, Siaman mulai menceritakan awal mulanya menjadi kolektor sepeda motor kuno. Diawali pada tahun 1996. Pria kelahiran Malang 1955 ini, memulai bisnis itu karena kecintaannya dengan sepeda motor lawas.
‘’Waktu itu, saya heran dan terkesan dengan motor Astra S-90. Motor buntut yang dinilai orang sebagai motor jadul, ternyata mempunyai tenaga yang besar. Meski hanya 90 CC, namun bisa keliling wilayah. Sekalipun dibuat boncengan empat dengan kondisi jalan tanjakan,’’ terang Siaman.
Dari situlah, akhirnya Siaman yang mantan preman ini, berpikir untuk merubah hidupnya. Dunia gelap yang tak ada tujuannya, mulai perlahan ditinggalkan. Pekerjaannya yang semula berjualan tempat batu permata atau akik di Jalan Mojopahit Malang, juga ditinggalkannya. Dia mulai merintis bisnis barunya sebagai penjual barang bekas dan kolektor motor kuno.
Siaman sengaja mengoleksi motor kuno, karena beranggapan selain harga belinya murah dan motornya cukup tangguh, motor kuno itu sering diasingkan. Dia saat itu juga berfikir bahwa jangka panjangnya, motor kuno akan menjadi barang langka dan dicari-cari orang.
‘’Untuk memulai itu, awalnya saya membeli onderdil (spare part) motor lama di pasar loak. Setiap ada spare part bekas, saya beli lalu saya bawa pulang. Mungkin karena menumpuk, istri saya sempat marah. Namun pada akhirnya dia mendukung saya untuk membuka bisnis jual beli barang bekas dan motor lama,’’ terang suami Sumiati ini.
Semula hasilnya hanya sedikit, namun cukup disyukuri oleh Siaman. Dia tetap terus mengembangkan bisnisnya. Dari semula barang bekasnya hanya satu tempat, kini menjadi empat ruangan.
Begitu juga dengan sepeda motor kuno. Semula hanya satu yakni Honda Astra S-90, kini motor kuno miliknya ada puluhan. Selain jenis Honda Astra S-90, ada motor Honda 70 dan Vespa.
Puluhan motor lawas tersebut, dibeli secara bertahap dari tahun ke tahun kepada seseorang. Meski motor kuno, namun semuanya dilengkapi dengan surat.
‘’Biasanya sepeda motor yang saya beli adalah sepeda motor yang sudah tak terpakai. Lalu semua onderdilnya saya preteli. Yang rusak saya betulkan, hingga enak dipakai,’’ jelas bapak empat anak ini.
Onderdil motor itu disimpan untuk stok. Siapa tahu ada yang mencari onderdil yang dicari, Siaman langsung mencarikan stok yang lama. ‘’Namun kalau tidak ada yang mencari, kadang kalau ada waktu luang saya kumpulkan lalu dirakit lagi menjadi motor,’’ katanya.
Untuk ilmu perakitan mesin sendiri, Siaman yang juga dikenal banyak ide ini, semula memanggil montir motor untuk membetulkan motornya. Boleh jadi, dia belajar secara otodidak.
‘’Saat montir membetulkan motor itulah, saya terus mengamati untuk menyerap ilmunya. Selanjutnya mencoba membongkar-bongkar mesin sendiri. Kalau ada yang tidak bisa saya catat lalu saya tanyakan. Alhamdulillah, ternyata orang tobat ada jalannya dan hikmah yang lebih baik,’’ katanya sembari tertawa.
Yang membuatnya bersyukur, karena bisnisnya itu Siaman bisa menuntaskan sekolah anak-anaknya. Bahkan, menjadikannya dikenal dikalangan komunitas motor kuno, hingga orang rombengan (penjual barang bekas) diberbagai daerah. Mulai Blitar, Kediri, Banyuwangi dan Surabaya. Bahkan, motor kuno rakitannya terjual sampai Jakarta, Bali dan Semarang.
‘’Ini semua karena ketekunan. Semua pekerjaan atau bisnis kalau tidak tekun, percaya diri, teliti dan jujur tidak akan sukses,’’ tambahnya. (agung priyo)