Melihat Tradisi Nyadran Masyarakat Suku Tengger di Poncokusumo

Masyarakat Suku Tengger di Desa Ngadas Poncokusumo Kabupaten Malang, merayakan Hari Raya Karo, Selasa (9/10) kemarin. Puncak perayaan, diisi kegiatan nyadran atau berziarah ke makam keluarga yang digelar bersama-sama seluruh warga. Kegiatan ini diikuti seluruh warga dari dua dusun. Dusun Ngadas dan Jarak Ijo.

Pagi kemarin, sekitar pukul 08.30 WIB, suasana di sekitar pemakaman umum Desa Ngadas, terasa beda dari biasanya. Sejumlah warga tampak berkumpul di pinggir jalan yang menghubungkan ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) ini.
Diantara mereka, ada yang melakukan pengecekan sound system, memasang tenda, hingga ada yang langsung menuju pemakaman dengan membawa rantang berisi makanan dan bungkusan bunga ziarah.
Mereka ini sedang bersiap merayakan acara nyadran yang digelar setahun sekali oleh warga Desa Ngadas. Yakni saat bulan Karo, salah satu bulan dalam kalender adat Tengger.
Perayaan ini sebagai bentuk rasa syukur dan refleksi kehidupan mereka sehari-hari dalam hubungannya dengan sesama manusia, alam dan Tuhan.
Acara utama sendiri baru dimulai 12.30 WIB, dan seluruh warga sudah janjian akan berkumpul di area pemakaman itu sejak pukul 11.00 WIB. Meski demikian, ada juga dari mereka yang justru berangkat lebih pagi.
Suwati misalnya, nenek berusia 80 tahun yang datang bersama anak dan cucunya. Dia ziarah ke lima makam keluarganya. Meliputi kedua orang tua, suami dan kakak-adiknya. Dalam ritualnya, warga asli Ngadas ini membagi nasi dan lauk pauk yang dibawanya di rantang, untuk lima makam yang dikunjunginya. Tak lupa, dia yang dibantu anak-anaknya, juga menaburkan bunga diatas batu nisan satu per satu di makam keluarganya itu.
‘’Ini sudah adat kami setiap datang Hari Raya Karo. Berangkat ke makam dari rumah dengan bawa makanan, dan kemudian meninggalkan makanan di makam,’’ terangnya sembari mengaku tidak pernah lupa dengan para sanak keluarganya yang lebih dahulu meninggal dunia.
Keluarga lainnya, memilih berkumpul dulu di rumah, kemudian berangkat bersama-sama. Menyambut Karo ini, tiap warga juga menyiapkan jajanan atau suguhan ringan untuk tamu yang singgah ke rumahnya. Tak ubahnya seperti lebaran.
Setelah berkumpul, seluruh anggota keluarga diajak berangkat ke pemakaman. Baik anak-anak ataupun bayi, semuanya ikut. Praktis dalam suasana itu, tidak ada aktifitas bekerja. Bertani maupun anak-anak sekolah sengaja diliburkan demi menyambut Karo.
Suwati, juga membawa makanan ke makam. Hanya saja, dia memilih ziarah terlebih dahulu. Makanan yang dibawa, akan disantap setelah berdoa bersama yang dipimpin dukun adapt Tengger.
‘’Ziarah bersama ini punya makna. Salah satunya menjadi pengingat kami, bahwa yang sekarang masih hidup, akan mati dan dikubur seperti keluarga-keluarga kami yang mati duluan. Tidak ada pembeda. Ini adat kami. Jadi baik yang beragama Islam, Hindu dan Budha, semuanya sama-sama datang ziarah bersama-sama ke pamakaman,’’ terang Ponadi.
Pada acara ini juga hadir Ratna Nurhayati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang mewakili Bupati Malang, H Rendra Kresna yang mendadak bertugas ke Bali. Ratna menyempatkan singgah ke rumah kepala desa dengan melintasi jalan kampung di belakang rombongan kirab warga yang dihibur kesenian jaran joget dan bantengan. Dalam rangkaian perayaan Karo, juga digelar rangkaian kegiatan seperti Tayuban, Sesanthi, Tumpeng Gede dan Unjung-unjung.
Kartono, Kepala Desa, menyebut, perayaan Karo ini menjadi salah satu bentuk pelestarian budaya. Kegiatan ini juga menggambarkan kentalnya kebersamaan yang dibangun warganya di tengah-tengah kehidupan sehari-hari.
‘’Setiap tahunnya, kami menggelar perayaan Karo ini dengan biaya yang ditanggung murni dari warga. Tahun ini diperkirakan Rp 24 juta, belum termasuk penyambutan yang dilakukan di masing-masing keluarga. Jika semua ditotal mungkin menghabiskan Rp 150 juta,” terang Kartono. (poy heri pristianto)