Via Ciptalia, Calon Bidan yang Jago Sepak Takraw

MAHASISWI Kota Malang, beberapa waktu lalu sukses mengharumkan nama Jawa Timur (Jatim) dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012. Dialah Via Ciptalia, mahasiswi Akademi Kebidanan (AKBID) Wira Husada Nusantara (WHN). Seorang calon bidan yang juga menjadi salah satu andalan dalam tim sepak takraw dari Jatim. Gayanya saat melakukan smash bahkan sempat menjadi foto headline sebuah koran nasional.  Via dan Tim pun sukses memboyong dua medali emas dan satu perunggu sehingga mengantarkan Jatim menjadi juara umum Lomba Sepak Takraw.

Seragam putih-putih plus kerudung putih yang dikenakan Via, siang itu, membuatnya tidak terlihat menonjol saat berada di kampus. Bagi yang belum mengenalnya, mungkin tidak ada yang menyangka kalau dia adalah satu dari atlet terbaik Jatim untuk olahraga sepak takraw.
Kalau pada umumnya atlet wanita sepak takraw terlihat tomboy, berbeda dengan Via. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, badannya pun sedikit kurus dan gayanya juga sangat kalem. Tapi siapa sangka kalau smash maut nya selalu mampu mematikan lawan mainnya.
‘’Di Kampus saya ini belajar menjadi bidan yang telaten dan kalem. Tapi kalau di lapangan saya terbiasa bermain keras tidak boleh kalem,’’ ujarnya.
Dara kelahiran Blitar ini mulai mengenal olahraga sepak takraw sejak kelas dua SD. Orang tuanya di kampung sangat suka berolahraga dan mengenalkan kepada anak-anak mereka. Awalnya yang dikenalkan adalah olahraga volly. Namun Via mengaku lebih tertarik untuk belajar sepak takraw. Apalagi pada prinsipnya permainan takraw dan voly hampir sama. Hobinya ini terwadahi saat duduk di bangku SMP di SMPN 3 Srengat Blitar. Disana ada klub olahraga sepak takraw. Kemudian ia melanjutkan pendidikan di SMAN olahraga Sidoarjo melalui jalur beasiswa. Setelah menamatkan jenjang SMA, ia sempat berfikir untuk melanjutkan studi ke jurusan olahraga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
‘’Waktu itu kakak saya sudah kuliah di kebidanan di Malang, akhirnya saya memutuskan mengikuti jejak kakak saya di WHN Malang,’’ kata dia.
Meski banting stir dari sekolah olahraga ke kampus kebidanan, namun kecintaan Via terhadap sepak takraw tak putus. Bahkan pihak kampus memberikan dukungan penuh terhadap bakatnya. Sampai saat ini ia berhasil mengumpulkan sejumlah prestasi. Diantaranya dua perunggu POMNAS, satu perunggu POPNAS, dan medali emas Pra PON 2011.
‘’Impian terbesar saya adalah bisa ikut PON, dan saya bersyukur karena tahun ini bisa masuk tim Jatim,’’ ujarnya bangga.
Beruntungnya lagi, saat Via memperkuat kontingen Jatim tahun ini ternyata sukses memboyong medali emas. Dari target dua emas, kontingen sepak takraw putri Jatim berhasil memboyong lima emas, satu perak dan dua perunggu.
Anak ketiga dari tiga bersaudara ini telah sukses mewujudkan impiannya bertanding di PON. Karena itu saat ini ia ingin lebih konsentrasi dengan cita-citanya menjadi seorang bidan. Kesibukannya latihan dan kompetisi membuatnya seringkali meninggalkan kegiatan kuliah.
‘’Untungnya pihak kampus sangat mengerti aktivitas saya, bahkan tahun ini saya mendapatkan beasiswa gratis SPP,’’ ujarnya.
Menjadi bidan dan melayani masyarakat menjadi impian besarnya. Apalagi WHN memberikannya beasiswa untuk studi lanjut di program profesi atau D4 Kebidanan WHN. Saat ditanya apakah tidak tertarik menjadi atlet pelatnas, Via mantap menganggukkan kepalanya. (lailatul rosida)