Melihat Cara Bertutur Penggiat Folkore, Debu Nusantara

Jaman dulu, ketika media cetak dan elektronik belum dikenal, orang banyak bercerita dengan cara bertutur. Aktivitas itu sering disebut Folkore. Sayangnya, saat ini kegiatan itu mulai berkurang. Nah, sekelompok anak muda yang tergabung dalam Debu Nusantara, ingin membangkitkan kebiasaan tersebut.

Hutan Malabar yang biasanya sepi itu terlihat berbeda ketika hari Minggu sore. Terlihat puluhan orang berkumpul di hutan kota itu. Satu orang bercerita di depan, yang lain tampak asyik menyimak. Hari semakin sore, pengunjungpun semakin bertambah ramai.
Itulah aktivitas Debu Nusantara, sebuah kolektif bentukan anak-anak muda yang peduli dengan identitas bangsa Indonesia, melalui aktivitas bertutur folkore atau budaya lisan yang diwariskan secara turun-temurun.
Budaya lisan adalah dongeng, legenda, mitos, dan fabel yang berkembang di suatu daerah.  Sayangnya, hal ini kurang mendapat perhatian serius dari masyarakat.
‘’Kami terbentuk 8 Juli 2012. Awalnya hanya sebagai ajang diskusi saja, kemudian berkembang hingga memiliki aktivitas rutin bertutur folkore,’’ ujar Doni Ukik Wijaya penggiat Debu Nusantara.
Pria yang akrab disapa Doni menambahkan, penggiat Debu Nusantara terbentuk dari perorangan yang merasa kurangnya ruang bercerita kekayaan lisan Indonesia dan berkembang menjadi kolektif seperti sekarang.
‘’Indonesia memiliki kekayaan budaya lisan yang luar biasa. Setiap daerah pasti memiliki. Misalnya di Malang berkembang Ken Arok dan budaya lisan lainnya,’’ ujarnya. Meskipun berkembang di Malang, Debu Nusantara tidak hanya bertutur folkore Malang saja melainkan seluruh Indonesia.
Penutur yang menyajikannya terbuka untuk umum. Artinya siapapun yang ingin bertutur dapat berpartisipasi. ‘’Debu Nusantara ini tidak memiliki keanggotaan yang mengikat, siapapun bebas berpartisipasi dan siapapun boleh datang ke kegiatan Debu Nusantara,’’ ujar pria berambut gondrong ini.
Setiap dua minggu sekali, Debu Nusantara menyajikan satu atau dua cerita saja. Alasannya, penggiatnya kebanyakan masih mahasiswa dan memiliki kesibukan sendiri-sendiri.
‘’Hambatannya karena penggiatnya memiliki kesibukan masing-masing, sehingga belum banyak aktivitas Debu Nusantara,’’ beber Doni kepada Malang Post.
Beberapa folkore yang pernah disajikan Debu Nusantara ini antara lain Cerita Asal Muasal Penanggalan Jawa, Teluk Aman, Cerita Jambu Air dan Datu Beringe yang bisa dilihat di situs jejaring sosial. Penutur folkore bukan hanya warga Malang. Ada juga mahasiswa yang ingin bercerita folkore yang ada di daerah asalnya.
Untuk menyajikan cerita yang asli, Debu Nusantara juga melibatkan warga asli penutur folkore yang ingin disajikan. Bukan hanya itu, akademisi berbagai perguruan tinggi di Malang juga tertarik mengikuti aktivitas bertutur ala Debu Nusantara.
‘’Kami ingin mengedukasi masyarakat melalui kegiatan-kegiatan sederhana semacam ini agar kita dapat saling belajar memahami Indonesia dari budaya lisan,’’ ujar alumni ITN ini.
Doni menambahkan, kegiatan yang dilakukan Debu Nusantara ini sebagai wujud kewajiban warga Indonesia terhadap kekayaan budaya lisan yang dimiliki. Selain itu juga sebagai wujud perasaan memiliki identitas bangsa Indonesia.
‘’Kami berharap dengan kegiatan bertutur seperti akan meningkatkan kepedulian sosial mulai berkurang karena modernisasi,’’ ujar Doni. Pria yang tinggal di kawasan Bandulan ini menambahkan, Debu Nusantara tidak menyajikan kebenaran cerita tetapi hanya menyampaikan dan mengenalkan folkore yang berkembang di masyarakat dan mengembalikan persepsinya kepada penonton.
Ke depannya Debu Nusantara akan mengadakan workshop bertutur budaya lisan di berbagai daerah dan observasi ke daerah asalnya. Saat ini Debu Nusantara sedang dalam proses menyusun jurnal folkore yang nantinya bisa dinikmati masyarakat umum.  
‘’Awalnya dulu karena sering diskusi dengan teman-teman dan akhirnya tertarik mengikuti kegiatan Debu Nusantara,’’ ujar Pretty penggiat Debu Nusantara yang lain.
Mahasiswi asal Kalimantan ini menambahkan dengan mengikuti kegiatan Debu Nusantara dapat menambah teman dengan minat yang sama dan menambah wawasan budaya lisan. (winin maulidya saffanah)