Warga Bayar Rp 6 Ribu/Bulan, Jadi Rebutan Investor Asing

Kampung Mandiri Energi di Desa Talangagung Kepanjen

MUSELICH  menyalakan kompor gas untuk merebus air di dapur rumahnya siang itu. Di seberang tempatnya berdiri, ada meja lengkap dengan kompor gas lain dan tabung elpiji kemasan 3 kg serta sebuah tungku lengkap dengan kayu dan daun kering, dekat dengan kaki meja. Keduanya dalam keadaan mati. Dan, wanita berusia 70 tahun itu memilih menggunakan kompor gas metan (CH4) untuk merebus air kala itu.


“Niki kompore aman. Mboten nate mbledak. Enten lek setahun kulo ndamel niki (Ini kompornya aman. tidak pernah meledak. Saya sudah pakai sekitar satu tahunan,red),” kata Muselich pada Malang Post di dapur rumahnya.
Bertelanjang kaki di lantai tanah dapurnya, ia  kemudian  gesit dengan menunjukkan nyala kompor gas metan asal TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah di Talangagung yang mulai aktif sejak akhir tahun 2011 lalu. Apinya biru dan nampak rata. Kompor dan selangnya juga sama dengan kompor gas LPG. Terlebih semua perangkatnya diberikan gratis oleh pihak pengelola  TPA.
Bahkan, nenek 15 cucu ini mengungkapkan  hanya membayar perlu Rp 6000 setiap bulan untuk biaya perawatan jika ada keluhan terkait kompor gas metannya. Petugas TPA pun dengan ramah akan datang setiap saat dibutuhkan ke rumahnya yang berada sekitar 200 meter dari TPA sampah di Talangagung.
Muselich adalah satu dari 66 Sambungan Rumah Tangga (SR) penghuni Kampung Mandiri Energi di Dusun Kasin, Desa Talangagung Kecamatan Kepanjen. Kampung yang diresmikan bulan Desember 2011 oleh Gubernur Jawa Timur Soekarwo ini mendapatkan aliran gas metan dari proses Control Landfill di TPA Talangagung.
Aliran gas hasil pembusukan sampah yang ditimbun tanah saat ini masih terbatas pada sejumlah warga yang berdiam di sepanjang jalan keluar masuknya truk sampah. Pemerintah ingin merangkul warga dengan memberikan manfaat nyata dari sampah alih-alih bau busuk saja nyaris setiap hari.
 “Nggih  mboten purun tumbas, wong tirose gratisan. Lha mosok diwenehi ambune mawon. Lek ngeten kan saged ngrasakno manfaate  (ya tidak mau beli kompor gas metan, kan katanya gratis. Masak hanya diberi baunya saja, kalau begini kan bisa ikut merasakan manfaatnya,red),” ucapnya lagi.
 Nenek berwajah segar berpoles bedak beras itu memaparkan hanya menghabiskan satu tabung gas elpiji setiap bulan dengan memanfaatkan kompor gas metan, walaupun gas yang disalurkan dari pipa paralon itu belum bisa menyala sepanjang hari.
Gas yang disalurkan dari TPA tidak bisa stabil memasok gas selama 24 jam karena berbagai kendala. Operator TPA Talangagung, Dulkolim  segera  urun bicara. Menurutnya lima sumur timbun sampah memproduksi gas metan yang jumlahnya belum mencukupi untuk kebutuhan memasak 66 SR selama 24 jam penuh dalam satu bulan. Ditambah tenaga blower yang idealnya hanya mampu menyuplai 60 SR saja kini sudah kelebihan tugas akibat tingginya minat warga. “Sampah yang masuk memang kurang, semakin banyak yang ditimbun dan busuk semakin banyak gas metan yang dihasilkan,” jelasnya.
Untuk memasok gas TPA Talangagung menggunakan sistem Control Landfill. Awalnya sekitar 140 m3 sampah yang masuk perhari akan ditimbun dengan lapisan tanah setebal 50 cm.  Idealnya sampah organik akan membusuk sempurna setelah ditimbun selama 21 hari. Namun di TPA Talangagung timbunan dua hingga tiga hari mampu mengeluarkan gas metan. Di atas timbunan dipasang pipa paralon ukuran 4 hingga 6 dim untuk menangkap gas yang keluar. Pipa tersebut mengalirkan gas yang ditangkap menuju medium pemurnian gas metan yang dilengkapi dengan meteran air untuk mengukur tekanan. Gas akan diturunkan menuju kompor masing-masing rumah menggunakan blower untuk menekan laju gas. Pipa paralon ukuran 1,5 dim dipilih untuk menghantarkan gas dari TPA seluas 2,5 Ha hingga ke 66 SR dengan jarak terjauh sekitar 1 Km dari TPA.
“Permintaan dari warga sangat tinggi. Akhir tahun nanti kami targetkan ada 100 SR di sepanjang jalur yang dilewati truk sampah. Peningkatan kapasitas blower akan segera kami lakukan secepatnya,” tegas Kepala Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Gunawan Purwadi.
Selain itu,  TPA juga akan terus memperbaiki diri, diantaranya memfungsikan mesin pemisah sampah untuk memilah sampah organik dan non organik, sebab hanya sampah organik saja yang mampu diurai. Memanfaatkan air lindi sampah yang kini ditampung di sumur lindi untuk pupuk cair yang aman dan tidak berbau, serta mulai menggunakan sampah untuk pembakit listrik.
Gunawan menyebut seluruh sampah yang masuk berhasil diolah menjadi gas metan untuk menghasilkan api, hingga listrik. Selain kampung hemat energi, metan juga telah dimanfaatkan untuk membangkitkan generator berdaya 22 KVA. Hanya saja generator ini hanya mampu menyala 5 hingga 8 jam satu harinya akibat tekanan gas yang tidak mencukupi. Gas juga mulai dikemas dalam tabung freon bekas seberat 2 Kg untuk dipakai layaknya tabung gas LPG.“Gas kemasan dan listrik ini masih uji coba saja. Kami butuh peralatan yang lebih mendukung, sementara sudah ada beberapa investor yang ingin masuk. Kendalanya tentu di keberadaan dana. Tujuan besarnya nanti semua bisa ditanggung mandiri antara masyarakat dan pengelolanya,” imbuhnya.
Dalam kesederhanaan pengolaan, bau TPA ini nampaknya sudah tercium investor dari manca negara  bahkan dari benua lain. Misalnya investor dari Jepang, Prancis, Singapura dan Inggris. Bahkan, mereka semua berebut menawarkan program dan pendanaan sharing kepada Pemkab Malang. “Kendalanya hanya satu. Kami belum menemukan mitra dengan dana sharing yang realistis. Tanpa mereka kami juga terus berbenah, memanfaatkan sumber dana dan tenaga yang tersedia di sini,” tandasnya. ( Dyah Ayu Pitaloka)