Kocok Perut Pejabat, Kartolo cs Ajak Perangi Korupsi

Ludruk, saat ini tak hanya jadi media lelucon yang mengocok perut saja, tapi juga dapat menyampaikan pesan-pesan positif kepada masyarakat. Salah satunya untuk mensosialisasikan upaya pencegahan korupsi dan pemberantasannya. Tentunya lewat humor-humor segar mereka.

Ditengah adanya upaya melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui berbagai upaya, di Pendopo Agung Kabupaten Malang Sabtu malam kemarin, malah berupaya mendukung KPK untuk memberantas korupsi sampai akar-akarnya.
Upaya itu dilakukan dengan mensosialisasikan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Bedanya, pola itu disampaikan melalui kesenian tradisional ludruk.
Sosialisasi pencegahan dan pemberantasan korupsi itu, tidak menghadirkan pimpinan KPK. Tapi mendatangkan sang legenda ludruk, Cak Kartolo bersama Cak Sapari, Cak Suwito, Ning Tini dan anggota ludruk Tjap Tjempol yang didatangkan dari Surabaya.
Kehadiran Cak Kartolo, menjadi magnet bagi pecinta ludruk di Malang. Pendopo Agung Kabupaten Malang yang biasanya dipadati pejabat, Sabtu malam kemarin banyak masyarakat yang mendatangi Pendopo.
Acara itu juga dihadiri pejabat dari Kementrian Kominfo, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Nurhayati Ali Assegaf dan Bupati Malang Rendra Kresna serta para pejabat di Kabupaten Malang.
‘’Paling enak numpak motor, paling aman numpak sepur. Paling aman dadi koruptor, nek konangan ya ndek Singapur...’’ Parikan dari Cak Kartolo mengawali pentas ludruk langsung mengundang tawa dari pejabat yang hadir.
Begitulah kesenian rakyat selalu mempunyai cara untuk ‘menusuk’ lakon sosial politik dengan guyon parikeno, candaan yang membuat orang tertawa di tengah kepahitan panggung kehidupan negerinya.
Humor renyah, cerdas dan lugas, membicarakan realitas dalam setiap lakon, sekian cerita yang dibawakan begitu menampakkan lokal genius, khas Suroboyoan, ceplas-ceplos dan terkadang melantur dengan imajinasi liar yang dilakono Kartolo bersama lawan mainnya dari ludruk Tjap Tjempol.
Kenyataanya, lelucon Cak Kartolo, Sapari, Wito dan Tini mengocok perut pejabat dan politisi. Seperti Rendra Kresna, Nurhayati Ali Assegaf dan pejabat serta penonton yang memadati Pendopo Agung.
Mereka memang kampiun ludruk, seni pertunjukan tradisional Jawa Timur-an yang menjadi kanal rakyat kecil menyalurkan rasa resah dengan tertawa. Di tangan keempatnya, adu parikan yang merupakan salah satu pakem ludrukan yang sungguh mengocok perut.
Malam itu, Cak Kartolo membawakan lakon Kesandung Cinta. Di dalamnya, Kartolo menunjukan bagaimana kejujuran perlu ditegakan. Cak Kartolo Cs pun mengemas kririk-kritik sosial lewat parikan dan lakon-lakon yang menggelitik. Hal itulah yang membuat betah mendengarkan dagelan Cak Kartolo dengan alur cerita yang unik, terkadang mbulet namun senantiasa selesai dengan coro Ludruk.
‘’Ya, melalui pesan-pesan moral yang disampaikan melalui ludruk Cak Kartolo dapat disampaikan sosialisasi pencegahan dan pemberantasan korupsi. Karena kita semua sepakat untuk memerangi korupsi,’’ kata Rendra Kresna.
Korupsi tidak hanya menggerogoti uang negara saja, tapi juga korupsi waktu dan lainnya yang bisa merugikan masyarakat. Karena itu, orang nomer satu di Kabupaten Malang itu mengajak masyarakat dan pejabat dilingkungan Pemkab Malang untuk memerangi korupsi yang dapat merugikan negara dan rakyat.
‘’Sambil sosialisasi kita juga dihibur dengan parikan-parikan Cak Kartolo yang segar yang membuat kita bisa tertawa,’’ ujarnya.
Acara yang diselingi dengan dialog interaktif itu tetap dinanti para pecinta ludruk. Usai dialog interaktif, Kartolo CS kembali lagi dengan lakon kesandung cinta bersama ludruk Tjap Tjempol Surabaya. (muhaimin)