Melihat Kiprah Pengawin Anjing Satu-satunya di Malang Raya

Anjing bagi sebagian orang, menjadi hewan yang menakutkan. Jangankan menyentuh, melihat atau mendengar lolongannya saja, mampu membuat bulu kuduk berdiri. Namun tidak bagi Suyono. Bergumul dengan anjing, merupakan mata pencahariannya. Dia menjadi pengawin anjing pertama dan satu-satunya di Kota Malang. Bagaimana kisahnya?

Sosoknya sederhana. Ketika menemui Malang Post, dia hanya mengenakan kaos lengan panjang, tanpa kerah dan celana jeans pendek. Tapi sebagai sosok yang berumur, Suyono atau akrab dipanggil Pak No, terbilang energik.
‘’Maaf, agak lama. Tadi perkawinan anjingnya juga lama. Agak susah, karena si jantannya diberi makan sebelum kawin. Sehingga dia kekenyangan, kepanasan, gerah dan malah tidak mau menyentuh betinanya,’’ kata Pak No membuka percakapannya dengan Malang Post di kediamannya, di Jl Gadang Gang 15.
Anjing, memang berbeda dengan hewan lain dalam proses kawin. Binatang ini, harus dibantu dalam proses perkawinannya. Terutama pada proses penetrasi antara jantan dan betina.
‘’Kalau tidak dibantu seperti itu, tidak akan terjadi proses perkawinannya. Sebab, nanti si jantan akan selalu meleset (tak bisa penetrasi, Red.),’’ bebernya sambil tersebut. Padahal proses penetrasi itu sendiri, cukup lama. Antara setengah sampai satu jam.
Pak No sudah menggeluti pekerjaan itu sejak 1963. Selama itu, sudah ribuan anjing yang berhasil kawin dan mendapatkan keturunan atas jasanya. Namun tidak sedikit juga yang dinyatakan gagal dan harus kembali mengulang prosesnya.
Padahal awalnya, Pak No justru takut berurusan dengan anjing. Jangankan memegang, mendengar anjing menyalak saja sudah membuat laki-laki 62 tahun ini lari pontang-panting. Tapi, karena himpitan ekonomi pada 1963 dan perannya sebagai tulang punggung keluarga, yang harus menghidupi, dia dan ketujuh saudaranya menerima tawaran untuk mengawinkan anjing.
‘’Waktu itu saya baru lulus Sekolah Rakyat (SR) Sumber Rejo Bantur bekerja di Toko Samarinda yang menjual sarung. Kemudian, datang tawaran untuk menjadi pengawin anjing. Awalnya sempat saya tolak karena takut dengan postur anjing yang akan saya kawinkan, herder. Namun karena tergiur dengan upah yang akan didapatkan, akhirnya ya diterima saja,’’ katanya sembari menerawang asal mula terjunnya ke dalam jasa mengawinkan anjing.
Lama kelamaan, dari mulut kemulut, keahlian Pak No mulai menyebar. Namanya semakin terkenal di kalangan pemilik anjing. Terutama jenis langka dan berharga mahal. Tak jarang, dia menerima job hingga ujung selatan Malang atau Kota Batu.
‘’Dulu kalau hanya di wilayah Malang Kota saja, cukup pakai sepeda pancal. Tapi jika sampai ke Malang Selatan atau Kota Batu, saya minta jemput. Sudah seperti raja saja. Padahal hanya mengawinkan anjing,’’ ceritanya sembari tergelak.
Selama 39 tahun berkiprah, banyak suka dan duka yang dia alami. Salah satunya adalah resiko cidera ketika berusaha memegangi anjing jantan. Terutama untuk jenis yang dikenal galak. Seperti herder, bulldog atau rottweiler. Pak No mengaku pernah terkena cakaran dari anjing rottweiler saat dia berusaha mengawinkannya.
‘’Rottweiler itu terkenal paling galak dari semua ras anjing. Ketika kawin tenaganya cukup besar. Ketika saya coba pegangi untuk naik di atas betinanya, tiba-tiba lengan kanan terkena cakaran. Cukup parah waktu itu. Tapi untungnya masih bisa disembuhkan,’’ ceritanya.
Menurutnya, yang paling mudah dikawinkan adalah anjing dengan postur yang besar. Alasannya, tidak sulit untuk menemukan  kemaluannya. Sementara itu anjing yang cenderung lucu dan imut seperti pudel atau pom-pom, terkenal sulit dikawinkan sebab  kemaluan jantannya cenderung kecil.
‘’Herder itu sebenarnya mudah dikawinkan, sebab cukup kooperatif. Posturnya besar dan tidak begitu agresif. Sementara bulldog, sangat agresif dan memiliki waktu penetrasi yang cukup panjang, antara setengah jam hingga satu jam,’’ terangnya.
Tidak hanya mengawinkan anjing saja, Pak No juga menerima jasa mencarikan pasangan bagi anjing betina. Dalam perkawinan ini, tentunya pejantan yang berkualitas yang menjadi pilihan. Sementara betinanya, menurut kakek lima cucu ini, memiliki kewenangan dalam memilih jantan. Si pemilik anjing betina harus membayar kepada pemilik anjing jantan untuk sekali perkawinan. Biaya perkawinannya cukup besar, sekitar Rp 2 juta.
‘’Kalau saya tidak mendapat sebesar itu, sekitar 10 persen saja. Kalau si pemilik betina tidak mau membayar, sebagai gantinya ketika betinanya melahirkan, pemilik jantan berhak memilih anak anjing yang paling bagus sebelum pindah tangan. Sebagai perbandingan saja, anak anjing coco berusia dua bulan saja seharga Rp 6 juta,’’ urai dia.
Setiap hari bergumul dengan anjing tidak membuatnya capek. Namun satu hal yang dia pikirkan saat ini, laki-laki empat orang anak ini mengaku tidak memiliki penerus keahliannya. Sebagian anaknya hidup di luar kota, sementara yang lainnya tidak tertarik untuk mengawinkan anjing.
‘’Untung saja saya ini diberi kesehatan yang bagus, tidak pernah sakit padahal usia sudah kepala enam. Jadi masih terus bisa mengawinkan anjing. Semoga masih diberi usia yang panjang,’’ tutupnya berharap. (dian ayu antika hapsari)