HIPPAM Mandiri Arjowinangun Terbaik di Jatim

AWALNYA diragukan, bahkan sempat diprotes. Tapi kini jadi oase dan mengharumkan nama Kota Malang di tingkat Jawa Timur. Itulah kisah Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) Mandiri, Kelurahan Arjowinangun. HIPPAM yang baru saja sabet juara satu terbaik seluruh Jawa Timur ini pun menyelamatkan warga dari diare dan muntaber serta mengatasi persoalan air minum.
 
Warga Arjowinangun sedang berbangga. Prestasi HIPPAM Mandiri jadi topik pembicaraan warga. Bahkan di halaman kantor kelurahan Arjowinangun, terdapat spanduk besar yang bertuliskan ucapan selamat kepada HIPPAM Mandiri yang menjadi HIPPAM terbaik Jawa Timur.
Harum namanya dan manfaat yang besar itu, tak diukir dalam waktu yang singkat. Pengurus HIPPAM Mandiri bekerja keras dalam waktu yang terbilang lama. Bahkan penuh liku dan tantangan.
HIPPAM Mandiri sebenarnya sudah dibentuk sejak tahun 1994.  Awalnya hanya memiliki sekitar 100 pelanggan. Air yang dialirkan ke rumah warga pun tak sebening sekarang.
‘’Dulu airnya diambil dari Sungai Kali Anyar di sekitar Tlogowaru yang dialirkan ke dalam bak penampung. Kemudian dialirkan ke pelanggan,’’ kisah Sekretaris HIPPAM Mandiri, Drs Talib MPd.
Karena airnya disedot dari sungai, maka kualitas dan kuantitasnya pun serba terjepit. ‘’Kalau kemarau, airnya sedikit. Saat hujan, air keruh. Akibatnya saat itu ada pelanggan yang terkena muntaber,’’ kenang Talib.
Maklum, saat itu pemukiman baru bertumbuh di Arjowinangun. Disisi lain, kawasan itu juga memiliki sumber air yang terbatas. Warga tak memiliki sumur.
Fenomena ini mulai berubah ketika HIPPAM Mandiri dikelola secara profesional sekitar tahun 1999. Berawal dari program sumur bor, kemudian mulai dikelola secara professional.
Tapi ketika akan dikelola secara professional, ada saja yang  meragukan bahkan protes. ‘’Ada yang  protes karena air  tidak lancar,’’ terang Talib.
Keraguan dan protes bukan jadi alasan untuk mematahkan semangat. Justru kreatifitas pengelola semakin terasah. Seiring waktu, air yang dikelola HIPPAM Mandiri semakin lancar karena menggunakan sumur  bor. Bahkan airnya bening.
‘’Total pelanggan saat ini sudah mencapai 782 orang. Memang pelanggan terus bertambah,’’ kata Talib yang sehari-harinya menjabat Kasubbag Pendidikan, Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang (UM) ini.
Dengan jumlah pelanggan yang terus bertambah, HIPPAM Mandiri dikelola layaknya perusahaan air minum profesional. Kini memiliki kantor sendiri lengkap dengan karyawan dan sistem kerja yang berbasis teknologi.
‘’Punya sistem manajemen dan karyawan yang bekerja secara professional. Yakni  tiga pengurus, satu petugas administrasi, tiga teknisi, empat pencatat meteran, tiga orang pengawas dan tiga orang petugas keamanan,’’ papar Talib.
Peraih prestasi tenaga administrasi berprestasi  tingkat nasional 2009 ini menggunakan sistem pencatat meteran pengguna air. Semua data pencatatan meteran diolah di komputer  untuk mengetahui tagihan pelanggan pada setiap bulan.
Sistem langganannya pun professional. Pemasang baru dikenai biaya sekitar Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta. Harga air dijual dengan berbagai ukuran dengan sistem tarif progresif agar pelanggan menggunakan air sesuai kebutuhan.
Yakni penggunaan air 1-10 meter kubik dihargai Rp 10 ribu, penggunaan 11 sampai 20 meter kubik terkena biaya sebanyak Rp 15 ribu.  
Sedangkan pengguna air dalam hitungan 21 sampai 30 meter kubik terkena biaya Rp 20 ribu. Selain itu terkena biaat adminstrasi sebesar Rp 3.500 per bulan. Rp 1.000 dari biaya administrasi Rp 3.500 merupakan dana amal Yayasan Seribu Muslim.
Pendapatan HIPPAM Mandiri pun terus bertambah. Jika dihitung sejak tahun 2007 sampai saat ini, HIPPAM Mandiri memiliki pendapatan sebesar Rp 286 juta. ‘’Ini pendapatan bersih. Kalau pendapatan kotor diatas Rp 1 Miliar,’’ katanya.
Pendapatan bersih yang dimiliki itu sudah dipotong biaya operasional dan berbagai sumbangan sosial. Soal sumbangan sosial, memang menjadi salah satu perhatian seriusnya.
Setiap bulan  Suro selalu memberi sumbangan kepada yatim piatu, setiap bulan Ramadan juga memberi santunan kepada kaum dhuafa. Setiap ada permohonan bantuan dana pembangunan mesjid dan mushola pasti dibantu. Bahkan saat kegiatan bersih desa, HIPPAM Mandiri memberi sumbangan sampai Rp 20 juta.
Seturut berkembangnya layanan, pengurus HIPPAM Mandiri meningkatkan mutu pelayanan. Setiap enam bulan sekali dilakukan pemeriksaan air di laboratorium milik Dinas Kesehatan Kota Malang. Tujuannya agar kualitas air tetap terjaga.
Pengurus juga mengutamakan ramah lingkungan. Salah satu contohnya, disetiap pemasangan pipa yang menyebrang jalan, petugas HIPPAM Mandiri tak menggali permukaan jalan. “Kami gunakan sistem bor. Jadi dibor dibawah jalan untuk memasukan pipa,” terangnya.
Selain itu juga memiliki mobil operasional lengkap dengan petugas yang melakukan fungsi pemeliharaan. Tujuannya agar mutu pelayanan pelanggan tetap terjaga. Kini masyarakat tak lagi protes. Ketersediaan air tak lagi jadi persoalan.
Berbagai kalangan jadi terkagum-kagum. Karena itu pula, HIPPAM Mandiri menyabet juara 1 HIPPAM terbaik kategori besar untuk HIPPAM di seluruh Jatim. Kelebihannya pada aspek teknis, manajemen dan keuangan.
Mariyam, warga Jalan Raya Arjowinangun menjadi salah satu warga yang menikmati air yang dikelola HIPPAM Mandiri. “Dulu air keruh, warga sering sakit. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” katanya. (vandi battu)