Ketika Mahasiswa Membuka Layanan Pijat di Poliklinik UM

KATA ‘pijat’ masih sering melekat dengan image negatifnya. Lalu bagaimana kalau pemijat itu adalah para mahasiswa. Layanan pijat mahasiswa ini kini bisa dinikmati di  Sport Massage yang dibuka fakultas ilmu keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Malang (UM).

Jemari Yuni Fitria, menari lincah diatas kaki pengunjung stand Sport Massage yang dibuka di Gedung Graha Cakrawala UM kemarin. Dengan cekatan dan lembut ia memijat perlahan hingga membuat ‘pasien’ nya rileks.
Yuni adalah mahasiswa FIK UM yang menjadi salah satu masseur di Sport Massage UM. Ada sembilan mahasiswa dari sekitar 50 orang peserta mata kuliah yang dinyatakan memiliki keahlian dan keterampilan untuk menjadi masseure.
‘’Saya belajar massage ini pada semester enam, selain itu di rumah saya juga sudah belajar membuka praktik sendiri,’’ ungkap Yuni.
Stand Sport Massage UM sejak Selasa lalu dibuka di area pameran akademik di Gedung Graha Cakrawala. Ajang ini sekaligus menjadi agenda softlaunching dari layanan massage yang dikelola dosen dan mahasiswa FIK itu.
Tak hanya Yuni yang terlihat mahir menemukan otot-otot tegang dan membuat menjadi rileks kembali. Mahasiswa lainnya seperti Iin Harianti, Mula Wiji Lestari juga tak kalah mahir. Hanya saja mereka belum berani seperti Yuni yang anak seorang pemijat di Blitar untuk mempraktikkan keahliannya di daerah asal mereka.
”Saya baru berani memijat saudara-saudara dan kerabat saya di rumah,’’ ujar Mula yang berasal dari Kasembon.
Memijat ala mahasiswa FIK ini memang tidak asal pijat saja. Mereka sebelumnya telah dibekali ilmu massage selama satu semester. Ilmu memijat ini memang tidak sederhana.
Untuk memijat kaki misalnya ada beberapa teknik yang harus dikuasai mahasiswa. Seperti petrisase, eflorase, dan shaking. Begitu pula dengan teknik memijat kepala, punggung dan anggota tubuh lainnya.
Menurut Dosen Massage FIK UM, Dra Setyorini M.Pd memijat dengan teknik yang benar adalah dengan arah pijatan menuju jantung.  ‘’Jika pijatan tidak diarahkan menuju jantung dikhawatirkan klep pembuluh darah bisa rusak,’’ kata dia.
Mahasiswa yang menjadi massure, lanjutnya, harus lulus beberapa mata kuliah. Diantaranya mata kuliah anatomi, kinesiologi, kewirausahaan dan etika. Mata kuliah etika ini menjadi titik tekan pada mahasiswa yang akan menjadi pemijat.
‘’Pijat itu selama ini konotasinya masih negatif, karena itu mahasiswa harus menjadi contoh bahwa pemijat itu punya etika,’’ tegasnya.
Karena itulah saat memberikan layanan pemijatan, harus ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan. Termasuk mengenai penataan tempat yang juga harus tertutup dan aman.
Layanan Sport Massage milik UM saat ini dibuka di Poliklinik UM. Ada beberapa paket yang ditawarkan mulai dari pijat kaki, tangan atau seluruh tubuh. Biayanya mulai Rp 20 ribu sampai Rp 75 ribu. Meski mahasiswa dibekali menjadi masseur bagi atlet namun tidak menutup diri pada masyarakat umum. Terutama yang lelah dan penat dengan beban kerja dan ingin rileksasi maka bisa datang ke layanan Sport Massage tersebut.
‘’Kami persilahkan untuk siapa saja yang lelah dan ingin rileksasi untuk mencoba layanan kami,’’ beber alumni Sekolah Guru Olahraga (SGO) Surabaya ini.
Karena pijatan yang dilakukan bertujuan untuk rileksasi, maka setelah dipijat biasanya efek yang dirasakan adalah tubuh menjadi segar, makan dan tidur pun nyenyak. Pijat ini juga bisa menimbulkan kesegaran dan kebugaran tubuh setelah penat melanda.
Ia berharap kedepan mahasiswa juga bisa dibekali dengan teknik pemijatan untuk kecantikan. Saat ini sudah ada tenaga ahli dalam bidang pijat kecantikan dan akan dilibatkan untuk memberi bekal lebih pada mahasiswa FIK UM.
‘’Target kami adalah membekali mahasiswa dengan jiwa wirausaha, dan kembali kepada masing-masing individu lagi apakah mereka malu bekerja sebagai masseur atau tidak,’’ pungkasnya. (lailatul rosida)