Sempat ‘Dikalahkan’ Hemifasial Spasm, Kini Karyakan 33 Orang

Home Industry Bordir Kain Belacu yang Tembus Pasar Internasional

TIDAK terbersit dalam pikiran pemilik home industry bordir aplikasi kain belacu, Sri Yuliatiningsih, bahwa dirinya akan diserang Hemifasial Spasm dan musti menjalani operasi tahun 2011. Usaha home industry bordir aplikasi belacu yang dibesarkannya harus mandeg sejenak. Tapi, karena semangat dan dedikasinya terhadap pekerjaan,  usahanya kini telah  berhasil merambah pasar internasional dengan omzet puluhan juga setiap bulan.

Senyuman ramah terus diberikan oleh Sri Yuliatiningsih kepada Malang Post, yang bertandang ke rumahnya di Ranu Grati Sawojajar Kota Malang. Sambutan akrab dari wanita yang akrab disapa Bu Hendry (diambil dari nama suaminya Endri Subagyo,red) itu tak sedikitpun menunjukkan bahwa ia sedang dalam masa pemulihan dari operasi Hemifasial Spasm, penyakit yang membuat mata kedutan terus menerus.
‘’Syaraf matanya gandeng dengan syaraf nadi, jadinya mata kedutan terus menerus,’’ terang Sri kepada Malang Post. Penyakit ini sempat membuatnya terbaring sakit di rumah sakit Surabaya tahun 2011. Saat itu, Star Collection, usaha yang dirintisnya sejak  tahun 1980-an sedang menanjak dan naik daun.
Sri harus menjalani operasi untuk menghilangkan kedutan mata yang sebenarnya sudah diderita sejak lama. Namun, ibu lima orang anak ini tergolong wanita yang gila kerja. Karena itu, begitu operasi selesai, ia hanya berbaring gelisah di ranjang rumah sakit selama lima hari saja.
‘’Tangan saya gatal kalau tidak bekerja. Apalagi saya juga memikirkan pekerja-pekerja saya yang butuh pangan, tentu saya tak bisa enak-enak tidur di rumah sakit,’’ ungkap wanita kelahiran 1959 itu.
Hanya saja, kini Sri tak bisa berlebihan dalam bekerja. Masa pemulihan membuatnya tidak boleh keluar rumah sama sekali.
Dulu, ketika masih sehat, Sri bisa bekerja dari pagi hingga pagi lagi. Sekarang, ia tidak bisa keluar rumah karena kondisi fisik yang masih rentan.
Saat mengerjakan aplikasi bordir, Sri harus membatasi diri. Begitu terasa capek, ia mesti menghentikan pekerjaan membordir berbagai produk andalannya, yakni cempal, tempat tisu, serbet, tutup galon hingga korden.
Kendati fisiknya menurun, semangat Sri tak pudar sedikitpun. Keceriaan dan gairah kerja Bu Hendry sebelum sakit masih tetap sama setelah operasi Hemifacial Spasm.
Semangat ini jugalah yang membuat usahanya berkembang. Dibantu anak keempatnya, Diah Catur Ary Candra yang berperan memasarkan produknya di dunia maya, produk aplikasi bordir miliknya telah dijual ke berbagai pelosok kota di Indonesia.
Bahkan,  usahanya  berhasil membanggakan Kota Malang karena produk dengan banderol harga mulai Rp 10 ribu sampai Rp 400 ribu itu bisa diekspor ke luar negeri.
‘’Kita kirim ke negara seperti Hongkong, Amerika Serikat dan Australia,’’ terang Sri. Tapi, kemampuan untuk memberi penghidupan bagi 33 pegawainya adalah kebanggaan sejati bagi Sri.
Selain itu, yang juga tak kalah membanggakan, usahanya telah meraup omzet bulanan mencapai Rp 30 juta. ‘’Padahal dulu hanya bermodal satu meter kain belacu seharga Rp 1.250, sekarang setidaknya kami menghabiskan puluhan meter sebulan,’’ tambah Sri.
Ia berharap, usahanya yang telah meluluskan kelima anaknya dari bangku kuliah itu bisa tetap berjalan untuk menafkahi puluhan pegawainya. (fino yudistira)