Lewat Siswa yang Guru Ngaji dengan Karya Busana Daur Ulang

SMKN 3 Malang Juara 1 Lomba Jawara SMK Tingkat Propinsi

SISWA SMKN 3 Malang sukses mengharumkan Kota Malang dalam ajang lomba tingkat propinsi Jawara SMK (Kejuaraan Siswa Berkarya). Adalah Masita Turrahmah dengan karyanya busana dari bahan daur ulang, menjadi menentu dan mengantarkan sebagai juara satu lomba Jawara SMK yang digelar 18-19 Oktober kemarin di Hotel Purnama Kota Batu.

Cantik, pintar, dan memiliki jiwa sosial tinggi. Setidaknya itulah gambaran yang bisa mewakili sosok siswi kelas XII Busana Desain 1 SMKN 3 Malang itu. Masita memang pantas dibanggakan. Ia berhasil menyisihkan peserta dari 38 kota kabupaten di Jawa Timur dalam Lomba Jawara SMK untuk kategori Pariwisata.
‘’Sempat grogi juga dan tidak menyangka bisa menjadi juara satu dalam lomba ini,’’ ungkap Masita ditemui di Edotel SMKN 3 Malang kemarin.
Pilihan juri memang tidak berlebihan kalau memenangkan sosok siswa kalem ini. Duta Lingkungan SMKN 3 Malang ini tidak hanya pandai secara akademis, namun banyak hal mengagumkan yang sudah ia lakukan di usianya yang masih remaja.
Ia setiap hari harus menempuh perjalanan satu jam dari Kromengan menuju sekolah. Keinginan kuatnya untuk bisa belajar desain busana menghapus jarak yang cukup jauh. Tak hanya itu ia pun saat ini sudah membuka layanan jahitan baju di rumahnya.
‘’Saya suka membuat desain dari bahan kain perca dan bahan daur ulang, seperti untuk baju dan juga asesoris,’’ ujarnya.
Desain busana bahan daur ulang itu juga yang memesona para juri lomba. Busana yang dibawa Masitha sebagai produk unggulan adalah gaun daur ulang dengan teknik Teksmo dengan brocat.
Gaun ini memanfaatkan bahan daur ulang seperti perca, plastik, kertas dan sabut kelapa. Selain itu ia juga membawa aneka pernak-pernik dan asesoris yang menjadi koleksi di rumahnya.
‘’Baju daur ulang ini menurut saya bisa menjadi andalan Kota Malang untuk menarik wisatawan,’’ ujarnya.
Jawaban itu pula yang ia berikan dihadapan para juri saat malam grand final. Menurutnya dengan mempopulerkan busana daur ulang maka ada yang istimewa dan bisa dicari oleh wisatawan, selain itu juga bisa menjadi langkah kecil untuk mengurangi sampah di perkotan.
Siswi berjilbab ini tak hanya terampil dalam bidang desain busana saja, ia juga memiliki jiwa sosial yang tinggi. Di kampungnya, anak kedua dari tiga bersaudara ini adalah seorang guru ngaji.
‘’Saya senang mengajar anak-anak, karena itu saya juga dengan senang hati membuka bimbingan belajar bagi mereka,’’ kata dia.
Masita dipilih oleh sekolah karena memiliki nilai akademis yang tinggi. Menurut salah satu guru pembimbingnya, Ani Indriani seleksi untuk mencari perwakilan sekolah ini diawali dengan tes di lingkungan internal sekolah. Sebab dalam seleksi lomba Jawara SMK tersebut ada materi tes akademis yang harus diselesaikan oleh peserta.
‘’Ada tim guru yang dibentuk untuk menyiapkan siswa agar bisa memberikan yang terbaik,’’ bebernya.
Kepala SMKN 3, Dra Aksihari M.Pd menuturkan bekal keterampilan yang baik sangat diperlukan bagi siswa SMK. Harapannya agar setelah lulus siswa bisa langsung mandiri dan bekerja.
”Ajang lomba ini menjadi pembuktian bahwa SMK bisa, dan menjadi bukti kebersamaan para guru di sekolah,” bebernya. (lailatul rosida/adv)