“Kok Masih Rugi Ya?”

Setengah Jam Bersama Menteri BUMN di Bandara Abdurachman Saleh

Sosok Dahlan Iskan benar-benar mencuri perhatian banyak pihak. Termasuk, Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang yang kebetulan sempat bertemu di Bandara Abd Saleh. Berikut tulisan pria yang akrab disapa Bung Edi tentang Dahlan Iskan, yang dituturkan dengan gaya saya.

Tanpa dinyana, usai mengikuti upacara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP), Sabtu (20/10) pagi lalu, saya bertemu dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan, sosok yang kini menjadi salah satu pusat perhatian publik.
Semua orang pasti kepingin bertemu dengan mantan wartawan yang kini masih aktif menulis tersebut. Demikian pula saya. Meski agak malu-malu, saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan baik itu untuk berbincang. Meski agak singkat.
Siang itu saya akan ke Jakarta berkaitan dengan acara partai. Cuaca agak tidak menguntungkan, sehingga maskapai Garuda memutuskan untuk tidak mendarat di Bandara Abd. Saleh. Sehingga, Sabtu siang itu penumpang memilih naik Sriwijaya Air, termasuk saya.
Eh, ternyata Pak Dahlan juga naik Sriwijaya. Pria pekerja keras itu tampak ditemani beberapa orang. Saya merasa mereka bukan dari kementerian. Mungkin kebanyakan dari kalangan pers. Sebab diantara para pengantar itu ada Pemimpin Redaksi Malang Post, Sunavip Ra Indrata.
Saya mendekat. Dengan senyumnya yang khas Pak Dahlan menyalami saya. Ah, betapa santai penampilan tokoh ini. Seperti yang terlihat di berbagai media, mantan Direktur Utama PLN itu mengenakan kemeja putih santai.
Lengannya dilipat hingga tiga perempat. Terus, yang juga selalu menjadi ciri khasnya, sepatu kets dengan logo DI. Sangat jauh dari kesan formal. Dalam pertemuan singkat itu, saya sungguh mendapatkan pelajaran yang amat berharga dari sosok pekerja keras tersebut.
Beberapa menit sebelum memasuki badan pesawat, Pak Dahlan menyempatkan melihat-lihat kondisi Bandara Abd. Saleh sambil sesekali mengobrol dengan saya dan tentu saja juga dengan beberapa orang lainnya.
Pria yang fasih berbahasa China itu melihat hamparan tanaman tebu di sekeliling bandara. ‘Lahannya masih sangat luas ya. Tebu ini dalam satu tahun panen berapa kali ya? Mungkin maksimal dua kali,’’ cetusnya seraya mengerutkan dahinya.
Tidak banyak memang yang diungkapkan Pak Dahlan menyoal bandara di Malang Raya itu. Tapi, satu kalimat pendek terakhir yang dilontarkan Pak Dahlan yang terus saya ingat beberapa detik sebelum naik pesawat adalah, ‘’Kok masih rugi ya!’’
Kalimat pendek itulah yang terus saya bayangkan selama pesawat mengarungi dirgantara menuju Jakarta. Kalimat itu seakan sudah bercerita lengkap mengenai kondisi Bandara Abd. Saleh.
Flight dari bandara Abd Saleh terbilang cukup padat. Ada empat maskapai yang melayani penerbangan di sana. Yaitu Sriwijaya Air, Garuda Indonesia, Batavia Air dan Wings Air. Dari tiga maskapai tersebut, hanya Wings Air yang melayani flight Malang-Denpasar, ketiga lainnya tujuan Malang-Jakarta.
Kapasitas angkut penumpang maksimal kurang lebih 700 orang. Kecuali, untuk hari libur tertentu bisa melonjak hingga 900 orang. Konon, sekarang ini tengah dibahas untuk menambah jadwal penerbangan supaya lebih banyak lagi penumpang yang bisa diterbangkan.
Celetukan Pak Dahlan tentang masih luasnya lahan di sekeliling bandara tersebut menyiratkan betapa fasilitas itu bisa ditingkatkan menjadi bandara internasional. Hal ini bukan tidak mungkin dilakukan karena secara geografis, Malang Raya kini cukup strategis.
Mobilitas manusia menuju dan keluar dari wilayah Malang Raya kian meningkat. Hal ini ditandai dengan semakin padatnya lalu-lintas di berbagai ruas jalan. Kepadatan lalu-lintas itu kini tidak peduli hari libur atau hari efektif. Setiap hari lalu-lintas di Malang pasti padat.
Indikator lainnya, adalah semakin banyaknya fasilitas-fasilitas yang dibangun oleh kalangan swasta. Salah satunya adalah hotel. Beberapa waktu yang lalu, Walikota Peni Suparto pernah mengungkapkan, di Kota Malang segera dibangun sembilan hotel baru yang disertai dengan ruang konvensi. Beberapa di antaranya kini sudah terlihat tengah dikerjakan pembangunannya. Yang sudah mulai digunakan adalah sebuah hotel baru di Jalan Letjen Sutoyo.
Jika Bandara Abd. Saleh bisa meningkat menjadi berstatus internasional, maka hal ini akan mendorong dengan semakin cepat pembangunan di wilayah Malang Raya. Tentu, hal itu juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
Malang Raya akan dengan segera menjadi salah satu wilayah bisnis yang penting di Indonesia. Apalagi, wilayah Kabupaten Pasuruan dengan ribuan pabriknya yang kini lebih dekat dijangkau dari Malang. Ini menjadi potensi tersendiri jika status Bandara Abd. Saleh menjadi bertaraf internasional.
Saya yakin, insting Pak Dahlan ini bukan tanpa dasar. Naluri bisnis pria kelahiran 17 Agustus 1951 itu terkenal sangat tajam. Di tangannya, beberapa perusahaan yang kondisinya mati suri atau sakit-sakitan bisa sembuh dan menghasilkan laba.
Instingnya mengenai Bandara Abd Saleh tentu tidak salah. Bandara ini pasti akan bisa lebih besar lagi. Cuma, yang masih menggelitik saya hingga saya tulis catatan ini adalah celetukkannya : ‘’Kok masih rugi ya?’’ (***)