Genderang Djembe Produksi Ibu Rumah Tangga di Sumber Pucung

GENDERANG  Djembe yang  selalu  dimainkan dalam aliran musik reggae selama beberapa waktu terakhir banyak diproduksi di Kabupaten Malang. Salah satunya  produksi Ana Agustina,  ibu rumah tangga   di Desa Ngebruk, Kecamatan Sumber Pucung Kabupaten Malang. Bahkan, produksinya laris manis diekspor hingga ke manca negara.


Siang itu, di sebuah rumah berpagar warga hitam kombinasi pink, terlihat seorang ibu rumah tangga (RT) sedang momong buah hatinya. Dia coba mengikuti kemana arah si balita itu berlarian di teras rumahnya. Ibu RT itu menyarankan Malang Post membuka sendiri pagar rumahnya, setelah mengetahui ada yang bertamu. Wanita muda ramah kelahiran Malang, 14 Agustus 1976 itu adalah Ana Agustina.
Di kampungnya, Ana cukup terkenal, mungkin karena termasuk bagian dari salah satu keluarga terpandang. Namanya juga dikenal di jajaran Kantor Camat Sumberpucung karena genderang Djembe produksinya terekspor hingga ke tanah legenda musik reggae, Bob Marley yaitu  Jamaika. Luar biasa, dalam kurun dua bulan, dia mengirim antara 1800-2000 buah genderang Djembe produksinya. Selain Djembe, juga diproduksi calti, terbang, hajir dan bedug.  
‘’Hampir tujuh tahun saya menekuni usaha ini. Awalnya membantu kakak, suami kakak saya (Hesti Wuri, Red) itu kerja sebagai sopir bus, kemudian punya kenalan di Bali, tukang pembuatan Djembe. Setelah saya berkeluarga, kemudian saya membuat usaha sendiri, juga saat memasarkannya,” aku ibu dua anak ini.
Ana kemudian mengungkapkan bahwa  mengawali usahanya dengan membuat Djembe mentahan, atau belum siap pakai karena perlu tahapan bubut, ukir, panting dan pasang kulit. Produknya dipasarkan ke Bali. Di tahun pertama buka usaha, dia kemudian diajak Dinas Koperasi dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang untuk ikut pameran home industri di Jakarta. Dari ikut pameran itu, dia lantas Kemudian saya dapat ‘tamu’ dari berkebangsaan India yang kemudian mulai pesan Djembe dan dikirim ke Jamaica.
‘’Tamu ini seperti broker yang kemudian membawa hasil produk Djembe saya ke Jamaika. Djembe saya dipakai untuk upacara adat. Satu order berisi dua dan tiga kontrak. Jumlah barangnya ada 1800-2000 genderang. Tapi, seluruh produknya diminta hangtag dan berlabel Jamaika, bukan Viola Shop, usaha milik saya. Setelah pameran itu, broker ini hanya dua kali bertemu dan pernah datang ke rumah,” terang istri dari Bambang Pujihartono sembari sedikit kecewa karena produknya tidak bisa pakai label usahanya.
Dari pesanan itu, tepat saat usahanya masuk tahun kedua, Ana lantas meningkatkan kualitas produksi Djembe hingga kategori jadi atau siap pakai. Sembari dibina Dinas Koperasi, produknya dipasarkan dari harga Rp 12.500 sampai Rp 2,5 juta, dari yang bertinggi 12 cm sampai 50 cm, sedangkan untuk ukuran diatas 60 cm keatas dihitung per inci pada tiap ringnya. Selain Afrika, dia juga melayani pesanan langganannya ke negeri Kangguru, Australia.
‘’Biasanya, setiap orderan itu, terdapat tiga lembar kontrak kerja. Untuk nominalnya, ya hasilnya lumayan bisa membantu suami untuk kebutuhan keluarga,” ucap wanita beromset industri puluhan juta ini.
Sebagai wanita, dia bangga dengan apa yang sudah dirintisnya. Meski mulai sebelum lebaran sampai sekarang, dirasakan ada penurunan jumlah orderan yang dikarenakan akibat kenaikan bahan genderang yang berasal dari kulit kambing. Untuk bahan lainnya tidak ada masalah, seperti kayu Mahoni sebagai bahan body Djembe didapatkannya dari Gunung Kawi. Untuk kulit kambing, dia harus hunting di beberapa kota, seperti Srengat, Blitar dan Tulungagung.
‘’Saya ini tidak bisa diam, senangnya kerja, kalau nggak kerja itu nggak enak. Selain untuk bantu suami, saya juga bangga bisa ikut mengangkat nama baik Sumber Pucung, Kabupaten Malang, dan provinsi Jawa Timur. Meski tidak sehebat wanita karir lainnya, karena belum bisa mengekspor produksi Djembe ini sendiri ke luar negeri, dan baru lewat broker,” pungkasnya sembari berharap  terus menemui  jalan mudah dalam  mengembangkan  pemasaran produknya. (poy heri pristianto)