Mencuri Waktu Saat Liburan di Malang ala Dahlan Iskan

Liburan bagi Dahlan Iskan, bukan berarti secara total tidak melakukan aktivitasnya sebagai Menteri BUMN. Masih ada waktu yang bisa dicuri, diantara waktu yang disiapkan untuk keluarga, guna melihat kondisi BUMN di tempat dia berlibur.

Pagi itu, matahari masih malu-malu menembus pepohonan di Kota Wisata Batu. Tetapi tawa-tawa ceria sudah terdengar dari salah satu villa yang ada di Jambu Luwuk Resort.
Seorang kakek, tampak bermain bersama sang cucu. Ruang tamu di villa itu, berubah menjadi arena perang-perangan diantara mereka. ‘’Kaik (kayi = kakek, bahasa Banjar, Red.) cepat pulang. Nanti Ayrton tunggu di rumah,’’ kata Ayrton Senninha Ananda, cucu Dahlan Iskan dari putra pertamanya, Azrul Ananda.
Sang kakek yang juga Menteri BUMN itu langsung mengambil sikap tegas. Berdiri tegak dan bersikap hormat. ‘’Siap!’’
Ya, keceriaan itu harus diakhiri karena dari luar villa, sang ibu, Ivo Ananda sudah memanggil untuk segera bergabung dengan keluarga lainnya yang akan bertolak kembali ke Surabaya. ‘’Terima kasih semuanya. Liburan di Batu sangat menyenangkan,’’ kata Ivo kepada Malang Post, yang mengantarkan sampai di pintu mobil.
Sementara Pak Bos, panggilan akrab Dahlan Iskan di lingkungan Jawa Pos Grup, tak berapa lama kemudian sudah memakai ‘seragamnya’. Baju putih lengan panjang yang digulung, celana hitam plus sepatu kets bertuliskan DI. ‘’Kita masih punya waktu cukup. Kita ke Krebet. Mumpung cucu-cucu sudah kembali ke Surabaya,’’ kata dia kepada Malang Post. ‘’Kalau masih ada mereka, saya nggak berani,’’ tambahnya sambil tersenyum. Mereka yang dimaksud Pak Bos, adalah enam cucunya yang ikut serta berlibur ke Batu.
Tawaran patwal, langsung ditolak mentah-mentah. ‘’Kalau gak berani, biar saya yang setir. Anda duduk jadi penumpang. Jangan takut ketinggalan pesawat. Atau anda lewatkan jalan tikus saja. Pokoknya saya hari ini (kemarin, Red.) manut anda,’’ katanya.
Sebenarnya agak was-was juga melihat rute yang harus ditempuh. Dari Batu, menuju Krebet, lanjut ke Turen baru ke Bandara Abd Saleh. Berangkat dari Batu, sudah hampir jam 10.00. Sementara pesawat ke Denpasar, pukul 14.25. Praktis hanya ada waktu empat jam. Tapi show must go on. Waktu yang ‘dicuri’ dari jadwal liburan, harus dimanfaatkan secara maksimal.
Benar juga, dengan agak ngebut dan memakai jalur tikus, aktivitas sebagai Menteri BUMN dimulai. Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai di Krebet. Tak urung, kunjungan mendadak dan di hari libur itu, sangat mengagetkan PG Krebet Baru, salah satu pabrik gula milik BUMN.
Setelah mendapat informasi yang diberikan sambil berjalan melihat kondisi pabrik gula, Dahlan beberapa kali terlihat puas. Kunjungan singat, padat, jelas itu berakhir dalam waktu hanya 30 menit. Tapi yang didapat, sudah cukup banyak.
‘’Pabrik itu sudah ada trend bagus. Itu yang harus dikembangkan. Saya tahu mereka sudah bekerja keras,’’ kata Pak Bos di dalam mobil menuju Turen.
Di PT Pindad (Persero) Turen, pabrik yang memproduksi amunisi itu, kondisinya tidak jauh beda dengan PG Krebet Baru. Tidak ada yang menyangka kalau hari itu bakal dikunjungi menteri.
Bahkan ketika mobil yang membawa Pak Bos masuk pintu gerbang, Satpam bertanya ke sang sopir yang tak lain adalah Direktur Utama Malang Post, keperluan datang di hari libur. Sebuah hal yang wajar. Apalagi bagi pabrik yang dulu termasuk dalam BPIS itu.
Tapi ketika diberitahu kalau di kursi belakang ada Menteri BUMN, buru-buru Satpam itu membuka pintu gerbang, berlari mendahului kearah kantor, untuk memberitahu kedatangan sang menteri.
Tidak ada seremonial selama kunjungan. Tidak ada jamuan makan dan lainnya. Semuanya mengalir dan langsung terfokus yang hal yang ingin diketahui. Meski sangat luas dan banyak yang diterangkan, dari pancaran mata, terlihat Pak Bos sudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
‘’Saya ingin melihat kondisi mesin yang rata-rata usianya sudah kepala tiga. Ada rencana untuk mengganti mesin-mesin itu. Apalagi produksi Pindad di Turen ini, sudah mulai di eksport,’’ sebut dia, lagi-lagi di dalam mobil sambil menuju bandara.
Ketika melintas daerah Bululawang, tiba-tiba Dahlan meminta Malang Post yang mendampingi selama kunjungan tersebut mencari masjid. Tapi syaratnya, harus masjid di kampung dan dalam jalur rute menuju bandara. ‘’Lebih bagus kalau anda bisa carikan pondok pesantren. Kita salat di pondok pesantren saja,’’ pintanya.
Setelah berpikir singkat, teringat pondok milik KH Irfan Aziz, Ponpes Al Hayatul Islamiyah di Kedungkandang. Langsung saja mobil diarahkan menuju ke ponpes itu.
Kehebohan kembali terjadi. Kiai Irfan yang sedang melihat santrinya memotong hewan kurban, sontak terkejut melihat seorang menteri tiba-tiba berada di pesantrennya.
Seakan bermimpi dan tidak percaya, plus kehilangan kata-kata, Kiai Irfan hanya bisa menyambut uluran tangan Dahlan Iskan, sambil melongo.
‘’Pak Kiai mohon maaf, saya mau numpang salat. Saya mau ke Denpasar, nanti takut telat. Jadi salat Dhuhur dan Ashar mau saya jamak,’’ kata Pak Bos sambil tersenyum.
Setelah kesadarannya kembali, buru-buru Kiai Irfan memanggil semua santrinya untuk berjabat tangan dengan Pak Bos. ‘’Tapi ini benar-benar Pak Menteri? Ya Allah, saya mimpi apa tadi malam, hari ini bisa dapat barokah yang tak terhingga,’’ kata Kiai yang sudah S2 ini sambil tidak melepaskan tangan Pak Bos. Dahlan hanya tersenyum. ‘’Ya. Saya Dahlan,’’ katanya.
Mantan CEO Jawa Pos itupun langsung ‘diserbu’ para santri. Termasuk keluarga Kiai Irfan lainnya. Sambil tersenyum, Dahlan berjabat tangan dan mencium santri yang masih kecil.
‘’Tapi mohon maaf, Pak Dahlan. Air disini agak sulit. Kami sudah membuat sumur pompa, tapi belum bisa maksimal,’’ ujar Kiai Irfan, saat mengantar Pak Bos mengambil air wudhu.
‘’Insya Allah, saya akan bantu pondok ini. Biar nanti teman-teman koordinasi dengan Pak Kiai,’’ kata Dahlan.
Dengan menjadi imam, Dahlan menjalankan salat Dhuhur yang dijamak dengan Ashar di masjid pondok. Kemudian mengakhiri kunjungannya di pondok, setelah ziarah ke makam pendiri pondok.
‘’Mohon maaf, saya harus segera ke bandara mengejar pesawat ke bandara. Insya Allah kalau ada waktu, saya akan silaturami ke pondok lagi,’’ kata Dahlan ketika pamitan.
Dan ketika sampai di bandara, sudah menunggu salah satu televisi swasta yang ingin wawancara. Mereka sudah menunggu sejak pagi. Dahlan pun melayani wawancara itu sebelum take off menggunakan Wings Air menuju Denpasar ditemani sang istri. (Muhaimin)