Kaki ‘Hilang’ Saat Kerja, Siap Bersaing dengan Orang Normal

Beatle dance atau B-Boy, tidak selalu diikuti manusia normal. Arif Setyobudi membuktikan, meskipun tuna daksa, dia mampu menyingkirkan ribuan untuk masuk dalam Indonesia Mencari Bakat (IMB). Arif juga menjadi satu-satunya perwakilan dari Kota Malang.

Arif Setyobudi atau dalam dunia dance dikenal dengan sebutan Arif One Leg, benar-benar memiliki pengalaman hidup yang pahit. Betapa tidak, ketika kariernya sebagai seorang B-Boy sedang menanjak, dia harus kehilangan satu kaki.
Padahal bagi dancer, kesempurnaan tubuh, menjadi salah satu faktor utama keberhasilan. Tetapi kehilangan satu kaki, tampaknya justru menjadi dorongan bagi Arif, untuk membuktikan diri. Terutama untuk menyuguhkan trik dance yang sering mengundang kagum.
‘’Saya sudah ngedance sejak 2005. Tapi pada 2007, ketika masih bekerja di salah satu pabrik plastik di Krian, kecelakaan kerja menimpa saya dan mengharuskan satu kaki diamputasi,’’ terangnya dengan nada datar.
Kecelakaan itu bermula ketika mesin penampung bahan mentah rusak karena salah satu pipanya lepas, sambil menunggu proses perbaikan, mekanik pabrik menutup lubang yang yang menganga hanya dengan karung.
Awalnya Arif mampu melompati lubang yang tertutup karung itu.  Namun untuk kali kedua, dia lupa dan saat melewatinya kaki kanannya terperosok dalam lubang mesin penampung bahan mentah dengan posisi mesin mixer beroperasi di bagian bawah kakinya. Tak ayal, kaki kanannya menjadi santapan pisau pemotong plastik yang kala itu berputar dengan cepat.
‘’Ketika itu saya tidak bisa berteriak. Saya shock dengan rasa sakit tiada tara yang menimpa kaki kanan saya. Bahkan untuk bersuara saja, saya tak mampu. Ditambah lagi setelah itu, tubuhnya terjatuh dari ketinggian dua meter. Saya baru tertolong setelah seorang teman lewat dan melihatku dalam kondisi yang tidak wajar. Jika saat itu tidak ada orang yang lewat, mungkin sekarang tidak ada lagi Arif One Leg,’’ katanya menerawang.
Karena kondisi kakinya yang sangat parah, dokter di salah satu rumah sakit di Surabaya memutuskan mengamputasi kaki hingga ke pangkal paha.
Musibah itu sempat membuat hidup Arif berubah 180 derajat. Namun kesedihan tidak terlalu lama bertengger dalam diri laki-laki 25 tahun ini. Dia kembali bangkit dengan dukungan dari teman-temannya, Pyramid Crew dan rekan-rekan dancer lain di Kota Malang.
Laki-laki warga JL. S. Supriadi ini mengaku perlu waktu dua tahun untuk menyiapkan mental, fisik dan kembali ke dunia menari.
Awalnya, dia mengaku sulit menjadi seorang B-Boy dengan satu kaki. Rasanya jauh berbeda dengan ketika dia dulu menjadi B-Boy dengan dua kaki. Arif mengungkapkan, berbagai pengalaman jatuh bangun ketika latihan sudah dia rasakan demi bisa kembali terjun menjadi dancer.
‘’Tapi karena saya sudah punya basic B-Boy, jadi sedikit terbantu. Saling bertukar informasi dengan sesama dancer bisa kembali meningkatkan performa. Apalagi ditunjang dengan latihan kontinyu,’’ imbuh anak kedua dari empat bersaudara ini.
Tekadnya untuk tetap mengukir prestasi kendati dalam kondisi sebagai tuna daksa dibuktikan dengan menjadi satu-satunya warga Malang yang mampu berlaga dalam ajang bergengsi, Indonesia Mencari Bakat (IMB).
‘’Saya lolos hingga babak 48 besar dan harus menunjukkan talenta saya di hadapan warga Indonesia. Mohon doa restu dan dukungan dari warga Malang,’’ ungkapnya.
Alumni SMPN 19 Malang ini menceritakan, awalnya dia mengikuti audisi online yang diselenggarakan oleh Trans TV dengan mengirimkan rekaman video bakatnya.
Dari ribuan yang mendaftar, Arif menjadi salah satu yang lolos dan harus mengikuti audisi di Jakarta. Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan ratusan peserta lain dan masuk ke dalam babak 108 besar, kembali laki-laki berbintang Taurus ini berhasil menyingkirkan peserta lain dan berhak berlaga dalam babak 48 besar.
‘’Setelah itu kembali disaring, dan disisakan empat peserta dari masing-masing grup yang beranggotakan 12 peserta, kebetulan saya tergabung dalam grup 3,’’ urai dia.
Dalam bersaing dalam ajang bergengsi ini, harapan Arif ini tidak muluk-muluk, dia sudah merasa senang mampu menembus babak 48 besar dan menunjukkan bahwa seorang tuna daksa sekalipun juga memiliki kesempatan untuk berkarya.
‘’Semua saya jalankan dengan sebaik-baiknya. Jika nanti diijinkan untuk terus ke tahap selanjutnya, tentu saja sangat bersyukur dan berusaha dengan sebaik mungkin. Namun jika harus berhenti sampai di sini dan tidak melanjutkan ke 16 besar, saya tidak akan menyesal. Sebab, sudah melakukan yang terbaik dan berusaha maksimal,’’ tutupnya. (dian ayu antika hapsari)