Biarawan yang Jatuh Cinta pada Kulit Siput dan Kerang

Berawal perkenalannya dengan gurunya Fr. Maria Vianney yang mendalami ilmu tentang kulit siput dan kerang (conchology), Fr M. Clemens, BHK mulai jatuh cinta. Koleksi awetan kerang dan siput yang awalnya menumpuk di gudang, kini menjadi koleksi di museum zoologi Vianney di Karangwidoro, Kecamatan Dau Kabupaten Malang yang didirikan 2004 silam.

Melihat sosok Fr. M. Clemens begitu sederhana. Biarawan kelahiran 1937 itu, terlihat serius membaca buku. Sehari-harinya ia disibukkan dengan aktivitasnya mengelola museum Vianney dan menulis buku mengenai hewan.
‘’Awalnya saya dikenalkan guru saya asal Belanda Fr. Maria Vianney. Beliau yang mengenalkan saya pada bidang ini. Sehingga museum ini saya dedikasikan untuk mengenang beliau. Museum ini juga mendapatkan dukungan penuh dari yayasan Mardi Wiyata,’’ ujar Fr. M. Clemens, BHK.
Dikatakan Clemens, koleksi museum Vianney bukan hanya milik ia pribadi, tetapi juga milik alm. Fr. Vianney. Menjadi frater di Provinsialat Biara Frateran BHK (Bunda Hati Kudus) mengantarkannya berkeliling dunia. Di sela-sela tugasnya, Clemens tak lupa membawa kulit siput dan kerang untuk dibawa ke Indonesia.
‘’Fr. Vianney yang mengenalkan pada bidang conchology hingga saya bisa mengawetkan hewan-hewan tersebut,’’ kata pria asal Flores ini.
Dikatakan Clemens, ada dua jenis awetan yakni awetan basah dan awetan kering. Awetan basah adalah awetan hewan yang dimasukkan ke dalam air yang terlebih dulu diberi formalin dan alkohol. Sedangkan awetan kering adalah awetan yang diletakkan di lemari pajangan maupun toples tanpa direndam air.
‘’Awalnya hanya kegemaran saja. Saya melakukannya sendiri hingga koleksi saya bertambah tetapi hanya diletakkan di gudang. Kemudian saya berinisiatif agar koleksi ini bisa dijadikan sumber belajar dan yayasan mendukung menyediakan tempat dan pendanaan,’’ kata pria yang pernah menjadi dosen tamu di Uthrech Belanda ini.
Untuk mendapatkan koleksinya terbilang sederhana. Awalnya Clemens yang pernah menjadi guru di NTT ini meminta muridnya membawa kerang dan siput ke sekolah. Muridnya sangat antusias, kerang dan siput tersebut dibawa ke sekolah untuk dipelajari bersama muridnya dan kemudian ia awetkan.
Seiring dengan tugas pengabdiannya, Clemens yang pernah menetap di Belanda dan mengunjungi Afrika ini juga mengoleksi kerang dan siput asal negara yang pernah ia kunjungi.
‘’Ada yang saya beli dari nelayan setempat, ada yang saya temukan sendiri. Terkadang saya minta tolong kepada nelayan untuk mencari hewan yang saya inginkan. Kalau langka, harganya mahal karena nelayan harus menyelam untuk mendapatkannya,’’ ujarnya.
Lebih dari 12 ribu spesies bisa ditemukan di museum yang berada di dekat kawasan Tidar ini. Bukan hanya hewan yang telah mati, hewan yang hidup juga menjadi koleksi museum Vianney.
Museum Vianney telah bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur dan menerima titipan hewan untuk dirawat. Koleksi yang ada di museum ini bukan hanya siput dan kerang tetapi juga terdapat reptil, amfibi, singa, kepala rusa, dan hewan lainnya.
Hewan hidup tersebut antara lain: burung kasuari, tikus putih, ular cobra, ular phyton, buaya, ular hijau, dan musang. ‘’Untuk makanan hewan-hewannya tidak kesulitan karena bisa dibeli di pasar burung. Biasanya kami membeli burung emprit, marmut, dan daging untuk makanan hewan buas,’’ beber Clemens kepada Malang Post.
Untuk merawat koleksi, awetan diletakkan di tempat kering dan tertutup rapat. Untuk membersihkan debu biasanya dibersihkan dengan lap kering. Karena jika menggunakan lap basah akan membuat berjamur
Untuk pengelolaan museum Vianney, Clemens dibantu empat orang karyawan, dengan biaya perawatan, ada dana dari yayasan dan pengunjung. Pihak pengelola membedakan tarif berdasarkan jenjang sekolah.
‘’Untuk keluarga yang datang kemari, kami membebaskan berapapun yang ingin disumbangkan, karena memang tujuan didirikan tempat ini untuk belajar,’’ tuturnya.
Kecintaannya pada dunia hewan tidak hanya ia wujudkan dalam koleksi hewan di museum saja, Clemens juga menulis buku yakni Vertebrata, Deskripsi Mollusca, dan Arthropoda.
‘’Sejak tahun 2007 saya mulai menulis buku dan telah habis terjual di beberapa toko buku. Buku-buku tersebut belum dicetak ulang karena saat ini masih menyelesaikan tujuh buku,’’ kata pria ramah ini.
Ia berharap dengan adanya museum Vianney generasi muda memanfaatkannya sebagai sumber belajar. ‘’Biasanya November pengunjung museum mulai ramai. Hanya saja, masih terbilang sedikit karena belum banyak yang mengenal keberadaan museum ini,’’ pungkasnya. (winin maulidya saffanah)