Warga Kawasanan Langganan Banjir Persiapan Hadapi Penghujan

DATANG musim hujan, sama halnya dengan datangnya musim banjir di berbagai kawasan banjir di Kota Malang. Pembuatan biopori hingga bangun tembok pembatas setinggi-tingginya, adalah satu cara cegah banjir di berbagai kawasan. Namun kecemasan masih saja menggelayut warga Kedawung, Gading Kasri dan kawasan banjir lainnya.

Tembok setinggi dua meter sudah dibangun kokoh disepanjang Jalan Kedawung gang I. Tembok panjang itu berdiri diantara tepi jalan dan tepi sungai kecil yang cukup dalam.
Tembok yang baru dibangun sekitar tiga bulan lalu itu, adalah pembatas air. Fungsinya untuk menahan luapan air dari sungai kecil yang membentang kawasan Kedawung.
Kendati tembok sudah berdiri kokoh, namun warga masih dibayangi kecemasan. Maklum kawasan ini merupakan kawasan langganan banjir. Bahkan  termasuk salah satu kawasan banjir paling parah di Kota Malang.
Kecemasan warga bukan tanpa alasan. Beberapa tahun lalu misalnya, luapan air dari sungai kecil di Kedawung itu sampai merobohkan tembok lalu nyaris menenggelamkan lebih dar 10 rumah warga. Ketinggian air mencapai satu hingga 1,5 meter.
’’Dulu tembok disini roboh. Sekarang bangun lagi, baru sekitar tiga bulanan kok,’’ kata Imwahyudi, salah seorang warga Kedawung gang I. Kendati bangunan tembok sudah berdiri kokoh, warga masih saja cemas.
‘’Karena belum tahu ketinggian air nanti saat hujan bagaimana,’’ sambung Imwahyudi sembari mengatakan bahwa tembok tersebut dibangun oleh Dinas PU.
Warga lainnya juga mengungkapkan hal yang sama. “Khawatir kalau tembok yang tingginya sampai 1,5 meter ini tidak bisa mengatasi tekanan air. Kan kalau tekanan air terlalu kuat, bisa saja tembok jebol,’’ kata warga lainnya.
Tinggal di daerah rawan banjir memang repot. Kendati sudah berusaha bangun pembatas, tapi warga belum tahu daya tahan tembok. Terpaksa warga mencari terobosan lain. Salah satunya pagar berupa pagar tembok. Di pintu pagar diberi double pintu tahan air. Pemandangan ini tampak di kawasan Kedawung gang I.
Jika di Kedawung dibangun tembok pembatas, di Gading Kasri mengandalkan biopori. Tahun lalu, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya dan warga bersama-sama membuat biopori. Fungsinya untuk meresapkan air sehingga air yang tergenang di sekitar kawasan pemukiman segera teratasi.
‘’Disini terdapat 100 biopori. Dipasang di RT 05, RW 01 Gading Karsi dan juga halaman kantor kelurahan,’’ kata lurah Gading Kasri, Prasetyo Mulyo. Ia lalu menunjukan biopori di halaman kantor kelurahan. ‘’Kalau hujan deras dan lama, ya disini (halaman kelurahan) juga digenangi air,’’ sambung Prasetyo.
Biopori memang menjadi salah satu andalan. Tapi warga belum mengetahui apakah biopori bisa mengatasi genangan air dan banjir atau tidak.
Prasetyo lalu menjelaskan, biopori merupakan resapan  air yang dibuat di halaman. Fungsinya memang untuk peresapan air. ‘’Diameternya sekitar 4 dim dengan kedalaman 1 meter. Kalau hujan, air menyerap ke dalam biopori,’’ jelas Prasetyo.
Ketua RT 05, RW 01 Gading Kasri, Solahudin Ahmad mengatakan, wilayahnya memang rawan banjir.  Biopori adalah salah satu andalan warga untuk antisipasi banjir. Kerja bakti membersihkan Kali Ngemplak di wilayah Gading Kasri juga cara lain untuk mengatasi banjir.
Solahudin mengatakan, penyebab banjir di wilayahnya karea penyempitan Kali Ngemplak. Jika hujan mengguyur dalam waktu lama, maka sungai kecil itu tak bisa menampung  air lalu meluap ke rumah warga. “Sekitar 40 rumah rawan tergenang air. Karena itu, kalau hujan, warga pasti cemas,” ujar ketua RT yang juga pelukis ini. (vandri battu)