Wisata Seru ke Malaysia dan Singapura (1)

Sejak tiga tahun terakhir, banyak tour and travel yang menawarkan wisata murah ke luar negeri seiring dengan maraknya tawaran tiket promo dari maskapai penerbangan. Berwisata dengan travel memang menyenangkan, kita tinggal mengikuti rundwon yang ditentukan tanpa perlu memikirkan persiapan sebelum dan selama wisata berlangsung, mulai dari memesan hotel dan memilih transportasi. Tapi tahukah Anda, segala persiapan tersebut sebenarnya menjadi petualangan mengasikkan, yang menjadikan kita ’agen perjalanan’ untuk diri kita sendiri. Wartawan Malang Post, Dewi Yuhana baru saja menjadi arranger untuk trip yang dilakukannya selama seminggu lalu.

Saya mulai menyiapkan segala keperluan trip ke Malaysia dan Singapura sejak Mei tahun ini, ketika mendapat undangan reuni dari teman pondok dulu (Pesantren Putri Pondok Modern Gontor, red), Chairul Izzah  yang saat ini tinggal di Shah Alam, Malaysia. Kenapa Mei? Karena pada saat itulah AirAsia Indonesia menggelar promo tiket untuk keberangkatan Oktober 2012 hingga Januari 2013. Saat ini pun, Anda bisa berburu tiket dan merencanakan traveling untuk tahun depan, sebab maskapai yang menjadi pioner tiket murah di Asia itu sedang menggelar promo hingga 4 November mendatang. Anda memesan sekarang, untuk penerbangan 1 Mei-23 September 2013.
Kala itu, saya mendapatkan tiket Surabaya-Kuala Lumpur seharga Rp 509 ribu dan tiket Kuala Lumpur-Surabaya Rp 245 ribu, cukup murah untuk biaya perjalanan ke luar negeri. Namun karena memilih posisi tempat duduk di kursi paling depan serta membeli bagasi 20 kilogram, harga membengkak menjadi Rp 1.259.000. Meskipun, harga tersebut tetap saja masih cukup terjangkau.
Para pelancong yang sudah terbiasa memesan tiket murah, biasanya sengaja mengosongkan poin pemesanan bagasi dan pemilihan tempat duduk, sehingga benar-benar mendapatkan harga super murah, dengan konsekuensi harus menenteng tas atau ransel ke atas kabin. Dari pengamatan saya, hampir semua penumpang melakukan hal tersebut. Menenteng travel bag ukuran kecil atau sedang, lalu masih memanggul ransel di punggung dan memegang tas tangan. Atau, jika ingin melakukan antisipasi, Anda dapat memesan bagasi saat kepulangan, ketika barang belanjaan sudah menggunung dan tak mungkin dibawa ke kabin. Kecuali Anda mau membayar kelebihan bagasi yang tidak sedikit. Seperti dialami seorang penumpang dari Surabaya yang kebetulan duduk di samping saya. Ia harus membayar RM 200 atau Rp 600 ribu, untuk kelebihan bagasi 4 kilogram.
”Kalau tau begitu (membayar, red), saya akan memilih untuk membawa sebagian barang belanjaan ke kabin saja. Saya nggak tahu jika harus membayar mahal untuk kelebihan bagasi, padahal isinya tak semahal itu,” kata penumpang perempuan tersebut.  
Memesan tiket promo sejak jauh hari mempunyai plus minus. Anda dapat merencanakan perjalanan dengan low budget, namun juga terikat dengan jadwal yang sudah dibuat. Sebab tidak ada refund untuk tiket promo. Teman saya, Zakiyah Arifa merasakannya. Ia harus kehilangan tiket yang tidak bisa di-refund dan dibalik nama karena pada jadwal keberangkatan, dosen UIN Maulana Malik Ibrahim ini harus berangkat ke Jerman. ”Untung tiketnya murah, jadi ya masih merasa nggak rugi karena tiket hangus,” katanya.
Perjalanan Surabaya-Kuala Lumpur harus ditempuh selama 2 jam 45 menit. Setelah menunggu kedatangan teman-teman saya dari Jakarta, Rachmawati, Erifah, Anik dan Mafazah, kami mengawali wisata hari itu di Masjid Putrajaya yang lokasinya bersebelahan dengan kantor Perdana Menteri Malaysia.
Putrajaya sebenarnya merupakan daerah perkantoran yang menggantikan posisi Kuala Lumpur sejak Oktober 1995. Kuala Lumpur tetap menjadi ibu kota negara Malaysia, namun semua kantor pemerintah ada di daerah Putrajaya, sehingga memudahkan masyarakat yang ingin mengurus administrasi karena letak kantor yang tidak jauh satu dengan yang lain. Konsep pemisahan area perkantoran dari Kuala Lumpur, menjadikan ibu kota tersebut tumbuh pesat tanpa harus dibarengi dengan kemacetan seperti yang terjadi di Jakarta, yang menjadi pusat pemerintahan sekaligus perekonomian Indonesia.  
Memasuki area Putrajaya, kita akan dimanjakan dengan arsitektur gedung yang cantik dengan taman-taman menawan untuk lokasi foto. Masjid Putrajaya sendiri didominasi warna pastel dan merah jambu. Untuk masuk ke area masjid, pengunjung perempuan diwajibkan memakai busana tertutup dan tidak ketat. Jika nekat, ada petugas yang akan memberhentikan Anda dan meminta untuk mengenakan gamis yang sudah disiapkan.  
Puas mengeksplorasi Masjid Putrajaya, kami memutuskan untuk mencoba wisata kuliner di restoran yang ada di dekat danau, yang berada di samping masjid. Teh Tarik dan Nasi Lemak menjadi menu yang direkomendasikan untuk dicoba pertama kali. Mirip nasi uduk, tapi lidah Indonesia saya masih menempatkan nasi uduk sebagai juara.
Setelah mengisi energi, kami memutuskan beristirahat untuk bersiap mengunjungi Petronas dan berbelanja di KLCC (Kuala Lumpur City Centre) pada sore harinya.(dewiyuhana/bersambung).