Wisata Seru ke Malaysia dan Singapura (habis)

Terjebak di Geylang, Keliling Singapura dengan Alphard
Suasana salat Ied di Kuala Lumpur Malaysia tak seheboh di Malang, ketika masjid penuh dengan jamaah, yang biasanya dilanjutkan dengan potong hewan kurban di lokasi, hari itu juga. Bukan karena sepi jamaah, tapi banyak warga asli yang sengaja pulang kampung sehingga membuat Kuala Lumpur tak seramai biasa. Idul Adha menjadi hari besar yang dirayakan semua warga, bahkan public holiday dimulai sejak 25-28 Oktober, sehingga total warga Malaysia berlibur empat hari, plus libur hari minggu.

Ada sekitar 1000-an warga Indonesia yang melaksanakan salat ied di KBRI Malaysia, termasuk saya dan teman-teman. Sebelum masuk ke lokasi, setiap jamaah diberi kupon makan dan plastik untuk tempat sandal, langkah ini dilakukan demi meminimalisir sandal yang hilang. Usai salat, setiap jamaah bisa menukarkan kupon dengan kotak makan yang sudah disediakan di halaman kantor KBRI. Menunya Indonesia banget, terdiri dari empal daging, telur, sambal goreng teri, sayur dan pisang. Melihat ’merek’ rumah makan di nasi kotak, menu tersebut dipesan khusus di resto-resto Indonesia yang tersebar di sana. Berbeda resto, tapi isi menu sama. Mungkin untuk antisipasi nasi kotak supaya bisa datang sesuai pesanan pada jam yang ditentukan.
Usai makan pagi di area KBRI, kami memutuskan untuk berbelanja (lagi). Kali ini yang dipilih adalah middle area di kawasan Petaling Street atau dikenal juga sebagai China Twonnya Malaysia, lalu ke Central Market dan Masjid India. Kawasan Petaling Street cukup familiar bagi wisawatan Indonesia khususnya pelancong backpacker, karena di sana banyak hotel-hotel murah meriah yang mematok tarif RM 40 atau Rp 120 ribuan, atau RM 50 dan RM 60 an untuk berdua. Rate murah ini cukup sesuai dengan area Petaling yang bisa dikatakan ’sedikit’ kumuh dan berbau, karena itu, kami tidak masuk terlalu jauh di kawasan ini.
Saat di Petaling, kami berpapasan dengan lima wisatawan mahasiswa asal Jogjakarta. Mereka memutuskan menginap di sana atas rekomendasi teman. ”Harga hotel murah, tapi ya jangan berharap suasana ala hotel berbintang ya. Tapi cukup untuk kantong kami,” ucap Arif Hermawan, mahasiswa FISIP itu, tersenyum.
Yang paling menarik untuk tempat berbelanja, menurut saya adalah kawasan Masjid India. Ada aneka produk fashion khas India yang dijual di sana. Mulai dari kain sari, sampai baju ready to wear yang dipatok mulai RM 59 setelah diskon, hingga ratusan ringgit. Ada banyak diskon karena minggu lalu, warga India di Malaysia sedang bersiap menyambut perayaan Deepavali, sebuah perayaan kemenangan atas kejahatan dan peringatan pada manusia untuk selalu berbuat baik. Perayaan Deepavali menjadi hari cuti (public holiday) di Malaysia.
Harga tersebut cukup murah karena sepasang baju India terdiri dari blus, celana dan selendang. Saya sempat berbelanja di toko Ajuntha dan membeli dua piece baju India ready to wear, sayang karena kecerobohan saya yang pelupa, barang belanjaan tersebut tertinggal di konter kasir, padahal saya sudah membayar. Poor me.
Di antara semua destinasi Malaysia, adventure di Singapura yang kami lakukan di dua hari terakhir termasuk yang paling berkesan. Bukan tentang tempat wisatanya, tapi pengalaman mencari hotel murah dan cerita yang menyertainya. Kami tiba di Singapura pagi hari dan langsung naik LRT (Light Rail Transit) menuju Sentosa Island. Untuk bisa naik LRT, kita harus membeli tiket yang ada di stasiun dengan deposit U$ 1, tiket ini bisa kita kembalikan ketika perjalanan sudah usai sekaligus untuk mengambil deposit.
Setelah lelah berkeliling Sentosa Island hingga sore hari, kami memutuskan mencari hotel dan mendapatkan informasi jika hotel di daerah Geylang mematok tarif murah. Kami pun meluncur ke sana dengan taksi dan akhirnya check in di Lai Ming Hotel yang mematok tarif U$ 120 semalam untuk enam orang, plus AC dan hot water. Tarif ini cukup terjangkau jika dibandingkan hotel ala backpacker yang tidak menyediakan AC.
Yang tidak kami ketahui, Geylang ternyata termasuk daerah ’gelap’nya Singapura. Area tersebut sangat terkenal sebagai tempat prostitusi, banyak perempuan pendatang, baik dari China dan Indonesia yang menjajakan dirinya di Geylang. Baik secara terorganisir di tempat prostitusi resmi ataupun perorangan (ilegal). Karena itulah, kedatangan kami yang semuanya berjilbab seperti makhluk alien di daerah tersebut.
Kami belum menyadari tentang betapa ’gelap’nya Geylang sebelum keluar hotel untuk mengeksplorasi Mustafa Center dan Little India. Saat akan berangkat ke Mustafa Center, sopir taksi yang bernama Khamis, keturunan Islam Melayu menceritakan tentang bobroknya daerah Geylang.
”Jika Singapura terkena kutuk dan adzab, maka Geylang lah yang pertama kali kena. Saya sebenarnya enggan mengangkut penumpang dari daerah ini, tapi melihat kalian yang bertudung (berjilbab, red) mencari taksi, saya kasihan. Saya rasa kalian tersesat di sini,” katanya panjang lebar. Khamis kemudian merekomendasikan area Geylang Serai sebagai tempat yang lebih aman untuk mencari hotel, karena daerah tersebut dihuni oleh warga Singapura keturunan Islam Melayu. ”Di sana ada masjid, ada banyak restoran yang menyediakan menu halal,” tambahnya.   
Selain ke Mustafa Center, kami juga berkeliling di Orchard Road, pusat perbelanjaan brand terkenal di Singapura. Saat itu, di depan Ngee Ann City Civic Plaza sedang digelar kompetisi meletakkan tangan di atas mobil Subaru. Siapa yang paling lama, dia yang menang dan berhak membawa pulang New Subaru XV 1.6 seharga lebih dari U$ 80.000 atau RP 600 juta lebih. Tantangan tersebut pada akhirnya dimenangkan Tholmas Gan Yu Shen (42) yang mampu memegang Subaru selama 78 jam 30 menit.
Sementara itu, saat akan kembali ke hotel, kami kembali kesulitan mencari taksi. Ada tiga taksi yang kami stop dan kemudian berlalu begitu saja ketika mendengar tujuan kami adalah Geylang. ”Waduh, kita benar-benar salah tempat nich. Ya siapa yang tahu kalo Geylang tempat prostitusi ya,” celetuk Erifah, teman saya yang aktivis ICIS dan PBNU Jakarta.
Setelah cukup lama berburu taksi, tanpa sengaja saya menyetop taksi yang ternyata mobil Alphard dari Royal Prime. Kami sempat was-was dan enggan meneruskan transaksi karena khawatir tarif yang terlalu mahal. Namun karena sang sopir yang kemudian kami ketahui bernama Shaikh Qamal Adam mau mengantarkan kami ke Geylang dan mengatakan tarif taksinya hampir sama dengan taksi biasa dan hanya selisih U$ 1, kami memutuskan untuk naik taksi tersebut. Lagi-lagi, di dalam mobil, Qamal menceritakan tentang Geylang. Wah, semakin gundah gulana lah kami dengan tempat itu.
Karena tak mau repot mencari taksi untuk mengeksplore Singapura di hari berikutnya, kami pun meminta Qamal untuk menjemput di Lai Ming Hotel. Untuk menekan biaya perjalanan, pria keturunan Arab ini menawarkan paket hourly U$ 65 atau Rp 487.500 (dengan kurs Rp 7500, red), cukup mahal jika harus dibayar sendiri. Namun masih terjangkau karena kami berenam. Namun perempuan mana sich yang tidak suka menawar?. Kami pun begitu.
Pada saat itu, kemampuan bahasa Arab kami ternyata cukup manjur untuk digunakan sebagai sarana tawar menawar. Qamal kemudian memberi diskon menjadi U$ 40 per jam, dan kami menyewa Alphard tersebut untuk dua jam. Waktu yang lebih dari cukup untuk mengelilingi satu negara Singapura yang hanya berpenduduk 5,2 juta jiwa.
Selalu ada hikmah di balik peristiwa. Banyaknya taksi yang menolak kami di awal, membuat perjalanan semakin asik karena bisa berkeliling Singapura dengan Alphard. Puas dengan Singapura, kami kembali ke Shah Alam, menginap di sana sehari dan kembali ke Indonesia. (dewiyuhana)