Ganjal Perut dengan Permen Karet, Tak Kapok Naik Gunung Lagi

Muhammad Firas Awaludin Iqbal, Bertahan Hidup Selama Lima Hari di Gunung Semeru 

TERSESAT di kawasan  Gunung Semeru, tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Muhammad Firas Awaludin Iqbal. Namun, itulah kenyataan yang harus dialami  pemuda berusia 19 tahun ini. Sejak hari Senin (30/10) lalu, Firas tersesat di kawasan pendakian Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, dan baru berhasil dievakuasi hari Jumat (2/11).

Proses evakuasi Firas yang dilakukan oleh tim gabungan Basarnas Lumajang, TNI-Polri, petugas BTNS, UB dan warga sekitar berlangsung cukup menegangkan. Terlebih, sejak ditemukan pada hari Kamis (1/11) lalu oleh tim SAR, proses evakuasi sempat terhenti, lantaran cuaca buruk melanda kawasan pendakian Gunung Semeru.
Tim evakuasi gabungan bersama Survivor (julukan pendaki yang diselamatkan,red) terpaksa harus bermalam di Pos Kalimati terlebih dahulu. Barulah keesokan harinya evakuasi dilakukan kembali. Beruntung, cuaca saat itu sangat mendukung untuk melanjutkan proses evakuasi. Pada akhirnya, Firas yang hilang selama lima hari itu, bisa bertemu kembali dengan keluarga maupun kawan-kawannya.
Yang menarik untuk disimak, bagaimana kisahnya untuk bertahan hidup selama tersesat di kawasan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.  Selama lima hari tersesat, anak sulung dari pasangan suami istri Eko Hariyanto dan Maria Ulfa, hanya membawa bekal ala kadarnya. Yang dibawanya hanya dua buah permen karet dan satu botol air minum, untuk modal hidup. Itupun permen karet sisa yang ditemukan di saku celananya. Sedangkan untuk botol air minum, dipungutnya tercecer dari lintasan pendakian yang dilewatinya.
“Setelah meraba-raba saku celana, saya temukan dua permen karet. Lalu saya makan sebagai pengganjal rasa lapar,“ kata mahasiswa semester tiga Fakultas Teknik Pertanian UB ini kepada Malang Post. “Saya pungut botol air minum yang ada isinya separuh di jalan pendakian. Kemudian kalau menemukan sumber air atau sedang hujan. Botol itu saya isi lagi,“ tambah Firas.
 Selain berbekal itu, dirinya juga memanfaatkan alam sekitar yang dapat dikonsumsinya. Berbekal studi di Fakultas Teknik Pertanian UB, ia mampu mengetahui tumbuhan maupun buah yang aman untuk dikonsumsi
“Saya mengonsumsi buah-buahan yang ada di sekitar kawasan pendakian Gunung Semeru ini. Tentunya, tak asal buah yang saya konsumsi. Hanya buah-buah tertentu saja, yang menurut saya aman. Seperti buah arbei yang banyak ditemukan di jalur pendakian ini,” urai Firas.
Selama tersesat, Firas mengaku berisitirahat di dalam gua saat hujan maupun malam menyelimuti. Hanya di gua itulah, tempat dirinya berlindung dari dinginnya malam dan derasnya hujan yang mengguyur kawasan pendakian Gunung Semeru.   
“Saya sempat dua hari tidur di dalam gua saat hujan. Barulah melanjutkan perjalanan kembali menuju ke puncak. Di puncak, saya menginap semalaman, berhubung tak ada orang, saya memutuskan kembali ke Kalimati,“ ungkapnya.
Selama tersesat, tak terbesit sama sekali dalam pikirannya untuk berputus asa. Dia tetap fight kembali mencari jalur pendakian yang sebenarnya. Terlebih motivasi tinggi juga terdapat dalam dirinya. Meski sebelumnya, Firas memang tak pernah mengalami  kejadian seperti ini.
“Saya sudah empat kali mendaki ke Gunung Semeru, jadi tetap optimis bisa kembali menemukan jalur pendakian yang sebenarnya dan selamat. Saya pun tak merasakan takut selama tersesat. Dan tak ada hal gaib atau semacamnya yang saya alami,“ ucap pemuda yang berdomisli di Dusun Demang Jaya RT04 RW01, Desa Krebet Senggrong, Bululawang ini.
Menurutnya ada salah satu motivasi besar yang membuatnya tetap survive selama tersesat. “Saya terus berjuang agar bisa selamat. Karena saya tahu, keluarga saya dan teman-teman pasti menunggu saya di bawah sana,” ucapnya  terbata-bata.
“Selain itu ada motivasi lainnya, yakni teman ayah saya yang juga pernah tersesat selama enam hari di tempat ini beberapa tahun silam. Akan tetapi, beliau bisa tetap survive dan akhirnya kembali kepada keluarganya,” imbuh anak sulung dari tiga bersaudara ini.
Dan keyakinannya itu terbayar, setelah ditemukan oleh tim SAR Gabungan hari Kamis (1/11) lalu di kawasan Cemoro Lawang. Dan dia berhasil dievakuasi dan berkumpul bersama keluarganya kembali. Sementara itu, dengan kejadian ini Firas mengaku tak kapok untuk mendaki gunung lagi. “Meskipun baru pertama kali mengalami hal ini, saya tak kapok mas untuk mendaki gunung lagi,“ tutupnya. (Binar Gumilang)