RSSA Raih Dua Emas dalam Lomba Quality Control Circle

PELAYANAN kepada masyarakat, merupakan fokus utama ketika sebuah tim mengikuti perlombaan Quality Control Circle (QCC). Perlombaan inilah yang diikuti tim RS Saiful Anwar (RSSA) Malang, yang kemudian berhasil menggondol dua emas dalam bidang penerapan metode tujuh langkah dan mengaplikasikannya kepada masyarakat.

RSSA Malang yang membawa dua tim, ke ajang QCC yang digelar di Kuala Lumpur Malaysia ini, merupakan satu-satunya rumah sakit yang mewakili Indonesia, dalam ajang lomba pelayanan se-Asia Pasifik ini.
Dalam pertandingan tersebut, RSSA menurunkan dua tim. Yaitu tim Sehati yang berasal dari instalasi gizi, serta tim Wijaya Kusuma yang merupakan gabungan dari instalasi anestesiologi dan ICU.
Banyak kejadian tak terlupakan yang dihadapi tim RSSA ketika berada di Malaysia. Misalnya saja, mereka masih dianggap remeh oleh tim lain. Terutama Malaysia sebagai tuan rumah.
Salah satu contoh, seperti diceritakan Ketua Tim Pembina Jaga Mutu RSSA, Drg. Robinson Pasaribu, SpBM, mereka sempat diburu waktu karena dari tuan rumah tidak memberikan informasi yang pasti terkait lomba tersebut. Terutama untuk kontingen dari Indonesia yang membawa sekitar 16 tim, dari berbagai BUMN yang ada di Indonesia.
Mereka mendaftar disaat-saat akhir menjelang pendaftaran ditutup. Namun, beruntung mereka masih sempat melengkapi keperluan dan data yang dibutuhkan.
Saat memasuki pertandingan dan melakukan presentasi yang diikuti sekitar delapan negara se-Asia Pasifik, tim Indonesia membuat sebuah tampilan yang menarik. Dibuka dengan sebuah tarian daerah.
Tak pelak, tepuk tangan dari peserta lain memenuhi ruangan saat itu. ‘’Ini kebiasaan dari kontingen Indonesia yang selalu menampilkan tari-tarian,’’ terang Robinson kepada Malang Post.
Tak hanya saat di Indonesia, sebelum melangkah ke Malaysia pun, perjuangan tim RSSA tidak mudah. Mereka harus menjalankan merode tujuh langkah untuk bisa membuat suatu penemuan yang nantinya akan mereka presentasikan di depan dewan juri.
Dalam waktu enam bulan tersebut, kedua tim mulai melakukan metode tujuh langkah. Mulai dari menentukan tema dan judul, kemudian menganalisa penyebab, menguji dan menentukan penyebab dominan, membuat rencana dan melaksanakan perbaikan, membuat standar baru, mengumpulkan data baru dan menentukan rencana berikutnya.
Ketika melakukan tahapan tersebut, tim Sehati menemukan tema mengenai Mengurangi Pasien Diare yang diberikan makanan cair sebesar 100 persen.
Sedangkan dari tim Wijaya Kusuma, menemukan cara untuk menekan kejadian plantar flexi pada pasien dengan gangguan kesadaran di ICU sebesar 100 persen.
‘’Jadi dalam dua penemuan tersebut, kami mencoba menekan sekecil mungkin atau bahkan menidakan kejadian tersebut supaya tidak terjadi,’’ terang dokter gigi spesialis bedah mulut tersebut.
Dalam penelitian tim Sehati, mereka menemukan formula baru untuk penanganan pasien diare, yang selama ini diberi cairan laktosa dari susu, diganti dengan cairan yang berasal dari kedelai. Hal ini dikarenakan cairan yang berasal dari kedelai terbukti mampu mengatasi diare lebih cepat dan terbukti bagus untuk pencernaan.
Sedangkan untuk tim Wijaya Kusuma menemukan cara bagi pasien yang masuk dalam ruang ICU, supaya ketika sadar mereka tidak mengalami permasalahan lain berupa plantar flexi, akibat terlalu lama kaki menekuk ketika dalam keadaan tidak sadarkan diri.
‘’Pasien yang berada di ruang ICU kan biasanya lebih dari satu hari bahkan bisa berbulan-bulan. Dengan posisi kaki yang menekuk selama mereka berada di ruangn tersebut bisa menimbulkan permasalahan baru,’’ jelasnya.
Usai menemukan metode ini, kedua tim juga masih harus terus berlatih terutama dalam pemaparan dalam bahasa Inggris. Setiap hari, kedua tim berlatih dua jam untuk memantapkan materi yang telah mereka kembangkan. Hasil dan kerja keras yang mereka lakukan tak sia-sia dengan disabetnya dua medali emas mengalahkan negara-negara lainnya, terutama dalam bidang kesehatan.
‘’Yang membuat kami memiliki penilaian tertinggi selain dari segi judul dan materi yang kami sampaikan. Pasien safety atau keamanan kepada pasien merupakan prioritas yang membuat kami bisa mendapatkan medali ini,’’ imbuh dokter ramah ini.
Mereka pun berencana untuk mematenkan kedua metode ini untuk kemudian bisa diaplikasikan dan digunakan di rumah sakit lainnya.
Robinson menilai, belum ada provinsi lain yang melakukan QCC ini selain Jawa Timur. ‘’Kalau untuk pemerintahan hanya Jawa Timur. Kalau tim lain kan mereka berasal dari kalangan BUMN yang memang harus mengutamakan pelayanan,’’ papar kepala instalasi gigi dan mulut RSSA Malang ini. (titah mranani)