Hari Pahlawan di Mata Veteran Pejuang Kemerdekan

HARI  Pahlawan  10 November 2012  ini diperingati dengan penuh rasa syukur bercampur keprihatinan  oleh para veteran pejuang kemerdekaan   di Malang Raya. Mereka juga menaruh harapan besar atas  telah disahkannya UU Veteran oleh DPR-RI pada 2 Oktober 2012 baru lalu. Mengapa?


Ketua DPC LVRI (Legiun Veteran Republik Indonesia) Kota Malang Drs.I  Gusti Made Oka menuturkan  UU Veteran  tersebut,  merupakan  bentuk penghargaan kepada veteran yang berjasa memerdekakan Indonesia dari penjajah.
‘’Terpenting bagi kami adalah realisasi nyata setelah UU veteran resmi disahkan. Kami berharap  UU Veteran ini tak hanya  formalitas saja. Tetapi harus segera direalisasikan di lapangan agar kehidupan kami  bisa semakin sejahtera,’’  harapnya kepada Malang Post kemarin.
Mewakili isi hati sekitar 130  rekan-rekannya sesama veteran di Malang, Made Oka  juga berharap agar pemerintah segera menambah jumlah uang tunjangan kepada para veteran agar kehidupan mereka bisa  lebih layak.  Terlebih, sampai sekarang, mereka hanya menerima uang tunjangan  Rp 250 ribu per bulan.’’Kami sangat berharap uang tunjangan tersebut dapat dinaikkan.Apalagi dengan UU Veteran baru yang telah disahkan, maka pemberian bantuan atau tunjangan dari pemerintah kepada veteran kini dilihat sebagai penghargaan. Bukan berdasarkan prinsip ketidakmampuan seperti sebelumnya,’’paparnya.
Lebih  lanjut,  pria berusia 83 tahun ini menilai bahwa perjuangan dalam era modern seperti saat ini sebenarnya jauh  lebih sulit,daripada masa-masa merebut kemerdekaan dulu. “Dulu yang kami lawan hanyalah kaum  penjajah. Tapi sekarang banyak hal yang harus dilawan. Seperti kebodohan, kemiskinan, pengangguran, kenakalan remaja dan korupsi. Belum lagi pergaulan remaja saat ini sudah salah diartikan. Ini tantangan bagi kalangan muda saat ini,“ tandas Oka di rumahnya, Jalan Letjen S Parman Gang II nomor 2 Kota Malang.
Kiprah  kakek 11 cucu dalam merebut dan mempertahankan  kemerdekaan RI cukup panjang. Pada  tahun 1945, ia  sudah tergabung dalam Pasukan Pelajar Pejuang Sunda Kecil.Pasukan Pelajar Pejuang Sunda Kecil juga ikut berjuang mengusir penjajah, dalam Perang Puputan Margarana, di Tabanan, Bali. Oka mengisahkan, saat ikut berjuang membela kemerdekaan RI dirinya masih menginjak usia 15 tahun. Menurutnya, Perjuangannya saat itu tidak mudah mengingat yang menjadi lawan adalah Belanda yang memiliki persenjataan modern.
“Untuk memperoleh senjata melawan Belanda, kami harus merebut senjata milik  Nica (Polisi Hindia Belanda. Red). Barulah pada keesokan harinya, tepatnya tanggal 20 November 1946, terjadilah Perang Puputan Margarana, di Tabanan,” ungkapnya.
Pria sepuh yang juga Ketua PAMI (Persatuan Atlet Atletik Master Indonesia) Kota Malang ini  menuturkan bahwa saat itu seluruh pejuang kemerdekaan gugur dapat dikelahkan Belanda. “Mengetahui kondisi Belanda yang terdesak oleh serangan pasukan pejuang, mereka mengirimkan pesawat bom. Pesawat bom itulah  yang mengalahkan kami. Banyak pejuang kita gugur di tempat,” kenangnya.
Setelah itu, Oka ditawan oleh Belanda, meski pada akhirnya dilepaskan begitu saja. Setelah terlepas dari tawanan, kakek kelahiran 6 Februari 1929 itu, langsung melanjutkan Sekolah Lanjutan Umum atau setingkat SMP di Denpansar Bali. Lalu saat SMA, Oka bersekolah di SMA Taman Madya di Jogjakarta.Karir pendidikan Oka mencapai puncaknya, saat dia berhasil menamatkan S1 di Sekolah Tinggi Olahraga Surabaya, pada tahun 1964. “Setelah menamatkan S1, saya akhirnya pindah ke Malang. Karena almarhumah istri saya, adalah asli orang Malang. Rumah  saya tempati saat ini adalah  rumah milik istri saya,’’ cetus suami Lilik Setiawati (almarhumah) ini.  (binar gumilang)