Sempat Diprotes, Sekarang Jadi Keasyikan Tersendiri

BSM Sukses Ciptakan Trend Bayar dengan Sampah

SEJAK diresmikan 11 November tahun lalu, Bank Sampah Malang (BSM) kini  telah berhasil  memiliki 19 ribu nasabah dengan perputaran uang mencapai sekitar Rp 500 juta.Nasabahnya sangat beragam. Mulai dari pelajar,ibu-ibu rumah tangga,karyawan  sampai instansi BUMN seperti PLN dan Pertamina.

Misi BSM untuk menggali sisi ekonomis dalam sampah,secara perlahan namun pasti,  juga terus membuahkan hasil menggembirakan. Serupa uang, sampah kini juga bisa digunakan untuk membayar rekening listrik, PDAM, telepon sampai membeli pulsa sekalipun.
“Saya suka menabung sampah karena bisa belajar menabung dan dapat uang,” kata Diandira Widad Arumi, pelajar kelas V di SD Plus Al Kautsar kepada Malang Post. Pendapat Diandra tersebut   dibenarkan  dua teman sekelasnya yang juga memiliki tabungan di Bank Sampah SD Plus Al Kautsar.Yakni  Bagaseto Yudhistira Viandra Putra dan Kavinda Putri Andari.
Mereka bertiga memang adalah nasabah kecil yang aktif menabung sampah setiap minggunya. Buku tabungan Bagaseto misalnya, nyaris selalu terisi di setiap minggu sejak bulan November 2011 hingga saat ini. “Nabungnya setiap hari Kamis. Jadi tabungan sampah selama seminggu sudah disiapkan dalam wadah kresek untuk dibawa. Tidak mungkin lupa karena sudah dicatat di notes kalender hari itu,” sambung Bagas sambil tertawa.
Bagi mereka, menabung sampah sekarang memang sudah menjadi keasyikan tersendiri. Bahkan, mereka  sudah hapal sampah mana yang bernilai ekonomis tinggi dan sampah mana yang paling mudah untuk ditimbang. “Tembaga super yang paling mahal. Tapi paling sering bawa sampah plastik, koran dan majalah, soalnya paling mudah ditemukan. Kalau tidak dari rumah di sekolah juga banyak teman-teman yang minum pakai botol plastik. Wadahnya bisa saya simpan,” lanjut Kavinda Putri Andari.
Nasabah cilik ini kemudian  antri menimbang  sampah mereka di depan petugas BSM SD Plus Al Kautsar. Masing-masing sampah akan ditimbang dan dipilah sesuai dengan jenis yang sama. Mulai dari sampah jenis botol plastik, botol kaca, koran dan majalah, tembaga sampai plastik rumah tangga. Kondisi sampah bersih ataupun kotor juga mempengaruhi harga beli sampah yang akan dicatatkan dalam buku tabungan mereka. Sampah yang telah menumpuk di SD tersebut akan diambil oleh petugas BSM setiap dua minggu sekali pada  hari Jumat.
Ketua BSM SD Plus Al Kautsar Uswatun Hasanah mengungkapkan ada 345 nasabah BSM di sekolah dengan  sekitar 700 siswa  tersebut. Ia juga  mengakui bahwa  ada wali murid yang awalnya merasa enggan dengan program BSM tersebut. Konsep mengumpulkan sampah sempat dinilai sebagai pekerjaan pemulung diawal BSM berjalan.
‘’Bahkan, saya sempat diprotes wali murid. Katanya, anaknya terlambat ikut les karena pulang berjalan kaki sambil mengumpulkan sampah kardus dan botol plastik sepanjang jalan. Jadi saking semangatnya mengumpulkan sampah untuk ditabung. Tapi setelah diarahkan anaknya jadi tahu waktu dan tempat untuk mengumpulkan sampah,” tutur wanita berkerudung tersebut sambil tersenyum.
Greget menabung sampah memang sedang mewabah di Kota Malang. Bank Sampah Malang yang berkantor di TPU Sukun mencatat jumlah nasabah total sebanyak 19 ribu nasabah terdiri dari 187 kelompok masyarakat, 161 sekolah, 18 instansi dan 246 individu. 80 persen diantaranya adalah ibu rumah tangga dengan sampah rumah tangga di luar sampah TPA.
Program yang tumbuh dari lanjutan strategi pemilahan sampah organik dan anorganik tersebut semakin menggurita dengan dukungan Pemkot maupun perusahaan lain di Kota Malang. Sistemnya sangat sederhana, sampah yang terkumpul di masing-masing rumah tangga bisa ditimbang pada ketua kelompok di RT setempat atau dibawa langsung ke BSM Malang. Ada sekitar 70 jenis klasifikasi sampah dengan harga per kilo yang berbeda. Sedangkan mekanismenya sama dengan penimbangan sampah yang berlangsung di SD Plus Al Kautsar.
“Nilai rupiah yang tertera pada tabungan adalah harga beli sampah setelah ditimbang. Tabungan tersebut bisa diambil sewaktu-waktu langsung di BSM ataupun di petugas kelompok yang telah ditunjuk. Dengan tabungan itu nasabah juga bisa beli pulsa dan bayar rekening listrik, PDAM dan Telkom. Semua sarananya sudah siap dan memadai,” tegas Rahmat Hidayat, Direktur Bank Sampah Malang.
Berbagai terobosan itu bisa dilakukan setelah BSM mulai menenggak keuntungan dan bisa membeli sampah secara berlanjut dari rumah tangga tanpa merugi. Mesin pencacah sampah plastik yang dimiliki sekitar satu tahun terakhir mampu membuat harga jual sampah dari BSM lebih tinggi ketimbang saat dijual dalam bentuk awalnya. Kini pelanggan cacahan sampah BSM berasal dari pabrik di beberapa kota Jawa Timur mulai dari Malang, Mojokerto, Pasuruan hingga Surabaya.
“Enam bulan pertama kami merugi.Bahkan  kami  hanya dapat hidup dari bantuan modal Pemkot lewat DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan). Penyebabnya  harga beli sampah yang hampir sama dengan harga jual serta belum terjadwalnya waktu penimbangan dan penjemputan sampah,’’ terang pria yang diperbantukan dari DKP Kota Malang ini.
Ia kemudian memaparkan,  pihaknya setelah itu terus belajar dan juga mendapat bantuan mesin pencacah sampah, sampah plastik cacah per kilonya bisa laku Rp 8000, sementara jika tidak dicacah harganya hanya Rp 4800 per kilo.  Seluruh proses pemilahan dan pencacahan sampah dilakukan langsung di belakang kantor BSM di kawasan TPU Sukun. Satu mesin pencacah juga terus beroperasi setiap hari dalam satu minggu di lokasi tersebut.
Sekarang, nama  BSM  telah berhasil harum sampai ke tingkat nasional.Bahkan membuat Menteri Lingkungan Hidup Balthazar Kambuaya kembali menyambangi BSM untuk kedua kalinya setelah datang kali pertama saat meresmikan BSM ini. Namun BSM tak hendak puas diri. Berikutnya Bank yang berkantor di depan TPU Sukun itu berencana untuk mengkhususkan tabungan nasabah langsung untuk membayar pulsa listrik PLN.
“Jadi sistemnya otomatis setiap bulan langsung dimasukkan untuk bayar tagihan listrik. Sisanya baru dibayar dengan uang. Kalau sekarang kan bayar rekeningnya belum otomatis.Tetapi sesuai permintaan nasabah saja. Jadi fungsi tabungan sampah akan benar-benar terasa manfaatnya,”  tutupnya.  (Dyah Ayu Pitaloka)