Berkah Bagi Kera Ngalam, Relasi dan Rekomendasi Dibutuhkan

Ketika Kota Malang Mulai Menarik Minat Sineas Indonesia

Makin banyak film Indonesia yang mengambil setting Kota Malang. Seperti Punk in Love, Tendangan dari Langit, 5 cm, serta yang terbaru adalah 9 Summer 10 Autumn. Apalagi penggarapan melibatkan pemuda pemudi lokal. Inilah yang berpotensi menjadikan Malang sebagai kota sineas.

Bikin film itu tidak gampang. Mungkin kalimat itu yang pertama kali terlintas ketika melihat langsung proses produksi sebuah film yang melelahkan dan cukup rumit. Namun, sulit bukan berarti tidak bisa diwujudkan. Asal ada niat dan kemauan serta didukung dengan beberapa relasi yang kita miliki, segalanya menjadi mungkin dan mudah. Itulah yang dirasakan oleh Mulya Rhukmana.
Pria kelahiran Ambon, 13 November 1986 ini mengaku, dirinya tak pernah membayangkan bisa bergabung, bahkan menjadi orang kepercayaan di beberapa judul film layar lebar.
Ia hanya ingin menyalurkan hobinya di bidang film. Saat itu, Mulya justru fokus di bagian pemutaran dan diskusi film. Sama sekali tidak bersinggungan dengan urusan di balik layar.
‘’Mulai suka film, saat masuk jadi mahasiswa dulu. Saya juga bergabung dengan salah satu UKM Film yang ada di Kampus UMM. Dari sana, saya mulai terlibat dalam pemutaran dan diskusi film. Kemudian dipercaya menjadi programmer festival film,’’ ungkapnya.
Festival film tersebut, diikuti oleh banyak peserta yang berasal dari penjuru tanah air. Secara tidak langsung, Mulya mulai berkenalan dan menjalin hubungan baik dengan para sineas tersebut. Beruntung ia bertemu dengan salah seorang yang ahli di bidang festival dan biasa menangani JIFFest (Jakarta International Film Festival).
‘’Saya mencoba peruntungan dengan mengirimkan surat lamaran magang di JIFFest. Ternyata saya diterima dan di tempatkan di bagian festival. Tentu bukan karena sebuah kebetulan. Adanya relasi dan rekomendasi dari teman, yang sama-sama terlibat dalam pemutaran film, membuat saya diprioritaskan,’’ beber pria yang aktif di komunitas film Lensa Mata ini.
Setelah cukup lama berjibaku dengan festival, Mulya mulai melirik manajemen produksi sebuah film. Ada banyak hal yang ia dapatkan, terutama tentang kesalahan beberapa pemula film maker yang masih berlangsung hingga saat ini.
‘’Kota Malang ini memiliki banyak sineas film. Terutama film independent (indie). Walaupun film indie secara umum adalah film yang dibuat berdasarkan idealisme, namun mereka juga perlu mengetahui market. Misalkan, film yang mengangkat isu tentang transgender, bisa diikutkan dalam Q Film Festival. Setidaknya dari sana film mereka diapresiasi oleh banyak pihak dan mulai menjalin relasi di dunia perfilman yang lebih luas,’’ terangnya kepada Malang Post.
Pria yang terlibat langsung dalam produksi film Sang Penari dan 9 Summer 10 Autumn (9S10A) ini, mengaku menikmati perannya sebagai seorang sineas. Apalagi ketika pengambilan gambar dilakukan di Kota Malang.
‘’Tim produksi dari Jakarta pasti akan menghubungi orang-orang yang mereka kenal, saat ingin mengambil gambar di luar kota. Sebelumnya, Ifa Isfansyah (Sutradara 9S10A) adalah pembuat film pendek dan sering melakukan pemutaran di luar kota, termasuk Malang. Dari sana saya mulai berkenalan. Akhirnya ketika dia mulai terjun ke film layar lebar, saya adalah salah satu orang yang diajak kerja sama. Mulai dari Sang Penari, hingga 9S10A baru-baru ini,’’ ujarnya dengan nada merendah.
Pengalaman tak terlupakan juga dirasakan oleh Fitria Nindyasari, Asisten Sutradara 3 (Astrada 3) Film 9S10A. Niat hati mengikuti casting, agar memperoleh peran sebagai pemain pendukung film tersebut, justru tawaran menjadi kru di belakang layar yang ia terima. Lagi-lagi karena adanya relasi yang telah dikenal sebelumnya. Perempuan yang akrab disapa Rifi ini akhirnya merasakan debut pertamanya menjadi kru film layar lebar.
‘’Nggak nyangka dan seneng banget bisa belajar banyak di sini. Istilahnya kan aku masih anak magang, tapi sudah mendapat banyak pengarahan dan bimbingan. Awalnya aku dikasih tahu, betapa beratnya jadi anak film apalagi Astrada. Kalau kata Astrada 1, aku kan cewek dan punya tubuh kecil. Berhadapan sama orang banyak bisa-bisa nggak kelihatan. Belum lagi tekanan kerja di sana, bakal dibentak-bentak,’’ ungkapnya.
Namun, apa yang ada di benaknya tidak seperti kenyataan di lapangan. Rifi justru mendapatkan banyak ilmu baru, yang selama ini tidak pernah ia dapatkan ketika aktif membuat film pendek.
‘’Beruntungnya aku bisa dipertemukan dengan tim yang luar biasa sabar. Kalau kata kru di sana, aku adalah orang yang beruntung. Soalnya magang di tempat yang enak dan santai. Biasanya kalau produksi film itu makan, tidur, istirahat jadi nggak teratur,’’ jelas gadis kelahiran Surabaya ini.
Runner Up 1 Putri Kartini 2011, Ayu Hapsari memiliki pengalaman yang berbeda. Dia mendapatkan kesempatan menjadi pemain pendukung dan bermain dalam sebuah scene yang tergolong pendek.
‘’Kalau sesuai jadwal sih aku cuma ikut syuting satu hari. Tapi dikasih kesempatan buat bantu-bantu di bagian talent. Ya memang sih hanya ngabsen, tapi asik kok. Aku jadi tahu gimana cara kerja orang-orang di belakang layar. Soalnya dulu aku nggak pernah ngerti bagaimana caranya bikin film. Kalau sekarang sudah tahu dan semakin tertarik buat menekuni bidang film,’’ pungkasnya lantas tersenyum. (Kurniatul Hidayah)