Semarak Peringatan 1 Muharam 1434 Hijriah di Gunung Kawi

PERINGATAN  1 Muharam 1434 Hijriah di Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang sudah menjadi acara adat yang rutin dilakukan setiap tahun.  Kemarin siang, kegiatan berlabel ‘Gebyar Ritual Suro tahun 2012’ itu kembali tergelar. Lantas, bagaimana suasananya?

Pagi kemarin, terminal Desa Wonosari tampak lebih ramai dibanding hari sebelumnya. Sebagian masyarakat sudah berkumpul di tanah lapang yang biasa dipakai aktifitas transportasi umum penghubung dari berbagai wilayah ke desa ini. Ya, mereka ini adalah peserta sedang bersiap diri mengikuti ‘Gebyar Ritual Suro 2012 Gunung Kawi’ yang tepat jatuh pada tanggal 15 November. Tak ketinggalan, jolen alias tempat tumpeng juga sudah disiapkan warga sebagai pendukung ritual Suroan. Jolen yang dibawa mereka ada yang bermotif naga berkepala lima sebagai simbol Sanghyang Ananta Sesha (Penjaga Astana Pura) dan Hanoman sebagai simbol kejujuran dan keiklasan.
Cuaca yang sempat mendung tidak mengendorkan semangat mereka. Awak tiap-tiap grup Jolen dari 14 regu yang berasal dari 14 RW di wilayah Desa Wonosari tampak begitu sabar dan ramah. Tak jarang dari mereka menerima ajakan foto bersama dengan pengunjung atau wisatawan yang hadir demi menyaksikan prosesi kegiatan. Sebelum kemudian, tepat pukul 11.00 WIB, pawai ‘Gebyar Ritual Suro 2012’ ini diberangkatkan langsung oleh Bupati Malang, H Rendra Kresna.
‘’Selamat tahun baru Islam, 1 Muharam, selamat tahun baru Jawa, 1 Suro. Semoga di tahun ini, kita bisa lebih baik dibanding tahun sebelumnya,” tutur Rendra dalam sambutannya. ‘’Pada peringatan pergantian tahun ini, banyak unsur yang didapat dari, antara lain membina persatuan dan kesatuan dan memoles potensi yang ada di desa menjadi hal yang berharga dan bernilai,” terang Rendra sembari siap mensupport kegiatan ini sebagai promosi wisata Kabupaten Malang.
Gebyar ini dibuka penampilan tarian ucapan selamat datang, Tari Beskala, warga Desa Wonosari yang dikombinasi tari terbang atau samproh. Sekitar 200 orang yang didominasi ibu-ibu ini tampil begitu memukau, baik Rendra Kresna, penonton, wisatawan dan pengunjung. Kemudian, pawai dimulai dengan rute berjarak kurang lebih 750 meter, dengan start di terminal dan finish di dekat pesarehan dua tokoh kejawen: RM Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876) dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Bupati dan jajaran Muspika Wonosari berada di barisan terdepan selama pawai sehingga cukup menarik perhatian warga setempat.  
Pada prasasti di depan makam tertulis Mbah Djoego ini buyut Susuhanan Pakubuwono I yang memerintah Kraton Kertosuro di tahun 1705-1717. RM Imam Soedjono buyut Sultan Hamengku Buwono I memerintah Kraton Jogjakarta pada 1755-1892. Kedua tokoh ini orang Islam dimakamkan secara Islam serta adat kraton. Makam keduanya berdampingan di gedung utama. Ada larangan keras memotret atau mengambil gambar saat masuk kompleks ziarah utama ini. Para pekerja, semua berbusana adat Jawa, mengawasi semua pengunjung dengan keramahan yang khas.
‘’Pak Bupati, Pak Bupati!” teriak warga saat berusaha menyapa Rendra juga tampak bersemangat selama perjalanan menyelesaikan rute pawai. ‘’Boleh foto bersama ya pak?” minta beberapa warga yang kemudian diamini Rendra secara satu per satu.
Selain Jolen ikut pawai sebelum kemudian dikumpulkan di dekat pesarehan, warga juga membuat sebuah ogoh-ogoh atau patung raksasa sebagai simbol perwatakan jahat. Ogoh-ogoh ini dibuat warga RW 08, Dusun Sumbersari yang berpredikat pemenang jolen tahun 2011 dengan menghabiskan dana Rp 15 juta. Sedangkan, jolen yang dibawa belasan RW ini dilombakan, dan RW yang terpilih sebagai pemenang tahun ini bertugas membuat ogoh-ogoh untuk perayaan tahun depan. Ogoh-ogoh ini kemudian dibakar.
Sumadi, Ketua Panitia sekaligus Kepala Dusun Wonosari menyebut, kegiatan Gebyar 1 Suro ini sebagai wujud keyakinan warga sekitar Gunung Kawi sebagai tahun untuk membuang segala perilaku buruk yang ada dalam diri manusia. Seperti pada peringatan sebelumnya, serangkaian kegiatan digelar warga setempat dalam beberapa hari terakhir sebelum datangnya pergantian tahun, tepatnya 1 Suro atau 1 Muharam. Diantaranya juga pertunjukkan wayang kulit dan doa bersama. Kegiatan ini disebutkan diikuti oleh empat dusun di Desa Wonosari, meliputi Wonosari, Sumbersari, Pujombo dan Kampung Baru.
‘’Pembakaran patung raksasa itu adalah sebagai pertanda penghancuran sifat angkara murka pada manusia. Oleh karena itu, setelah pembakaran patung itu, diharapkan tidak ada sifat angkara murka pada manusia,’’ jelas Kuswanto. (poy heri pristianto)