Tim Malang Post Dampingi Dahlan Iskan Berlibur ke Batu (1)

Untuk kali kedua, Malang Post mendapat tugas mendampingi Dahlan Iskan selama berlibur ke Kota Wisata Batu. Banyak hal-hal menarik selama menjadi ‘ajudan’ Menteri BUMN meski hanya dalam waktu tiga hari. Berikut catatannya.

Minggu, 11 November. Waktu masih sangat pagi di halaman Balai Kota Surabaya. Baru menunjukkan pukul 05.30 WIB. Tapi halaman kantor di pusat kota Surabaya itu, sudah ramai orang.
Musik Gangnam Style yang mengiringi ribuan orang itu senam, baru saja selesai. Keringat membasahi tubuh peserta senam, yang juga akan menjadi peserta jalan sehat. Diantaranya terdapat Dahlan Iskan, Menteri BUMN dan Napsiah Sabri Dahlan. Termasuk sang putri, Isna Fitriana.
Bersama-sama dengan mereka, para CEO dan Pemimpin Redaksi Jawa Pos Grup juga ikut serta. Karena kebetulan sehari sebelumnya, CEO dan Pemred itu menggelar rapat kerja di Surabaya. Termasuk Direktur Utama Malang Post, Imawan Mashuri, Direktur Juniarno D Purwanto dan Pemred Malang Post Sunavip Ra Indrata.
‘’Saya dan keluarga akan liburan lagi di Batu. Soalnya benar-benar ngangeni. Anda dan teman-teman tidak sibuk, kan? Saya Rabu (14/11) berangkat,’’ kata Dahlan kepada Ra Indrata, yang saat itu berada didekatnya.
Sambil masih mengatur nafas karena terforsir untuk mengikuti gerakan Gangnam Style, Ra Indrata mengangguk. Meski sebenarnya tidak menyangka Dahlan tiba-tiba memutuskan ingin berlibur di Batu, untuk mengisi libur panjang, 14-18 November.
Karena akhir Oktober lalu, keluarga besar Dahlan Iskan juga memanfaatkan libur panjang ke Batu. Benar-benar sangat membanggakan karena Batu sudah mampu menarik hati Dahlan Iskan sebagai tempat berlibur.
Tidak berapa lama kemudian, keinginan berlibur itu juga disampaikan Isna. ‘’Mas, kita sama keluarga ingin ke Batu lagi. Tapi Abah (panggilan keluarga untuk Dahlan Iskan, Red.) berlibur, loh! Jangan terlalu padat agendanya,’’ kata Isna yang ketika itu memakai kaos kuning bertuliskan : ‘’Buangkan koruptor di tempat sampah.’’
Rampat singkat pun langsung digelar. Cukup unik juga rapatnya, karena pembicaraan dilakukan disela-sela jalan sehat, dipimpin Imawan. Karena waktu persiapan sangat singkat, hanya tiga hari. Pembicaraan yang paling serius adalah mencari hotel untuk menginap.
Ketika libur akhir pekan saja, mencari hotel yang sangat representatif untuk keluarga besar, sangat susah. Apalagi di masa long week end. Belum lagi, jumlah keluarga yang berlibur mencapai 20 orang.
Beruntung hubungan baik yang selama ini terjalin dengan pelaku wisata di Batu, Malang Post bisa mendapatkan dua villa di Jambu Luwuk. Meski sebenarnya dua villa itu tidak cukup. Harus ditambah lima extra bed.
Perburuan selanjutnya adalah mencari bahan makanan mentah. Bunda Napsiah, sangat suka memasak. Setiap pagi ketika di hotel, istri Dahlan yang asal Kalimantan ini, memilih memasak sendiri, ketimbang menyantap hidangan yang disiapkan hotel. Bahan mentah yang wajib ada adalah sayur mayur, tempe dan ikan.
Termasuk klethikan dan minuman khas Batu. Dahlan, paling suka ngemil kripik nangka dan salak. Untuk minum, sari apel rasa leci menjadi favorit keluarga. Sedang cucu-cucu, selalu menyerbu susu segar.
Ketika persiapan selama menginap dan ubo rampe lainnya selesai, tugas selanjutnya adalah mempersiapkan kunjungan Dahlan selama di Batu. Apalagi jatah yang diberikan keluarga untuk Dahlan bisa menjalankan tugasnya sebegai menteri, hanya setengah hari.
‘’Itu saja sebenarnya sudah lama. Abah ke Batu untuk liburan sama cucu-cucu. Jadi bekerjanya jangan lama-lama. Awas kalau sampai waktu untuk cucu berkurang,’’ ancam Isna, adik kandung Azrul Ananda.
Padahal, buanyak acara yang berharap bisa dihadiri Dahlan Iskan. Mereka tahu, alam kunjungan pertama, akhir Oktober lalu, Dahlan sempat bertemu beberapa kelompok masyarakat. Sementara waktu yang ada, sangat sempit. Dari banyaknya keinginan-keinginan itu, tim Malang Post harus memilih yang benar-benar efektif dan efisien.
Belum lagi, tim juga harus menyiapkan perangkat tele conference antara Dahlan dan salah satu pondok pesantren di Tasik. Sebuah pekerjaan, yang tak mungkin dilakukan sendiri. (tim)