Pernah Mencintai Satu Lelaki, Sering Dianggap Dimutasi

Dua Guru Kembar Identik yang Juga Sama-sama Mengajar Biologi

KOTA Malang punya guru yang lahir kembar identik. Namanya Sri Wiludjeng, guru Biologi SMAN 3 dan Sri Widodo, guru Biologi SMPN 3. Mengajar mata pelajaran yang sama adalah salah satu dari faktor kesamaan, selain wajah mereka yang bagai pinang dibelah dua. Masih ada banyak kesamaan lainnya yang cukup seru untuk diikuti kisahnya.

Wajah yang sama, suara yang sama, hingga cara berpakaian yang sama, membuat banyak orang tak bisa membedakan sosok Ci, panggilan akrab Sri Wiludjeng dan Wid, panggilan akrab Sri Widodo.
Bahkan siswa mereka pun sering kecele saat melihat salah satu dari mereka. Bagi siswa SMPN 3 Malang yang melanjutkan ke SMAN 3, tentu akan terkejut melihat guru mereka ada SMAN 3. Mereka mengira guru Biologi di SMAN 3 itu adalah guru mereka yang dipindah dari SMPN 3.
Kebetulan Ci dan Wid sama-sama mengajar Biologi di sekolahnya masing-masing. Bagi yang tidak tahu kalau mereka kembar, banyak yang mengira guru mereka dimutasi dari SMPN 3 ke SMAN 3.
‘’Banyak yang bilang seperti masih diajar Bu Wid saja di SMP. Suara kami sama persis, cara mengajar kami pun sama,’’ ungkap Ci ditemui di rumahnya kemarin malam.
Ci dan Wid adalah kembar identik yang sempurna. Tak ada perbedaan sedikitpun pada wajah keduanya. Bahkan suara, gaya berjalan dan postur tubuh mereka pun sama persis. Hanya saja, saat ditemui kemarin Wid memotong rambutnya lebih pendek dari Ci.
‘’Kami sering dijadikan bahan tebak-tebakan waktu di kampus, dan tidak ada yang bisa mengenali mana Ci dan mana Wid,’’ ujar Ci.
Sebenarnya kalau sekarang ini keduanya sama-sama mengajar di Kota Malang, bukan sebuah kebetulan. Pada awal penempatan sebagai calon guru, Ci dan Wid ditempatkan di Lumajang. Hanya saja, Ci mengabdi dua tahun saja di Lumajang dan kemudian dipindah ke SMPN 2 Malang. Sementara Wid kurang lebih 11 tahun berada di Lumajang.
‘’Saya saat itu gelisah karena memang saya tidak bisa jauh dari saudara kembar saya, sehingga saat ada lowongan di SMPN 3 maka saya berupaya mendaftarkan Wid kesana,’’ ucap Ci.
Sementara Ci sejak awal tahun ini dipindah ke SMAN 3 dari tempat mengajar sebelumnya yaitu di SMPN 2. Dengan demikian keduanya kini sama-sama mengajar di sekolah almamater mereka dulu.
Sebenarnya bertugas di Lumajang, sangat mereka nikmati. Apalagi Wid yang merasa bisa mengabdikan diri dengan maksimal disana. Meski jarak tempuh cukup jauh dan keterbatasan sarana prasarana namun ia mengaku sangat menikmatinya.
Menjadi seorang guru adalah cita-cita Ci dan Wid sejak kecil. Mata pelajaran Biologi mereka pilih sebagai tujuan belajar bukan karena keingintahuan mereka mengenai pembelahan sebuah zigot yang berasal dari ovum dan sperma. Tapi pilihan ini dikarenakan sosok guru biologi mereka yang menjadikan biologi menjadi pelajaran yang menarik. Karena itulah keduanya mendaftarkan diri ke IKIP Negeri Malang (UM, Red).
‘’Kami ikut tes bersama-sama, diterima di jurusan yang sama, dan memiliki nomor induk mahasiswa (NIM) berurutan,’’ kata dia.
Karena NIM yang berurutan itulah, saat mengikuti crass program untuk penempatan PNS mereka sama-sama ditempatkan di Lumajang.
Meski dua badan, tapi keduanya mengaku seperti satu jiwa. Tidak heran kalau apa pun selalu sama. Baik itu yang direncanakan atau pun yang kebetulan saja. Misalnya saat berbelanja di tukang sayur, mereka kompak belanja barang yang sama.
‘’Tukang sayur di rumah sampai tertawa terpingkal-pingkal karena sebelumnya saudara saya juga belanja sama persis. Bahkan berapa uang belanja yang kami keluarkan hari itu juga kata tukang sayur sama persis,’’ kenangnya.
Tak hanya itu, membuat soal ujian untuk siswa pun mereka sering kali kompak walau proses pembuatannya tidak bersama-sama. Bahkan yang lucu, keduanya pernah jatuh cinta pada orang yang sama. Walau akhirnya masing-masing menikah dengan orang yang berlainan di hari yang sama. ‘’Resepsi kami digelar di Skodam Brawijaya 11 Januari 1984 lalu dengan dua pelaminan,’’ ucapnya.
Ci dan Wid kini sama-sama tinggal di kawasan Jalan Letjen Sutoyo. Rumah mereka berdampingan dan hanya terpisahkan satu rumah saja. Seperti sudah direncanakan, Ci bisa membeli sebuah bangunan tua yang ada di samping rumah Wid. Mereka bersama-sama membesarkan anak mereka dan mengabdi untuk dunia pendidikan di Malang.
‘’Saya pernah mendapat penghargaan guru favorit di Jawa Pos, dan saudara saya juga kebetulan sama-sama mendapat penghargaan guru favorit di sekolahnya,’’ ucap Wid.
Kini diusia yang 52 tahun, keduanya masih memiliki satu keinginan yang sama. Yaitu membangun sekolah yang menjawab kebutuhan siswa. Menjadi wadah untuk anak tumbuh dan berkembang sesuai usianya. (lailatul rosida)