Anak Yatim Kampoeng Kidz Jadi Koreografer Tari ke Senayan

KAMPOENG KIDS memang tidak setenar Jatim Park atau Selecta untuk bergerak dalam bidang pariwisata di Kota Batu. Namun lokasi wisata berlokasi di Jalan Raya Pandanrejo Kota Batu ini, memiliki ciri khas tersendiri. Keberadaanya sempat membuat Menteri BUMN, Dahlan Iskan bersama keluarganya kagum saat berkunjung, Kamis (16/11) lalu.

Suasana Kampoeng Kids tidak berbeda dengan suasana hari-hari sebelumnya, ketika rombongan Ny Nafsiah Sabri, istri Dahlan Iskan tiba di lokasi itu. Beberapa anak sudah berjajar menyambut kedatangan istri Menteri BUMN bersama anak dan cucu-cucunya itu. Mereka tidak mengenakan pakaian biasa, melainkan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
‘’Loh… Ini ada mbak-mbak dari Papua,’’ kata Ny Nafsiah Dahlan sembari menyalami anak-anak pengelola Kampoeng Kidz.
Anak-anak usia SMA tersebut memang sedang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia ketika menyambut tamu itu. Pakaian adat Papua adalah salah satu yang dikenakan. Selain itu pakaian adat Bali, Manado, Sumatera hingga Madura juga dikenakan oleh anak-anak Kampoeng Kidz itu.
Anak-anak usia SMA tersebut ternyata tidak sekadar mengenakan pakaian adat untuk menyambut tamu. Mereka sudah menyiapkan tarian dengan judul PSG (Pesona Sang Garuda). Tarian itu ditata apik dengan menampilkan aneka kesenian yang ada di Indonesia. Tari Kecak (Bali), Sajojo (Papua), Jaranan (Jawa) hingga tarian dari Pulau Madura juga ditampilkan.
Tarian tersebut ternyata sudah ditampilkan di Istora Senayan Jakarta atas undangan Wakil Presiden Boediono, Juni lalu. Tari-tarian itu ditampilkan anak-anak Kampoeng Kidz saat dihadapan Wakil Presiden bersama beberapa menteri dalam acara Hari Anak Nasional.
Tarian yang biasa menembus Istora tersebut, ternyata diciptakan oleh dua orang anak yatim yang sekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia Kota Batu, yakni Olfarida Pode’u dan Sheren Della Sandra. Keduanya juga tidak mendapatkan pelajaran koreografi dari koreografer profesional melainkan belajar sendiri (otodidak).
‘’Kadang membaca buku atau belajar dari CD. Pokoknya kami harus belajar sendiri untuk menciptakan tari PSG  (Pesona Sang Garuda). Sekolah kami berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kami harus memanfaatkan mereka untuk menjadi penari atau setidaknya referensi pakaian adat,’’ tegas Sheren.
Ya, Kampoeng Kidz adalah objek wisata yang dikelola oleh anak-anak yatim yang sekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia Kota Batu. Kampoeng Kidz menjadi laboratorium sekolah, sekaligus alat tempat usaha untuk membiayai kehidupan anak-anak itu.
‘’Kami mendirikan SMA Selamat Pagi Indonesia terlebih dahulu tahun 2007 sebelum mendirikan Kampoeng Kids. Sekolah ini gratis untuk anak-anak yatim atau yatim piatu. Kami mendirikan Kampoeng Kids untuk laboratorium wirausaha anak-anak sekaligus menjadi alat penghasilan bagi mereka (siswa),’’ ujar Julijanto Eka Putra, pendiri Kampoeng Kids (SMA Selamat Pagi Indonesia).
Usaha anak-anak yatim untuk melanjutkan sekolah, sajian tari ke Istora atas undangan Wakil Presiden hingga usaha mengelola Kampeng Kids, menjadikan Dahlan Iskan tertarik untuk mengunjungi.
Dia sebenarnya tidak memiliki agenda berkunjung ke Kampoeng Kids ketika berada di Kota Batu, karena jadwal yang sangat padat. Namun setelah mendapat cerita istrinya, Nafsiah Sabri, Meneri BUMN itu menyempatkan diri berkunjung untuk melihat suasana sekaligus memberikan dukungan moral kepada anak-anak Kampoeng Kidz.
Kampoeng Kids atau SMA Selamat Pagi Indonesia memiliki lahan sekitar 10 hektar. Kampung itu memiliki fasilitas sekolah seperti SMA kebanyakan, asrama, lapangan, serta tempat belajar dan bermain bagi anak-anak. Permainan juga bukan sembarang permainan karena ada unsur belajar, terutama berwirausaha.
Pengunjung bisa praktik life skill entrepreneurship tentang bagaimana menjadi costumer service, sales and marketing, petugas administrasi dan accounting, mengelola sebuah kedai, menjadi event organizer, keramahan menerima tamu, serta menjadi pemimpin.
Pengelola memberikan uang (tiket) kepada setiap pengunjung dan uang tersebut digunakan sebagai tiket masuk aneka fasilitas. Anak-anak bisa diajak belajar bagaimana memelihara binatang, mulai kambing, kelinci, merpati, hingga angsa. Mereka juga diajak menanam dan panen aneka tanaman, misalnya jagung. Anak-anakpun bisa menikmati serunya menangkap ikan pada kolam dangkal.
Menurutnya, kedatangan Dahlan Iskan bersama keluarga mampu membuat semangat anak-anak semakin tumbuh. Mereka memiliki semangat tinggi untuk terus mengembangkan jiwa entrepreneur tangguh dari segala cobaan. Anak-anak juga tidak boleh minder meski mereka tumbuh sebagai anak yatim.
‘’Pak Dahlan dan keluarganya juga butuh perjuangan keras untuk sukses. Saya mendapatkan cerita dari Bu Dahlan, jika beliau harus berjualan koran. Bahkan anak pertamanya, biasa tidur beralaskan koran ketika masih kecil,’’ tegas Julijanto. (febri setyawan)