Melihat Pusat Informasi Bisnis Kelompok Usaha Pemuda Produktif

PARA  pemuda produktif  Kota Malang, boleh tersenyum. Mereka akhirnya mendapat tempat khusus untuk display hasil karya setelah 10 tahun mencari tempat yang representatif. Kini akses pemasaran dan mengenalkan karya mereka pun semakin luas.

Ruangan di sudut lantai dua Stadion Gajayana itu  nyaman dan representatif sebagai  tempat display hasil kreatifitas kaum muda. Ruangan yang bisa diakses dari dalam dan luar stadion itu, diberi nama Pusat  Informasi Bisnis Kelompok Usaha Pemuda Produktif (PIB-KUPP).
Usai diresmikan Wali Kota Malang Peni Suparto dan Ketua TP PKK Hj Heri Pudji Utami, beberapa hari lalu, PIB KUPP langsung difungsikan. 100 item karya pemuda kota pendidikan ini, langsung dijejer rapi. Semuanya siap dijual.
Mendapat ruangan yang nyaman dan reprensenantif di area Dinas Pemuda dan Olah Raga itu, ternyata bukan hal mudah. Masih segar diingatan Ketua PIB KUPP, Djoko Anung Prijanto untuk mendapat ruangan khusus display, butuh perjuangan.
‘’Waktu itu awal Juli. Saya dihubungi Pak Soni  (Kadis Pemuda dan Olah Raga, Ir Hadi Santoso) untuk bertemu. Saya yang saat itu sedang rapat penanggulangan bencana di Kota Batu, langsung meluncur ke Malang,’’ kata Anung.
Begitu bertemu Inos, sapaan akrab Hadi Santoso, Anung langsung ditanyai, apa saja kebutuhan pemuda produktif. Tempat adalah jawabannya. Seketika itu juga langsung disiapkan tempat yang sejak Selasa (20/11) lalu, langsung berfungsi sebagai PIB KUPP.
Ini hal yang luar biasa bagi Anung. Betapa tidak, sudah 10 tahun Anung bolak balik mengajukan penggunaan tempat ke berbagai dinas di Pemkot Malang untuk dijadikan PIB KUPP. Tapi tak kunjung mendapat jawaban pasti.
Lima tahun lalu, akhirnya mereka mengkontrak di kawasan Jalan Aris Munandar. ‘’Tepatnya di Jalan Aris Munandar Gang V. Sebelumnya di Jalan Aris Munandar 805,’’ katanya.
Tempat  yang lama, memang layak. Tapi butuh tempat yang lebih mudah untuk diakses sebagai pusat informasi bisnis. Apalagi PIB KUPP sudah dikenal luas di Jatim, bahkan sering dijadikan tempat untuk kunjungan dan syuting produk unggulan Jatim.
Kini di Stadion Gajayana, PIB KUPP yang mewadahi 50 kelompok usaha pemuda produktif itu semakin mudah diakses. Awalnya beroperasi  mulai jam 08.00 sampai jam 16.00 WIB. Rencananya akan dikembangkan sehingga beroperasi hingga malam.
‘’Disini fungisnyna sebagai ruang pamer usaha pemuda produktif. Mewadahi pemuda produktif yang tidak memiliki tempat. Selain itu, pemesanan produk bisa dilakukan disini,’’ terang Anung.
Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kota Malang ini mengatakan, PIB KUPP juga melayani peminjaman modal usaha tanpa bunga. Pinjaman modal sebesar pemesanan barang. Tujuannya agar modal yang dipinjamkan betul-betul digunakan untuk produksi produk sesuai pesanan.
Usaha berbasis kerajinan tangan yang dikembangkan para pemuda ini, merupakan usaha yang berkembang. Bayangkan saja, omset total 50 kelompok dalam sebulan mencapai Rp 100 juta. Produk mereka dipesan dari berbagai daerah di Indonesia, diantaranya Batam, Jakarta, Yogya dan Bali. Semuanya dipesan secara rutin.
Sedangkan jenis-jenis produknya yakni aneka kerajinan tangan, makanan ringan, kaos, hingga aklirik.  Selain itu sepatu dan berbagai kerajinan tangan lainnya.
Wali Kota Malang Peni Suparto pun menaruh harapan besar pada PIB KUPP dan para pemuda produktif. ‘’Harapan saya, PIB menjadi tempat bagi para pemuda produktif  agar idealisme mereka dalam berkarya terus berkembang,’’ katanya.
Inep, sapaan akrab Peni Suparto menyarankan agar tamu-tamu dari luar daerah diajak berkunjung ke PIB KUPP. Sehingga memudahkan tamu  yang mencari cinderamata asal Kota Malang.
Setelah diresmikan kemarin, Inep akan melihat perkembangannya. ‘’Kalau berkembang signifikan, kami tidak keberatan untuk membantu lagi,’’ katanya.
Kepala Dinas Pemuda dan Olah Raga, Ir Hadi Santoso  mengatakan, dibukanya PIB KUPP di kompleks Stadion Gajayana agar kreatifitas pemuda produktif semakin  berkembang. ‘’Kami hanya menampung dan memfasilitasi,’’ ucap dia.
Di PIB KUPP  lanjut Inos, masyarakat bisa mengakses dan memesan berbagai jenis produk. Pemesanan dan pembelian dalam jumlah sedikit  dilakukan di display. Sedangkan pemesanan dalam jumlah yang besar tetap dilayani. Lalu diproduksi di produsennya masing-masing. (vandri battu)