Di Balik Penyelenggaraan dan Kemeriahan MSC12

Sebuah kompetisi digelar untuk mencari para pemenang, yaitu mereka yang mampu menunjukkan kelebihannya dibanding peserta lain, yang dapat membuat karya spesial, unik dan menarik siapapun yang melihat. Begitu juga dengan M-Teens School Competition 2012 (MSC12) dengan 10 kompetisinya mencoba mencari bibit-bibit berbakat, salah satu caranya, dengan menggandeng juri-juri berkompeten di bidangnya.

Total ada 30 juri yang terlibat dalam MSC12, yang menilai peserta berdasarkan keahlian masing-masing. Untuk Young Entrepreneur Competition misalnya, M-Teens Malang Post mempercayakan penilaian karya siswa pada Noor Shodiq Askandar, Dekan FE Universitas Islam Malang yang juga trainer UKM, Totok Heriyono (pelaku UKM dan peraih penghargaan sebagai UKM terbaik tahun 2011), lalu Redaktur Senior Malang Post Husnun N. Djuraid. Mereka berjibaku sehari penuh pada sesi presentasi peserta, Selasa (13/11/12).
Para juri tidak hanya mendengariakn serta menilai konsep business yang diajukan peserta, namun sesekali juga memberikan masukan demi perbaikan  bisnis yang dijalankan entrepreneur-entrepreneur muda tersebut.
Melihat karya kreatif peserta, para juri pun berharap M-Teens Malang Post melakukan follow up MSC12, dengan menggelar diklat entrepreneurship bagi pelajar dan guru. ''Kenapa guru? Karena mereka nanti yang akan memberikan bimbingan pada siswa. Kita latih gurunya, supaya dapat memahami dengan baik konsep entrepreneurship,'' kata Totok.
Penanggung jawab MSC12 Dewi Yuhana menyambut baik masukan tersebut dan berusaha untuk merealisasikannya. Sebab, lanjut Hana, panggilan akrabnya, salah satu misi dibentuknya M-Teens oleh Malang Post adalah untuk membuat wadah ekspresi dan berkarya bagi para generasi muda, khususnya pelajar.
Juri lain yang terlibat adalah Agus Sunandar MT, dosen desain Tata Busana Universitas Negeri Malang yang juga penggagas Malang Fashion Flower Festival. Ia menilai desain dan pengerjaan mading 3D yang dibuat 30 tim perwakilan sekolah se Malang Raya. Menurutnya, pengerjaan Mading 3D karya siswa yang dipamerkan cukup bagus dan detil. Bahkan, hingga ke proses ukir yang sangat kecil sekalipun, karena beberapa karya siswa mengangkat tema candi dengan segala ukirannya.
Pun begitu dengan isi mading alias berita. Peserta mampu menyajikan sebuah tulisan berita yang tidak sekadar copy paste dari artikel, namun benar-benar menuliskannya berdasarkan wawancara. Bahkan tak sedikit yang membuat berita berdasarkan poling seperti yang biasa dilakukan M-Teens untuk beberapa tema berita.
''Materi beritanya cukup bagus dan lengkap, meski masih ada saja peserta yang hanya menyajikan artikel dan bukan berita, namun prosentasenya hanya sedikit,'' kata Anita D. Retnowati, salah satu juri Mading 3D.
Sementara itu, untuk Honda School Band Competition, M-Teens menghadirkan tiga musisi populer di Malang, Yudi d'Kross, Dicky dan Hadrianus Anang Brotoseno. Setali tiga uang dengan juri entrepreneur, para juri band ini juga berharap di kesempatan mendatang M-Teens mengumpulkan kembali peserta untuk dididik dan dibekali tentang segala hal yang diperlukan jika mereka benar-benar ingin serius menekuni dunia musik.
Masih berkaitan dengan seni, M-Teens Idol juga dinilai oleh para juri berkompeten, Athitya Diah Natalia Monica, Cecilia Sri Winarni, Annas D. Satriyo, para pengajar vocal di Purwacaraka Gresik dan Surabaya.
''Kami mencoba menyajikan juri-juri yang tidak hanya kompeten tapi juga independen, sehingga penilaian benar-benar obyektif,'' jelas Hana.
Salah satu yang sangat excited menjadi juri adalah Staf Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang Deasi Surya Andarina. Ia bersama dua juri lain menilai karya Handycraft Uang Racik yang dibuat dengan bahan dasar limbah uang kertas yang sudah tidak layak edar.
Dea, demikian ia biasa disapa, mengaku sangat senang karena mendapati banyak karya unik, ide-ide kreatif dan talent-talent yang mengagumkan. ''Limbah uang kertas itu mereka sulap menjadi kapal pinisi, pesawat, miniatur gedung BI, sampai ada yang membuat lukisan menara Eiffel dan lukisan Rama-Shinta. Karya tersebut membutuhkan ketelitian tinggi dan ketelatenan peserta, sebab mereka harus memilah uang racik berdasarkan pecahannya. Salut untuk para pelajar yang sudah mampu mempersembahkan karya terbaiknya,'' urai alumnus SMAN 3 Malang ini.
mempersembahkan karya terbaiknya,'' urai alumnus SMAN 3 Malang ini.
Jika para juri mempunyai kesan masing-masing terhadap pelaksanaan MSC12, begitu juga dengan panitia non wartawan yang sengaja direkrut M-Teens untuk membantu even akbar ini. Ikuti kesan dan pengalaman mereka di tulisan selanjutnya. (*/han)