Di Balik Penyelenggaraan dan Kemeriahan MSC12 (habis)

Cukup banyak wartawan Malang Post yang terlibat sebagai panitia dalam M-Teens School Competition 2012 (MSC12) selain Shuvia Rahma, Noer Adinda Zaeni dan Kurniatul Hidaiyah yang disebutkan dalam tulisan pertama. Ada yang bertahan sampai akhir even, namun ada juga yang ‘terpaksa’ hanya bergabung sampai pertengahan acara karena tugas wajib sebagai wartawan tak memungkinkannya untuk menjadi panitia.
Salah satu panitia yang membantu MSC12 adalah Fino Yudistira sebagai koordinator Honda School Band Competition. Namun wartawan yang bertugas di desk Arema ini hanya mampu mengawal acara sampai technical meeting (TM) karena harus bertugas keluar kota, meliput pertandingan Arema. “Saya suka musik, jadi saat dimasukkan ke kepanitiaan sebagai koordinator kompetisi band, ya senang saja, tapi ada pertandingan Arema yang tidak boleh ditinggalkan,” kata Fino.
Wartawan lain yang terlibat MSC12 adalah Anita D. Retnowati yang mengawal Mading 3D Competition, Titah Mranani menjadi koordinator M-Teens Dance Competition, lalu Winin Maulidya Saffanah sebagai koordinator Ranking 1, dan Lailatul Rosida menjadi koordinator Young Entrepreneur Competition. Selain wartawan, MSC12 juga dibantu oleh staf lay out Rahma Fatimah sebagai koordinator M-Teens Idol dan Siti Nurhasanah sebagai bendahara. Mereka, tentu saja tetap bekerja di sela-sela tugas kepanitiaan, tidak hanya ketika eksibisi digelar, namun jauh sebelum itu, saat semua persiapan acara dimulai, masa-masa TM, hingga menjelang eksibisi.  
Semua wartawan dan staf lay out Malang Post yang terlibat sebagai panitia tidak bisa bekerja full time, karena itulah, panitia besar MSC12 kemudian merekrut para mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya, Miftahul Hafizh Alkurshfnov S.J.A, Wahyu Khairul, Arif Abdurrahman Havid, Alief Marvirano, Lorenzo Mancini Sianipar, Cakraningrat Handaru Kumolo, sebagai panitia teknis. Pemilihan mahasiswa ini menjadi pertimbangan tersendiri, mereka masih muda, punya semangat tinggi dan cocok dengan konsep MSC12 yang membidik para pelajar. “Kru M-Teens pun masih mahasiswa, jadi kami rasa rekrutmen panitia dari mahasiswa ini sangat tepat sekali, mereka masih bisa membaur dengan para peserta yang semuanya pelajar,” kata Penanggung Jawab MSC12 Dewi Yuhana.
Ada banyak pengalaman menarik yang dirasakan panitia selama eksibisi berlangsung, seperti diceritakan oleh Miftahul Hafiizh Alkurshfnov yang menjadi stage manager. “Bergabung di MSC12 menjadi pengalaman luar biasa ya, penuh gejolak juga, karena harus koordinasi dengan panitia lain tanpa HT, hehe. Banyak kenalan baru juga, terutama guru-guru SMP dan SMA yang menemani anak didiknya selama eksibisi,” kata Hafiizh.
Lain lagi pengalaman Cakraningrat Handaru Kumolo yang bertugas di backstage dan memastikan semua peserta serta pengisi acara sudah datang sebelum jam mereka tampil. Ia harus menelpon setiap peserta dan mencari keberadaan mereka. “Ada peserta yang sudah datang, tapi kemudian keluar dari backstage karena ingin nonton penampilan peserta sebelum mereka. Padahal penonton sedang penuh dan saya harus mencari mereka kembali, whew!,” kata Cakra, panggilan akrabnya.
Hafiizh dan Cakra memang harus bekerjasama. Hafiizh memastikan semua acara berjalan sesuai dengan run dwon setelah ada kepastian kehadiran peserta dan pengisi acara dari Cakra. “Overall, semua rangkaian acara berjalan sesuai dengan run down, kalaupun ada keterlambatan, kita bisa mengembalikannya on the track,” kata Hafiizh.  
Sementara Wahyu Khairul, Arif Abdurrahman Havid dan Lorenzo Mancini Sianipar, yang bertugas di gate MSC12, menemui dan berhadapan dengan ribuan orang yang keluar masuk arena eksibisi, tentu saja dengan karakter mereka yang berbeda-beda. Mereka memeriksa tiket masing-masing pengunjung dan memberi tanda stempel M-Teens di tangan, di leher atau bahkan di kening dan pipi. Sesuai permintaan.
Yang membuat ketiga mahasiswa ini geleng-geleng kepala, tidak sedikit pengunjung yang mencoba mengelabui mereka dengan menyaru sebagai pengisi acara, juri, atau bahkan sebagai sekuriti. “Ada pengunjung dengan badan tinggi besar memaksa masuk dan mengaku sekuriti, setelah kita konfirmasi ke sekuriti MX ternyata bukan dari bagian mereka. Ada juga yang mengaku sebagai peserta padahal bukan, karena ada data nama peserta. Tiketnya lho hanya Rp 2500, tapi memang ya, saat kita bisa mengelabui panitia dan berhasil masuk tanpa tiket berasa gimanaa gitu, menyenangkan, hahaha,” jelas Arif.
MSC12 dengan segala kelebihan dan kekurangannya memberi kesan mendalam dan berbeda bagi setiap orang yang terlibat, dari panitia, peserta dan penonton. Mereka mendapatkan pengalaman dan pelajaran berharga serta berharap gelaran even tahunan ini akan dilaksanakan dengan lebih meriah lagi tahun depan. “Sudah banyak pelajar yang me-mention @MTeens_MP, berterima kasih untuk even yang menjadi wadah para pelajar untuk berkreasi dan berekspresi dan berjanji akan ikut lagi tahun depan. Sampai ketemu di MSC13!!,” pungkas Dewi Yuhana.(*/han)