Pelukis Difable asal Malang Siap Gelar Pameran Tunggal di Jakarta

Keterbatasan, tak membuat nyali Sadikin Pard ciut menghadapi hidup. Di balik kekurangan, pasti ada kelebihan. Itulah yang dirasakan pelukis dengan kaki asal Malang. Mengandalkan kedua kakinya, karya lelaki paruh baya ini bahkan diburu kolektor luar negeri.

Ditemui di kediamannya yang asri di kawasan Sawojajar, Sadikin Pard sedang menghabiskan waktunya dengan bermain catur dengan beberapa rekannya. Sambil sesekali bercanda, ia asyik mengutak-atik pion catur menggunakan kedua kakinya.
‘’Beginilah aktivitas saya. Kalau sedang tidak melukis, biasanya bermain catur, merawat tanaman atau hewan peliharaan,’’ kata Sadikin.
Selain melakukan aktivitas tersebut, Sadikin juga menjadi pengajar lukis di beberapa sekolah, mengisi workshop dan menjadi dosen tamu di perguruan tinggi.
‘’Saya belajar melukis otodidak. Mulai suka melukis sejak di TK dan pernah menjadi juara lomba melukis. Kemudian terus terasah hingga menjadi pelukis profesional,’’ katanya.
Bergabungnya Sadikin di Association Mouth and Foot Painting Artist (AMFPA) tahun 1989, membuat kemampuan melukisnya semakin meningkat. Sadikin juga sudah keliling di beberapa benua. Baik Asia maupun Eropa dalam kegiatan AMFPA.
AMFPA adalah organiasasi komersil para pelukis yang menggunakan mulut atau kaki. Di Indonesia, anggota AMFPA sembilan orang. Setiap tahunnya, para anggota mengirimkan hasil karya mereka ke AMFPA di Swiss untuk diseleksi dan diterbitkan dalam kalender dan kartu pos. Para anggota akan mendapatkan royalti sesuai dengan karya yang ia setorkan dan penjualan produk yang mengunakan hasil karyanya.
‘’Untuk menjadi anggota, harus mengikuti seleksi. Syarat utamanya adalah melukis menggunakan mulut atau kaki dan dengan surat keterangan dokter. Karena terkadang ada yang bisa menggunakan tangan. Selain itu juga bisa berbahasa Inggris,’’ beber Sadikin kepada Malang Post.
Menurut ayah dua putra ini, melukis adalah jiwanya. Sehingga setiap hari ia menghabiskan banyak waktunya dengan melukis. ‘’Kalau melukis ukuran kecil, satu atau dua hari saya bisa melakukannya. Kalau ukuran besar agak lama,’’ kata alumni SMAK Santa Maria Malang itu.
Ditemani istri tercinta, Tini Chandra, Sadikin melakoni hidupnya sebagai pelukis profesional. Sebelum memutuskan untuk fokus menjadi pelukis, pria yang pernah berkuliah di jurusan Psikologi UMM ini, pernah menjadi sales alat-alat dapur dan usaha peternakan. Ketika ditanya berapa harga karya lukisannya, dengan malu-malu pria berambut gondrong ini pernah menjual lukisannya senilai Rp 30 juta. ‘’Ada yang membeli Rp 30 juta. Ada juga lukisan saya yang ditukar dengan sepeda motor yang kini dipakai anak saya,’’ ujarnya.
Meski dengan keterbatasannya, Sadikin tak pernah patah semangat dalam melukis. ‘’Sejak sekolah saya tidak pernah mendapat perlakuan diskriminasi. Semua teman-teman memberi motivasi hingga saya bisa seperti ini,’’ urainya.
Sempat tidak diterima masuk Institut Seni Indonesia (ISI), Sadikin memilih jurusan psikologi UMM, sayangnyam ketika semester 8 ia memutuskan untuk tidak melanjutkan skripsinya karena sibuk dengan aktivitas melukisnya. ‘’Sebenarnya sayang, tinggal sedikit lagi. Tetapi ilmu di psikologi membantu saya terutama dalam memilih komposisi warna,’’ jelasnya.
Dalam berkarya, Sadikin banyak melukis realis seperti pemandangan alam, hewan, dan melukis wajah orang. Berbahan cat minyak dan cat aklirik, alumni YPAC itu terus menebar semangat melalui karya-karyanya.
Sadikin dan beberapa pelukis lainnya berencana melaunching buku mengenai lukisan. ‘’Bukunya sedang dalam tahap persiapan, secepatnya kan dirilis. Buku ini berisi mengenai melukis tanpa menggunakan teori. Apa yang ingin dilukis, ya dilukis saja. Tidak perlu ada teori-teori,’’ jelasnya.
Akhir tahun ini, rencananya Sadikin akan menggelar pameran tunggal di Jakarta. ‘’Kalau tanggal pastinya belum tahu. Sekitar Nopember-Desember akan digelar di Hotel Sahid Jakarta,’’ katanya.
Ia menambahkan, untuk persiapan pameran tunggal tidak seperti saat menggelar pameran bersama. ‘’Biayanya lebih banyak, persiapannya juga lebih matang karena pembiayaannya ditangung sendiri. Tetapi saya bersyukur ada kolektor lukisan saya yang membantu persiapan pameran nanti,’’ katanya.
Mengenai lukisan yang akan dipamerkan, Sadikin telah menyiapkan 75 karya terbaiknya. ‘’Sudah jadi semua, hanya tinggal memasang pigura dan mengirimnya ke Jakarta,’’ katanya.
Sadikin berharap, orang-orang yang memiliki keterbatasan seperti dirinya dapat terus berkarya . ‘’Tetap semangat dan percaya diri, tidak ada yang diciptakan Tuhan sia-sia,’’ pungkasnya. (winin maulidya saffanah)