Dukun Bayi Diberi Beasiswa, Hampir Frustasi di Australia

Guru Besar Ilmu Statistika yang Menggeluti Dunia Bidan
DUNIA Bidan yang identik dengan ibu hamil, sejak beberapa tahun terakhir, mulai akrab dengan kehidupan Prof Dr Ir Waego Hadi Nugroho. Guru Besar Ilmu Statistika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya (UB) ini pun, kini tak lagi hanya berkutat dengan data statistik atau pun program komputer saja. Tapi juga memikirkan masalah kesehatan Ibu dan Anak. Jabatan sebagai Presiden Komisaris Wira Husada Nusantara (WHN) kini diemban lulusan cumlaude Fakultas Pertanian UB Malang ini.
Pemikirannya kritis, lugas, penuh makna dan sosoknya bersahaja. Mantan penerima beasiswa Supersemar, yang sering diundang manca negara untuk tampil dalam forum-forum ilmiah kaliber internasional ini, sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Kepala Pusat Komputer UB.
Menempuh sarjana di jurusan tanah, kemudian melanjutkan doktor bidang statistika hingga meraih gelar guru besar tetap dalam ilmu Statistika, dan kini mendedikasikan diri untuk ibu hamil.
Pendiri Statistical ASEAN Network Meeting ini jatuh cinta dengan dunia bidan, bukan tiba-tiba saja. Sebuah keinginan kuat dalam dirinya adalah sebuah harapan agar bidan tidak dipandang sebelah mata.
’’Selama ini stigma negatif banyak dibebankan pada bidan. Kalau ada masalah dalam sebuah proses kelahiran, selalu saja bidan yang disalahkan,’’ ungkapnya.
Keinginannya untuk berkontribusi pada dunia kesehatan, berawal dari pertemuannya dengan seorang kepala BPSDM Kesehatan beberapa tahun silam. Saat itu, ia menyadari bahwa Indonesia masih sangat membutuhkan banyak tenaga kesehatan. Mulai dari dokter, bidan, perawat maupun fisioterapi.
Baginya, memilih usaha itu tidak harus terpaku pada keahlian yang dimiliki. Terpenting adalah bisa memenuhi keinginan pasar. Karena itulah pada tahun 2005 lalu, Akademi Kebidanan mulai didirikannya. Ia dibantu putri keduanya, Donna Dwinita Adelia, mulai menjalankan kesibukan barunya itu. Disamping tentu saja kewajibannya sebagai dosen di FMIPA UB juga tetap dijalani.
Semangat besarnya saat itu, bisa merangkul para bidan senior yang belum berijazah D3. Karena ternyata banyak bidan yang sudah lama praktik namun belum memiliki ijazah diploma.
Saat itu, butuh perjuangan keras baginya untuk meyakinkan bidan untuk mau belajar dan mendapatkan gelar. Karena itulah berbagai terobosan pun digagasnya. Misalnya, memberikan beasiswa bagi anak bidan, atau dukun bayi untuk bisa kuliah di Akbid WHN yang dipimpinnya.
Berperan di luar keahliannya, sebenarnya sudah dilakoni Waego sejak masih muda. Ceritanya, setelah meraih gelar insinyur dari Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UB, Waego diamanahi menjadi dosen di UB.
Namun bukan di jurusan tanah, melainkan di jurusan statistik FMIPA. Sebab pada saat itu dosen statistik UB kurang jumlahnya. Sementara Waego dipandang memiliki kemampuan lebih di bidang statistik.
Pada tahun 1981, Waego terbang ke Australia untuk belajar doktor bidang statistik. Dia memperoleh beasiswa dari International Development Programme (IDP) yang berkantor pusat di Canberra, Australia selama lima tahun. Waego mengambil program doktor di Adelaide University Australia.
Pada awalnya, ia merasa tidak percaya diri untuk menempuh gelar doktor bidang statistik. Sebab memang ia adalah seorang sarjana ilmu tanah. Apalagi sebelum mengikuti gelar doktor ia harus melalui proses penyetaraan selama dua tahun.
’’Waktu mengikuti program kualifikasi itu, aduh, sulitnya setengah mati. Hampir saja saya frustrasi. Apalagi yang saya tempuh itu jurusan statistik. Sedangkan ilmu yang saya tekuni sebelumnya adalah pertanian,’’ ujarnya.
Namun dengan tekun ia berupaya menghadapi tantangan itu. Belajar keras, ibadah dan berdoa dilakukannya. Akhirnya ia pun sukses mengantongi nilai A untuk lima mata kuliah pada tahun pertama.
Kerja keras dan pantang menyerah memang sudah melekat pada sosok Waego. Waego adalah anak petani dari Desa Nimbang, Kabupaten Lamongan. Tak pernah terbayangkan sebelumnya pada benak Waego Kecil bisa menempuh pendidikan tinggi apalagi sekolah di luar negeri.
Berkat kerja keras, sukses dalam studi pun diraihnya. Setahun setelah menyandang predikat mahasiswa, dia memeroleh prestasi terbaik di fakultasnya dan dinobatkan sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Fakultas. Sejak itu dia dibebaskan dari kewajiban membayar uang kuliah sampai lulus.
Tak hanya itu, Waego sukses menjadi mahasiswa yang lulus tercepat dari fakultasnya. Pada masa itu gelar insinyur paling cepat bisa diraih dalam waktu paling cepat lima tahun.  
Kalau pun ada yang menyelesaikannya tepat dalam tempo lima tahun, itu tergolong langka. Namun Waego berhasil menggores sejarah baru di fakultasnya,  ia lulus hanya dalam waktu empat setengah tahun dengan predikat cumlaude dengan IPK 3,98. (lailatul rosida)