Langganan Menteri Hingga Keluarga Cendana

KEAHLIANNYA sebagai terapis sengatan lebah membawanya hingga masuk ke Istana Negara era Presiden Soeharto. Tidak hanya presiden dan keluarganya, Jasimun (82) ahli terapis sengatan lebah asal Tumpang juga menjadi langganan para menteri untuk disengat hewan yang mengeluarkan madu itu.

Kecamatan Tumpang rencananya akan dijadikan sebagai sentra lebah di Jawa Timur. Beberapa desanya sudah banyak yang beternak lebah untuk diambil madunya. Selain beternak lebah, di Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang ada terapis sengatan lebah yang sudah melanglang buana hingga dipercaya keluarga Cendana, Presiden Soeharto dan para menteri.
Jasimun (82) warga RT. 13 RW. 01 No. 81 Desa Tulus Besar, Kecamatan Tumpang tampak bersahaja. Sosoknya yang sederhana sudah banyak dikenal warga di Tumpang. Guratan wajahnya yang susah banyak lipatan masih tetap semangat untuk mengenalkan terapi sengatan lebah kepada mereka yang berminat.
Kemampuannya sebagai terapis sengatan lebah sudah banyak kesohor sampai terdengar dilingkungan istana negara era zaman Soeharto. Beberapa tahun lalu, Jasimun banyak membuka praktik sengat lebah di beberapa kota besar, tidak hanya di Tumpang saja, seperti di Jakarta, Surabaya, Bandung dan daerah lainnya.
“Bahkan, saya sampai dibikinkan tempat di Jakarta oleh pembesar untuk praktik di Jakarta di Jakarta Pusat tepatnya di Tanah Abang. Mereka hanya mau di terapi langsung dengan tangan saya sendiri,” kata Jasimun kepada Malang Post.
Kali pertama masuk ke Istana, dia dibawa anaknya yang juga anggota Paspampres untuk membantu mengobati komandannya yang sakit. Keahlian itu pun terdengar Presiden Soeharto. Jasimun diminta untuk melakukan terapi sengat lebah baik kepada Soeharto dan Ibu Tien.
Terapi yang dilakukannya cukup manjur. Terbukti hasilnya dapat membantu penyembuhan penyakit yang diderita pasiennya. Tidak hanya keluarga Cendana, para pejabat dan kalangan menteri saat itupun banyak yang memintanya untuk diterapi sengat lebah. Lebah yang digunakannya jenis lokal atau Apis Indika. Terapi sengat lebah yang lebih dikenal sebagai apipunktur  salah satu bentuk modifikasi akupuntur yang populer di dunia, dengan menggunakan jarum sengatan lebah madu.“Ada 82 jenis penyakit yang dapat dibantu dengan terapi sengat lebah, asalkan tidak penyakit patah tulang. Penyakit-penyakit kronis dan berat dapat dibantu penyembuhannya dengan sengat lebah,” terangnya.
Keahliannya terapi sengat lebah tidak datang begitu saja. Dia mempelajarinya sejak tahun 1974 lalu. Saat itu, dia diajak Perhutani untuk belajar terapi sengat lebah di KPH Semarang. Sejak tahun 1975, dia sudah mulai mempraktikkan kemampuannya dalam terapi sengat lebah hingga saat ini. Titik yang digunakan untuk sengatan lebah ini  hampir sama dengan titik akupunktur yaitu pada titik meridian. Dalam mengobati pasien, sengatan lebah diberikan secara bertahap, tergantung dari tingkat penyakit dan kondisi pasien. Uniknya, sengatan lebah itu tidak menyebabkan pembengkakan atau demam.
“Berapa kali sengatan tergantung dari penyakit dan kondisi si pasien. Ada yang cukup satu kali, ada juga yang harus sampai tiga kali sengatan. Alhamdulillah, selama ini sudah banyak yang terbantu dengan terapi ini,” ungkapnya.
Jasimun pun banyak mempelajari tentang lebah dan madu. Apalagi, lebah memiliki keistimewaan bagi umat Islam dengan adanya surat An Nahl dalam Al Quran yang menjelaskan keistimewaan lebah. Dia yakin, jika manusia mau meniru lebah tidak akan ada pengangguran karena setiap pagi lebah selalu mencari makan. Mereka makan sari bunga yang dibawa pulang menghasilkan madu. “Banyak filosofi dari lebah yang dapat ditiru manusia,” terangnya.
Kini, Jasimun sudah tidak lagi muda. Dia memutuskan tinggal di Desa Tulus Besar untuk menikmati masa tuanya. Dia tidak lagi membuka praktik diluar daerah, Dia masih tetap membuka praktik terapi sengat lebah di rumahnya untuk membantu mereka yang terkena penyakit berat seperti diabetes, rematik, darah tinggi dan lainnya.
Keahliannya dalam terapi sengat lebah pun bakal diajarkan kepada warga. Rencananya akan difasilitasi dewan pakar lebah Indonesia dan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya  yang akan mengembangkan Kecamatan Tumpang sebagai sentra lebah Jawa Timur. (muhaimin)