Penyandang Cacat yang Aktivis dan Sukses Jadi Pengusaha

Tolak Pakai Kaki Palsu, di Pasar Pernah Dikira Pengemis

SIAPA bilang orang cacat tidak bisa berkarya. Ahmad Shodiq, warga Pesanggrahan Mangunrejo Kepanjen ini contohnya. Kondisi fisiknya cacat, karena tidak memiliki kaki kanan dan cacat pada jari tangan kanan sejak lahir, pria 42 tahun ini mampu membuktikan bisa melebihi orang normal. Buktinya, dia sukses menjadi pengusaha kerupuk, termasuk aktif dibeberapa lembaga kemasyarakatan.

Senin kemarin, dunia memperingati sebagai hari Difable Internasional. Tapi tidak semua penyandang cacat ikut merayakan. Salah satunya Ahmad Shodiq. Dia memilih menyibukkan diri untuk bekerja.
Menggunakan motor Suzuki Shogun yang sudah dimodifikasi, termasuk memberi gerobak, dia sibuk mengirim kerupuk. Warung dan toko-toko di wilayah Kepanjen, sudah menunggu krupuk-krupuk tersebut.
Kerupuk rambak  merek AA itu, hasil produksinya sendiri. Bahan dasar kerupuk, didapat dari Jogajakarta. Bapak dua anak itu, tinggal memasak agar bisa dikonsumsi.
‘’Kalau bahan dasarnya, memang saya ambil dari Jogja. Saya hanya menggoreng dan mengemas, lalu dijual ke warung-warung. Nama AA sendiri, adalah singkatan dari kedua nama anak saya. Ahmad Maaruf Al Khirqi dan Abdurrahman Wahid Addakhil,’’ ungkap Ahmad Shodiq.
Di kawasan Kepanjen dan Malang Selatan, Kerupuk AA sudah banyak dikenal. Termasuk sudah dipasarkan ke luar kota. Seperti Blitar, Kota Malang dan Kota Batu.
Lantaran pesanan kian banyak, Shodiq sampai mengkaryakan ibu-ibu tetangganya dan para janda yang tidak bekerja. Sementara untuk menggoreng, masih dilakukan sendiri bersama sang istri, Umi Wahyu Lestari yang juga guru PAUD.
Menjadi pengusaha kerupuk, bukan pekerjaan pertama bagi Shodiq. Dia pernah membuka warung makanan, setelah memutuskan keluar dari Universitas Muhammadiyah Malang.
Shodiq hanya bertahan dua tahun menjadi mahasiswa. ‘’Saya keluar karena terus diancam, karena sering demo. Mulai demo SDSB serta penolakan penggusuran kendaraan bemo menjadi angkot,’’ katanya.
Dari membuka warung itu, Shodiq bisa membiayai kuliah keempat adiknya hingga lulus sarjana dan menjadi orang sukses. Tiga adiknya menjadi PNS dan satu berwirausaha di Tulungagung.
Sayangnya warung itu hanya bertahan 10 tahun. Shodiq menutup karena dia merasa banyak orang iri dan persaingan sudah tidak sehat. Dia memutuskan menutup warung dan beternak lele.
‘’Tetapi hanya berlangsung beberapa tahun, akhirnya saya membuka usaha kerupuk rambak ini sampai sekarang,’’ ujar Shodiq.
Tidak hanya gigih berusaha, Shodiq juga aktif di beberapa lembaga kemasyarakatan. Dia menjadi pembina P3L (Program Pemuda Peduli Lingkungan) di Desa Mangunrejo, Kepanjen, sejak 5 tahun lalu. Dimana program yang dijalankan adalah melakukan kerja bhakti lingkungan, serta memberi santunan kepada anak-anak yatim piatu.
Shodiq juga menjadi koordinator PNPM Perkotaan di desanya, dengan memiliki 13 anggota sejak 2009 lalu. ‘’Prgram kerja dari PNPM Perkotaan ini diantaranya bedah rumah, perbaikan drainase dan perbaikan jalan,’’ katanya.
Baru-baru ini, dia didapuk sebagai kader lingkungan Kabupaten Malang 2012. Jabatannya Komandan Kompi Pucuk (Danpicuk) Kepanjen, yang memiliki 12 anggota.
‘’Kerjanya yaitu membina Bank Sampah dan memberi penyuluhan lingkungan Kabupaten Malang,’’ papar Shodiq sembari mengatakan bahwa dirinya adalah perintis Bank Sampah di desanya.
Pria bertubuh tambun ini sama sekali tidak minder dengan kondisi tubuhnya. Sejak kecil, Shodiq justru ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu melebihi kelebihan orang normal.
Itu dibuktikan, ketika sekolah di MIN NU Jatirejoyoso Kepanjen, dia selalu menjadi ketua kelas. Melanjutan sekolah MTs Pasuruan dan MA Negeri Malang I, selalu ditunjuk sebagai ketuas OSIS.
‘’Terus terang, saya tidak ada masalah dengan fisik saya. Ini adalah anugerah dan saya justru lebih bersyukur, karena masih banyak orang normal yang nganggur tidak mempunyai pekerjaan dan tidak dipakai di masyarakat,’’ jelasnya.
Hanya yang pernah membuatnya sakit hati sampai dirinya marah, ketika dirinya pergi ke Pasar Kepanjen untuk berbelanja. Ketika dia berdiri di depan toko, oleh pemilik toko diberi uang koin Rp 100.
‘’Saat itu saya dikira pengemis. Padahal saya ingin berbelanja. Saya marah pada pemilik toko dan bilang berapa harga tokonya akan saya beli,’’ ceritanya sembari tertawa.
Apakah tidak ada niatan memakai kaki palsu? ‘’Untuk kaki palsu, saya tidak setuju. Kalau memakai kaki palsu, justru membohongi diri saya sendiri dan orang lain. Saya tetap pakai egrang dan orang lain melihat saya apa adanya seperti ini,’’ tambahnya. (agung priyo)