Farhan Alif Daffa, ABG yang Ahli Tata Rias dan Make Up Artis

Saat anak seusianya, lebih aktif bermain bola atau video games, hobi tak lazim justru digandrungi Farhan Alif Daffa.  Tak seperti bocah lelaki kebanyakan, remaja 14 tahun itu justru bergelut dengan dunia make up artis. Dari sekadar hobi, kini bakatnya berbuah prestasi fenomenal dan menghasilkan pemasukan.

TANGANNYA luwes menyapukan blush on pada wajah wanita paro baya yang duduk di hadapannya. Sorot matanya tajam, nyaris tak berkedip demi kesempurnaan riasan sang model. Tak berselang lama, wajah sang model telah sukses di-make over sehingga terlihat anggun rupawan.
Sejurus kemudian, Farhan sudah mulai bisa tersenyum. Keseriusannya telah luluh tergantikan kepuasan pasca mendandani sang model yang tak lain adalah ibunya sendiri.
‘’Kalau sudah mulai merias, saya memang sangat memperhatikan detail dan kesempurnaan. Jadi benar-benar konsentrasi seperti tadi. Nah, ini mam (panggilan ibu) saya sendiri yang jadi model. Untuk latihan, siapapun di rumah ini saya jadikan model,’’ serunya ramah membuka perbincangan dengan Malang Post.
Seni tata rias bukan hal baru lagi bagi siswa kelas XI SMPN 3 Malang itu. Alumni MIN Malang 1 itu mengaku mulai tertarik menggeluti make up artist sejak duduk di bangku kelas V SD. ‘’Awalnya, tertarik saat melihat orang yang sedang merias di pernikahan kerabat saya. Dari situ mulai sering baca-baca buku soal teknik make up dan menonton VCD tentang merias wajah. Akhirnya, saya belajar otodidak,’’ kenang ABG yang mengaku mewarisi bakat merias dari sang nenek tersebut.
Gayung bersambut, pada suatu kesempatan kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, Farhan menyanggupi menjadi perias teman-temannya sendiri.
‘’Waktu itu, sekolah ikut lomba teater se-Kota Malang. Lalu saya menyanggupi untuk mendandani teman-teman. Awalnya kakak kelas saya ragu-ragu. Tapi, saya serius siapkan semuanya mulai make up sampai pakaian. Eh, ternyata tim kami dapat Juara II,’’ beber pengidola make up artist kenamaan, Daday Khogidar itu.
Dari situlah, bakat sulung dari dua bersaudara itu akhirnya kian terasah. Karena tiap perhelatan even bergengsi, pihak sekolah selalu mempercayakan tugas koordinator make up artist kepada Farhan. Yang didandani pun jumlahnya bukan satu atau dua orang, tapi hingga 20 orang. Semuanya ditelateni pelajar kelahiran 5 Oktober 1998 itu sendirian.
Tak hanya sekadar mengurusi make up teman-teman atau kerabatnya sendiri, potensi luar biasa remaja berzodiak Libra itu semakin terlihat lewat prestasi nyata.
Setelah mengantar modelnya menjadi Juara II kelompok di ajang Festival Ken Dedes 2011, tahun ini Farhan mengukuhkan konsistensinya dengan mempersembahkan gelar jawara perorangan serta grup dalam even tahunan yang sama.
Tak heran bila kemudian job-job make up artist di sejumlah even menghampiri penggemar desainer kondang Anna Avantie ini. ‘’Kalau dapat uang dari dunia ini (make up artist), ya untuk saya belanjakan keperluan merias. Seperti beli aksesoris yang belum saya miliki. Atau beli buku-buku referensi,’’ tutur seniman cilik yang menilai riasan Paes Ageng Jogja memiliki tingkat kerumitan tinggi dibanding riasan lain.
Seolah terus berusaha mengembangkan bakatnya, saat ini Farhan mengaku tengah mengasah kemampuannya merancang busana. Saat Malang Post berkunjung kediamannya di kawasan Madyopuro, dia memamerkan sejumlah sket desain hasil gambarannya sendiri. ‘’Saya masih terus belajar. Jadi sekarang coba-coba dulu,’’ tukas pelajar yang juga jago menari Jawa tersebut.
Lantas, tak khawatir kah Farhan dengan anggapan miring sebagian orang karena dunia make up lebih identik dengan perempuan? ‘’Kalau saya sih santai. Ini memang hobi saya dan teman-teman juga sudah tahu,’’ jawabnya santai.
Bahkan orang tuanya pun sangat mendukung bakat istimewa yang dimiliki sang putra. ‘’Farhan ini memang sudah beda kesukaannya sejak kecil. Asal dia bisa manage dengan baik, kami pun sudah selayaknya mensupport. Padahal kami berharap suatu hari dia meneruskan bisnis bapaknya,’’ tandas sang ibunda, Dian Mufita.
Usaha yang dijalankan keluarga Ganif Triyoko, sang ayah, jelas jauh dari dunia make up artist. Karena bisnis yang dijalankan berhubungan dengan dunia otomotif. Bahkan kediaman keluarga Farhan di Jalan Raya Ki Ageng Gribig menyatu dengan Bengkel Cat Koko yang dijalankan orangtuanya.
‘’Kalau sekarang tidak masalah. Tapi nanti memang kami arahkan untuk membuka EO (event organizer), jadi bukan sebagai perias,’’ lanjut sang ibu yang berencana menguliahkan Farhan ke Belanda usai lulus SMA nanti.
Sang bunda juga mengaku tak cemas bila sifat maskulin putra sulungnya terkontaminasi dengan jiwa feminin seperti biasa mengakrabi para make up artist laki-laki.
‘’Saya sempat tanya sama dia. Kalau lihat cowok yang seperti itu (kewanita-wanitaan) bagaimana.. Farhan jawab tidak suka dan tidak mau seperti itu. Jadi saya tenang,’’ imbuhnya lantas tersenyum. (tommy yuda pamungkas)