Ingin Jadi Dokter, Setengah Penghasilan untuk Panti Asuhan,

Khadijah Azzahra, ABG Pemilik Butik dan Perancang Busana
KEGIATAN anak muda jaman sekarang, mungkin banyak dihabiskan dengan jalan-jalan, shopping, atau sekadar kumpul dengan teman. Namun tidak bagi gadis berjilbab bernama Khadijah Azzahra Amira Bachtiar Effendi ini. Meski usianya masih terbilang muda, namun ia berhasil mewujudkan satu mimpi diantara sejuta mimpinya.
Ketika Malang Post mengunjungi butik Kokha, di kawasan Pasar Comboran, gadis cantik ini tampak serius mempelajari buku pelajaran yang dipegangnya. Bukan untuk menjaga butik milik teman atau saudaranya, tapi ini adalah butik miliknya sendiri. Butik ini merupakan wujud serius Zahra, yang hobi mendesain pakaian, terutama gaun pesta.
Usai mempersilahkan Malang Post duduk, Zahra mulai memceritakan tentang alasannya membuka butik yang merupakan salah satu mimpinya sejak dulu.
Zahra pada usia SMP, memang sudah lihai dalam menggambar terutama untuk desain pakaian. Kegiatannya yang bergelut dengan dunia modeling, juga membuatnya terusik untuk mengaplikasikan gambar tersebut menjadi sebuah gaun yang nyata. Diluar perkiraan, banyak teman-teman model yang menyukai desain Zahra.
Perlahan tapi pasti, Zahra mulai iseng untuk terus mengaplikasikan desain-desainnya menjadi sebuah pakaian yang cantik. Sejak saat itu, timbullah keinginannya untuk bisa membuka usaha pakaian sendiri. Mungkin banyak orang berpikiran bahwa Zahra membuka butik tersebut berkat dana dari orangtua.
Namun semua hal tersebut ternyata tidak benar. Dengan sedikit malu-malu, gadis kelahiran Malang, 24 September 1996 ini mengatakan bahwa ia membuka butik bernama Kokha ini dengan kocek pribadinya.
‘’Sejak SMP, aku kan sudah ikut dunia model dan pemotretan. Dari situ uangnya selalu aku bagi, setengah untuk anak panti asuhan, seperempat untuk umi (ibunda Zahra.red) dan seperempat lagi untuk tabungan aku,’’ terang Zahra.
Dari hasil seperempat bagian itulah, yang kini coba Zahra wujudkan menjadi butik yang berada di Jl. Halmahera 9B Malang. Putri Jilbab Indonesia Nurani 2010 ini menjelaskan mengapa dia memilih setengah penghasilannya tersebut ia sumbangkan kepada anak yatim, karena ia yakin itu adalah bentuk nyata transaksi seorang manusia dengan Allah.
‘’Sedekah itu tidak membuat kita miskin. Justru membuat kita semakin bahagia dan selalu ada jalan. Hal itu yang saya rasakan ketika membuka butik ini,’’ celotehnya.
Zahra harus mengeluarkan dana sebesar Rp 80 juta untuk bisa membuka butik yang kini untuk mananjemennya masih dibantu oleh ibundanya tersebut.
Meski tidak dibantu orangtua dari segi uang sewa dan pendirian butik ini, gadis yang juga meraih gelar sebagai Putri Kartini Malang Post 2012 ini tetap mendapat dukungan orantua, terutama dalam hal manajemen butik. Zahra juga masih harus berkonsentrasi dengan studinya.
‘’Meski tidak membantu dalam hal finansial. Namun Umi sudah mengorbankan segalanya untuk aku. Mulai dari waktu, tenaga dan pikiran karena ini semua yang mengatur Umi. Tak hanya itu, Umi juga terus mensupport aku dalam segala hal,’’ imbuh gadis kelas XI Olimpiade Class SMAN 5 Malang ini.
Desain pakaian Zahra memang untuk kalangan wanita berjilbab. Untuk bahan yang digunakan pun, Zahra mencoba memadukan kain batik dengan kain sifon atau satin, sehingga menghasilkan gaun yang cantik dan terlihat mewah. ‘’Aku mencoba membuat kain yang terlihat biasa saja menjadi sebuah pakaian yang mewah, glamor dan anggun untuk pemakainnya,’’ papar Zahra.
Gadis yang memang terkenal kreatif ini juga mencoba memadukan dengan hiasan payet yang membuat gaun malam yang Zahra buat menjadi lebi terlihat mewah. ‘’Dengan membuat pakaian yang bagus dan orang suka, kita kan juga ikut senang,’’ selorohnya sambil tersenyum.
Tak hanya gaun saja, saat ini Zahra juga dipercaya oleh seorang temannya untuk membuat baju pengantin. Meski orangtua temannya sempat tidak percaya, namun setelah melihat hasil karya Zahra, barulah orangtua temannya tersebut percaya akan baju yang dibuat anak perempuan dari pasangan Bachtiar Effendi dan Ika Yuni W ini. ‘’Sempar deg-degan juga, tapi bersyukur mereka percaya sama saya. Saya hanya berdoa saja,’’ terangnya.
Dengan adanya butik ini, Putri Kendedes Kota Malang 2011 ini memiliki tanggung jawab baru untuk mengelola usahanya ini. Dengan penuh semangat, saat ia pulang sekolah gadis yang bercita-cita menjadi dokter ini selalu membawa buku pelajaran sambil menjaga butik.
‘’Aku kan tidak hanya ingin menjadi seorang dokter saja. Tetapi juga dokter yang bisa mendesain pakaian. Pasti akan sangat keren sekali,’’ ucapnya bersemangat.
Demi menggapai sejuta mimpinya tersebut, Zahra memiliki motto bahwa jika kita memiliki mimpi, maka kita harus berusaha dan berdoa untuk bisa mewujudkannya.
‘’Karena kalau kita sudah berusaha dan berdoa, tinggal kita pasrahkan saja sama Allah, Insya Allah selalu ada jalan,’’ pungkasnya sumringah. (titah mranani)