Bukan Tarian Anak Jalanan, Runtuhkan Dominasi Sexy Dance

Philip ‘Dede’ Dethan, Pembawa Hip Hop Dance di Kota Malang

Tarian Gangnam Style, sudah dikenal hampir semua orang. Ternyata, masih ada jenis tarian lain dari manca negara, yang juga mulai digemari. Terutama oleh para dancer di Malang. Namanya Hip Hop Dance. Tarian yang popular di kalangan Afro-Amerika ini, mulai mendapatkan tempat di anak-anak muda.

Nama Philip Dethan, mungkin terdengar asing. Namun bila yang disebut adalah Dede, masyarakat terutama yang berasal dari kalangan dancer, pasti mengenalnya.
Pria yang beberapa kali didapuk menjadi juri dancer dalam even Malang Post ini, memiliki pengaruh besar di dunia dance, khususnya Hip Hop Dance.
Jabatannya sebagai Head Master Kafebox Hip Hop Dance Ministry semakin memperkuat langkahnya untuk mengkader bibit dancer di Malang. Terbukti dengan kelulusan delapan puluh anak didiknya yang dilangsungkan di MX Mall (30/11).
Namun kesuksesan yang ia raih ini bukan didapat secara instan. Pria kelahiran Kupang, 14 Desember 1987 ini harus melalui jalan yang sulit dan berliku.
‘’Ketika pertama kali saya datang ke Malang, saya melihat kota ini sebagai destinasi yang bagus untuk para dancer. Hanya saja, tarian yang mendominasi pada saat itu adalah sexy dance. Sama sekali tidak melibatkan laki-laki. Jadi menumbuhkan kesan pertama bahwa laki-laki juga bisa menari itu memang sulit awalnya,’’ ujar Dede.
Kurangnya edukasi mengenai Hip Hop Dance, juga membuat tarian ini dipandang sebelah mata. Beberapa masyarakat memiliki mindset tentang Hip Hip Dance yang dinilai sebagai tarian anak jalanan. ‘’Selain sudah didominasi oleh sexy dancer, tarian Hip Hop sendiri belum dikenal di Malang. Mereka hanya tahu kalau penari Hip Hop memiliki penampilan yang urakan dan menari sesuka hati. Padahal bagi yang sudah memahami hal tersebut, Hip Hop memiliki gerakan paten dan semua itu punya istilah,’’ imbuhnya.
Dunia dance bagi Dede bukan hal yang baru. Di tempat asalnya, Nusa Tenggara Timur, tarian semacam ini sudah sangat merakyat. Mulai dari anak kecil hingga dewasa membaur dalam tari.
‘’Kalau di Malang, ada banyak sekali band indie yang sangat menjamur. Sama halnya di NTT, di sana kami juga sangat menggemari tarian. Semua bisa menari dan memiliki gerakan badan yang luwes,’’ ungkap pria yang sudah lama menetap di Malang ini.
Bersama beberapa temannya, ia mencoba peruntungan untuk mulai aktif menari di Malang. ‘’Aku dulu nggak sendirian. Ada beberapa teman lagi yang ikut menari dari satu tempat ke tempat lain di Malang. Tapi melihat tanggapan masyarakat yang terkesan dingin dan tidak bisa menerima kehadiran kami, akhirnya teman-temanku lebih memiih pindah. Menuju kota yang mengakui eksistensi Hip Hop Dance,’’ kenangnya.
Dede bersikukuh untuk tetap tinggal di Malang. Ia ingin menunjukkan bahwa Malang bisa besar dan berkembang dengan adanya Hip Hop Dance.
Niat dan tekadnya yang kuat tersebut sangat kentara ketika ia mulai menceritakan dunia dance yang telah menyelamatkannya dari lembah hitam.
‘’Kalau ada yang bertanya, apakah dunia dance nggak mengganggu kuliahku, dengan tegas aku akan menjawab tidak. Justru dance yang membuatku kembali fokus pada kuliah. Aku yang dulu sangat jauh berbeda dengan saat ini. Emosi sangat tinggi, setiap hari kerjaannya nongkrong, nilai turun, dan lain-lain,’’ bebernya.
Ia menilai jika sebagian orang memilih menekuni dance karena hobi, Dede justru menganggap dance merupakan character building. ‘’Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari dance. Aku jadi bisa menahan ego melalui gerakan tari yang memang harus selaras dan kompak dengan dancer lain. Lalu karena kesibukan ini, waktu nongkrong di luar jadi berkurang. Saat ini waktuku terkelola dengan baik. Mulai dari menjadi pengajar dance, menyelesaikan kuliah, serta family time untuk istri dan anakku,’’ tandas Dede.
Orang yang juga berperan besar dalam hidup Dede adalah Obed Hariyono, salah satu owner Kafebox. Hanya bermodalkan kepercayaan, Obed menunjuk Dede untuk menjadi Kepala Sekolah di Kafebox.
‘’Saya mengenal Dede melalui temannya. Kebetulan saya mengambil kelas kardio dan yang mengajar adalah temannya tadi. Ia mengenalkan saya kepada Dede. Begitu melihat Dede, saya yakin dan percaya bahwa Dede memiliki tanggung jawab yang besar untuk melahirkan generasi penerus Hip Hop Dance di Malang,’’ tegasnya.
Usahanya tersebut berbuah manis. Selain 80 siswa yang ia bina di sekoalh dance tersebut, ia juga dipercaya menjadi pengajar ekstrakurikuler di beberapa sekolah di Malang.
‘’Puji Tuhan, semua yang aku lakukan selama ini tidak sia-sia. Perlahan masyarakat mulai menerima kehadiran Hip Hop Dance dan mulai tertarik untuk mempelajarinya lebih jauh,’’ tutup Dede. (Kurniatul Hidayah)