Kayamba, Singo Baru yang Jadi Papa di Dalam dan Luar Lapangan

Sejak mengenakan kostum Arema Indonesia, Keith Kayamba Gumbs sudah memperoleh respect dan rasa hormat dari pemain-pemain lain. Penghormatan itu bukan karena Kayamba telah berusia 40 tahun. Tetapi, profesionalitas, kepemimpinan dan teladan di lapangan membuat pemain menghormatinya, bahkan memanggil dengan sebutan, Papa.

Deras air hujan yang membasahi rumput Stadion Kanjuruhan, menyambut Keith Kayamba Gumbs, untuk menjalani latihan rutin, sore itu. Mendung langit Kepanjen, urung pergi dengan senyum cerah, selama Kayamba bersama anak-anak Singo Edan lainnya, melahap materi dari headcoach, Rahmad Darmawan (RD).
Namun demikian, sosok pemain tinggi dengan model potongan plontos, tetap antusias menjalani latihan. Sesekali, ia juga memberi semangat kepada para pemain lainnya, untuk tetap menjaga spirit berlatih. Di sisi lapangan, dua mata kecil tampak awas memperhatikan gerak-gerak Kayamba.
Kakinya yang menggantung karena duduk di bench pemain berayun-ayun, menikmati perilaku Kayamba. Rupanya, bocah berambut ikal keriting warna cokelat tersebut, adalah Nayaka Gumbs, putra pertama Kayamba. Sembari memegangi air minum yang terus dipeganginya, Nayaka cukup anteng dan senang melihat papanya bermain bola.
Saat jeda istirahat, Kayamba pun memanggil putranya untuk mendekat. ‘’Come here, go play the ball, (Kesini, cobalah bermain bola),’’ ujar pemain timnas St Kitts and Nevits.
Di atas sepatu bola berwarna hitam oranye yang membalut kaki kecilnya, kakak dari Tavian Shayan Gumbs tersebut mendekat dan berbincang dengan Kayamba dalam bahasa Inggris. ‘’I’m still drinking water, (saya masih minum air),’’ ucap Nayaka kepada papanya.
Rupanya, Kayamba memang sengaja mengajak putranya untuk menikmati suasana dan atmosfer lapangan di Kanjuruhan. Sebagai pria yang dikenal sebagai family man, tidak mengherankan bila suami dari Lauren Gumbs tersebut mengajak putranya untuk melihat latihan Arema.
Namun demikian, Kayamba tidak memaksa putra sulungnya mengikuti jejaknya sebagai pemain bola. ‘’No, I will not make him a soccer player, its up to him (saya tidak akan memaksanya jadi pemain boal, terserah dia saja),’’ ujarnya kepada Malang Post. Sebagai sosok papa, Kayamba memberi kebebasan penuh bagi putranya untuk berkembang sesuai bakat yang dimiliki.
Tapi, sosok kebapakan mantan bomber Sriwijaya FC, tak hanya terlihat di dalam keluarga kecilnya saja. Kayamba juga dikenal sebagai ‘papa’ dari pemain Arema lainnya, ketika di dalam lapangan. Dengan senioritas dan pengalaman segudangnya sebagai pemain profesional, tak heran Benny Wahyudi dkk menganggap Kayamba sebagai sosok pemimpin dan kapten.
Pemain bertinggi  178 sentimeter juga telah menjadi salah satu roh kepemimpinan di tubuh tim. Bahkan, hampir semua pemain memanggil Kayamba dengan sebutan ‘papa’.
Dipanggil dengan sebutan tersebut, eks punggawa Hull FC ini cukup bisa menerima. ‘’Saya tidak ada beban kalau dipanggil papa oleh pemain lain. Sampai saat ini pun, Nayaka belum mengerti, tapi saya pikir ia tidak ada masalah kalau papanya juga dipanggil papa oleh banyak pemain lain. Mungkin para pemain itu dianggap saudaranya,’’ ujar Kayamba sembari terkekeh.
Bagi mantan anggota skuad Palmeiras, panggilan papa dianggapnya sebagai bukti penghargaan para pemain lain terhadap dirinya. ‘’Saya sangat menghargai para pemain. Mereka juga menghormati saya. Tentu saja, saya kesini untuk merasakan atmosfer dan tantangan baru. Tapi juga mau bagi pengalaman buat pemain lain,’’ tambah Kayamba.
Punggawa Arema yang lain juga membenarkan, kerap kali memanggil pemain timnas dengan caps 131 penampilan dan 47 gol dengan sebutan papa. Salah satunya wing back kiri Yericho Christiantoko.
‘’Saya memanggil Kayamba dengan sebutan papa, karena memang dia  paling senior di tim dan memang dicontoh sama teman-teman yang lain juga,’’ ujar Yericho.
Menurut mantan pemain CS Vise Belgia tersebut, Kayamba bisa membimbing dan memimpin skuad Arema di dalam lapangan. Striker muda Arema, Reza Mustofa juga membenarkannya. ‘’Senioritas dan pengalaman Kayamba membuat kami memanggilnya papa,’’ tandasnya.
Dengan keberadaan seorang papa Kayamba di tengah Arema, bukan tak mungkin tim ini akan terus berkembang dan bertumbuh menjadi skuad yang semakin ditakuti.
Apalagi transfer pengalaman dari Kayamba kepada para pemain muda bisa menjadi bekal spesial untuk kesuksesan para pemain muda di masa depan. Karena itu, layak ditunggu kiprah ‘papa’ dan ‘anak-anaknya’ di kompetisi musim depan, demi meraih supremasi tertinggi yakni kampiun Indonesia Super League. (fino yudistira)